Platinum Jubilee dan Simbolisme Transisi Ratu Elizabeth II ke Pangeran Charles

Ilustrasi Perayaan Platinum Jubilee Ratu Elizabeth II di Istana Buckingham. Foto: Reuters

Sejak Kamis (2/6) kemarin, Kerajaan Inggris telah memulai perayaan Platinum Jubilee untuk merayakan tujuh dekade pemerintahan Ratu Elizabeth II atas negara tersebut. Perayaan tersebut dijadwalkan berlangsung selama empat hari hingga Minggu (5/6). Dilansir dari BBC, setidaknya ada enam agenda besar yang telah direncanakan dalam empat hari perayaan ini. Agenda tersebut meliputi Beacon Lighting Ceremony, Trooping the Colour and flypast di Istana Buckingham, Service of Thanksgiving di Katedral St. Paul, Pesta Platinum di Istana Buckingham yang mengundang Queen dan Diana Ross, Big Jubilee Lunch, serta parade yang disertai London Pageant, parade militer, parade boneka raksasa, dan penampilan dari Ed Sheeran. 

Jika dibandingkan dengan perayaan Jubilee sebelumnya, acara Platinum Jubilee tahun ini mungkin tidak jauh berbeda. Namun, perbedaan akan jelas nampak pada potensi ketidakhadiran Ratu Elizabeth II dalam beberapa rangkaian acara yang dibuat untuk menghormatinya. Prediksi absennya Ratu dalam acara-acara tersebut dikuatkan oleh Istana yang hanya menyatakan bahwa Ratu “berharap” dapat menghadiri berbagai upacara dan perayaan yang diadakan. 

Sejauh ini, Ratu telah menghadiri Beacon Lighting Ceremony dan Trooping the Colour  serta flypast di Istana Buckingham pada Kamis (02/06). Meskipun demikian, ia kemudian dikonfirmasi tidak akan menghadiri Service of Thanksgiving di Katedral St. Paul yang akan dilaksanakan hari ini. “Keputusan itu dibuat dengan keengganan besar setelah mempertimbangkan perjalanan dan aktivitas yang diperlukan (untuk datang),” kata perwakilan staff Buckingham. 

Setelah Service of Thanksgiving, sejatinya Ratu dijadwalkan untuk menghadiri derby atau acara pacuan kuda tahunan di arena Epson pada Sabtu (04/06). Namun hingga kini belum diketahui apakah Ratu dapat menghadirinya atau tidak. 

Bukan Ketidakhadiran Pertama 

Absennya Ratu Elizabeth II dalam Service of Thanksgiving dalam perayaan Jubilee kali ini bukanlah ketidakhadiran pertama Ratu dalam upacara ataupun undangan yang ditujukan pada keluarga kerajaan Inggris. Selama enam bulan terakhir, Ratu hampir tidak terlihat di depan umum sama sekali. Hal ini kiranya disebabkan oleh masalah mobilitas dan kondisinya yang menjadi mudah lelah pasca terpapar Covid-19 pada Februari lalu. 

Sebagai konsekuensi dari kondisi kesehatan Ratu ini, selama enam bulan terakhir, tiga upacara besar monarki–militer, keagamaan, dan konstitusional–telah dipimpin oleh Pangeran Charles dari Wales. Dalam Remembrance Sunday akhir tahun lalu misalnya, Pangeran Charles menjadi anggota paling senior dari Keluarga Kerajaan yang menghadiri perayaan di Cenotaph, London tersebut. 

Pangeran Charles juga telah memimpin Royal Maundy Service—salah satu upacara keagamaan kerajaan tertua di mana raja/ratu memberikan uang kepada yang membutuhkan—pada bulan April lalu. Di bulan selanjutnya, ia bahkan telah menghadiri Pembukaan Parlemen Negara atas nama Ratu. 

Akhir Suatu Era?

Hadirnya Pangeran Wales dalam berbagai kesempatan atas nama Ratu, terutama dalam kesempatan Jubilee ini dapat dianggap sebagai simbolisme perpisahan untuk tujuh dekade pelayanan publik Ratu kepada bangsa dan kehadirannya di acara-acara formal setiap tahun yang menandai ruang publik. Hal ini dinilai pula telah menandakan dimulainya transisi kekuasaan dengan cara yang “sangat Inggris.” 

Cara yang “sangat Inggris” ini terlihat dengan usaha Istana yang berusaha untuk tidak menarik perhatian pada pergeseran yang banyak terjadi di bawah radar. Cara ini telah diadaptasi selama bertahun-tahun oleh para ahli ahli strategi istana, termasuk para bangsawan sendiri, yang percaya bahwa cara terbaik untuk mempertahankan monarki Inggris adalah melalui proses adaptasi yang konstan dan hampir tidak terlihat.

Meskipun demikian, pergeseran ini nampaknya akan menemui beberapa tantangan, utamanya yang terkait dengan penerus Ratu, yakni Pangeran Charles. Sebab, hingga kini, sentimen masyarakat Inggris masih kental terhadap Pangeran yang dinilai tidak dapat meletakkan kesetiaannya, bahkan pada orang terdekatnya termasuk mendiang Putri Diana yang masih disayang oleh sebagian rakyat Inggris dan dirinya sendiri. Tak hanya itu, perceraiannya juga masih dianggap sebagai salah satu bentuk ketidakpatuhannya terhadap monarki. 

Setelah 70 tahun bertahta, akhir era Elizabeth II telah diperlihatkan dengan transisi sunyi kepada Pangeran Wales. Walau sorotan tak banyak diberikan, namun transisi ini pasti bukan tanpa halangan, apalagi jika menimbang sepak terjang Pangeran Charles yang masih kurang populer di antara masyarakat Inggris. Hal ini kemudian menambah tidak pasti masa depan monarki Inggris di era para republik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.