PLTN Terbesar di Eropa Kembali Dibombardir, PBB Khawatir Bencana Nuklir

Ilustrasi seorang penjaga dengan bendera Rusia di seragamnya sedang melakukan penjagaan di PLTN Zaporizhzhia. Foto: REUTERS/Alexander Ermochenko

Jumat (12/8), kembali terjadi shelling atau pembombardiran terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia. PLTN milik Ukraina tersebut telah jatuh ke dalam tangan Rusia sejak awal Juli. Kejadian ini menjadi pembombardiran untuk kedua kalinya terhadap PLTN Zaporizhzhia sejak dalam kurun waktu dua bulan ini. Pembombardiran ini kembali menyebabkan kekhawatiran internasional terhadap bencana nuklir, termasuk dari PBB.

Kondisi Bombardir Kedua

PLTN Zaporizhzhia sebelumnya telah sempat mengalami gempuran pada bulan Maret 2022 ketika PLTN ini diambil alih oleh pasukan Rusia. PLTN ini resmi menjadi wilayah Rusia pada bulan Juli. Pada awal bulan Agustus, bombardir yang bersumber dari peperangan Rusia-Ukraina mencapai daerah PLTN dan menyebabkan kerusakan di  beberapa perangkat penting PLTN.

Dalam hal ini, tidak diketahui siapa pihak yang bertanggungjawab atas pembombardiran tersebut. Rusia dan Ukraina saling menuduh satu sama lain atas pembombardiran yang dilakukan. Rusia menuduh Ukraina menggunakan artileri berat dan peluncur roket yang sengaja diarahkan kepada PLTN, sementara Ukraina menuduh operasi senjata Rusia yang dilakukan di sekitar PLTN menjadi alasan kerusakan terbesar.

Kedua tuduhan ini tidak dapat terbukti jika PLTN tidak diinvestigasi lebih lanjut. Akan tetapi, kondisi peperangan antara Rusia dan Ukraina membuat PBB dan pihak internasional tidak mampu masuk ke PLTN untuk menginvestigasi.

Potensi Bencana Lebih Parah dari Chernobyl

Kerusakan komponen dari fasilitas nuklir Zaporizhzhia memiliki potensi untuk menciptakan bencana selevel Chernobyl. PLTN Zaporizhzhia menampung 15 reaktor nuklir Ukraina dan keberadaan 15 reaktor tersebut menjadi sumber kengerian bagi dunia karena potensi bencana yang mampu melebihi bencana Chernobyl pada tahun 1986. Perlu diingat-ingat bahwa bencana Chernobyl dimulai dari adanya kerusakan kecil yang merembes ke reaktor nuklir lainnya.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa bencana di Zaporizhzhia akan menyebabkan kekacauan yang jauh lebih parah dari Chernobyl.

Walaupun begitu, beberapa ahli menyatakan bahwa kemungkinan bencana yang akan terjadi tidak akan separah Chernobyl. James Acton, wakil direktur dari program kebijakan nuklir di  Carnegie Endowment for International Peace menyatakan bahwa analogi yang lebih cocok adalah Fukushima dan bukan Chernobyl.

Diperkirakan bahwa dengan sistem keamanan yang telah ada di Zaporizhzhia, kemungkinan terburuk adalah jika sistem pendingin mengalami kerusakan yang menyebabkan bencana di radius 30 kilometer.

Ia menyatakan bahwa tragedi tersebut akan sangat mempengaruhi penduduk lokal, tetapi tidak akan mempengaruhi Eropa secara luas.

John Erath, direktur kebijakan senior di Center for Arms Control and Non-Proliferation menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina sama-sama memanfaatkan dan melebih-lebihkan kondisi PLTN untuk menciptakan perhatian.

Ia menilai bahwa Rusia berusaha menggunakannya untuk menggambarkan bahwa perlindungan militer terhadap PLTN Zaporizhzhia amat diperlukan dan dijadikan sebagai alasan pengintensifikasian operasi militer. Di satu sisi, Rusia mungkin memanfaatkan kondisi PLTN sebagai ancaman terhadap negara lain agar tidak terlibat dalam peperangan. Ukraina di sisi lain, ingin membentuk simpati publik akan kemungkinan bencana yang masif.

Peringatan Internasional

Sekjen PBB Antonio Guterres mengecam keras pertarungan berlanjut yang terjadi di sekitar PLTN. Ia mendorong adanya demiliterisasi PLTN Zaporizhzhia secepatnya.  

“Fasilitas tersebut tidak boleh digunakan sebagai bagian operasi militer. Melainkan, pengaturan amat dibutuhkan pada level teknis dan adanya demiliterisasi dalam perimeter yang aman untuk memastikan keamanan area tersebut.” sebut Guterres dalam pernyataannya.

Ketua Divisi Nuklir dari Dewan Keamanan PBB, Rafael Grossi, telah menyatakan bahwa ia akan memimpin investigasi itu sendiri jika ia benar-benar dapat mengunjungi Zaporizhzhia. Akan tetapi, ia masih belum memberikan waktu yang lebih jelas mengenai kemungkinan kehadirannya.

Grossi menyatakan pada hari kamis lalu bahwa ia akan mendorong agar delegasi International Atomic Energy Agency (IAEA) dapat melakukan investigasi ke Zaporizhzhia secepatnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan kualitas reaktor nuklir yang ada di PLTN demi mencegah bencana yang mungkin hadir.

Yevhen Balytskyy, pemimpin daerah Zaporizhzhia, menyatakan bahwa mereka akan menerima dan memastikan keamanan delegasi IAEA jika mereka ingin melakukan investigasi. Ia menyatakan bahwa kendaraan berlapis baja telah disiapkan untuk tamu internasional yang ingin hadir.

Ketidakjelasan dan bahaya masih melingkupi pembombardiran PLTN Zaporizhzhia hingga kini. Padahal, fasilitas nuklir perlu menjadi perhatian khusus dalam perang. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah bencana nuklir, terlebih lagi dengan potensi yang amat besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.