Propaganda Politik Rusia terhadap Volodymyr Zelenskyy pada Pemilu Presiden Ukraina 2019

Illustrasi Presiden Putin dan Presiden Zelenskyy. Foto: infosannio.com

Pendahuluan

Sebagai negara yang berdaulat di perbatasan kawasan Eurasia-Eropa, Ukraina mengalami dua macam masalah dalam agenda neoimperialis Rusia. Pertama, konflik berkepanjangan dengan Rusia sejak April 2014, sebulan setelah aneksasi Krimea oleh Rusia. Kedua, Krisis Ukraina yang diakibatkan oleh rivalitas geopolitik dan kompetisi antara Eurasian Economic Union (EAEU)—dengan gagasan integrasi Eurasia yang dibawa Rusia—dengan Uni Eropa (UE) (Lapenko, 2014). Konflik Ukraina-Rusia membuat beberapa penduduk Ukraina menjadi pro Rusia dan/atau separatis. Di tengah kedua masalah itu, Ukraina melaksanakan Pemilihan umum (Pemilu) Presiden tahun 2019 yang dipengaruhi oleh Rusia dan masyarakat Ukraina pro Rusia dalam agenda perang hybrid. Pengaruh tersebut dilancarkan melalui propaganda politik untuk melemahkan, Volodymyr Zelenskyy, kandidat yang paling berpotensi dalam menumbuhkan keteguhan bagi masyarakat Ukraina dengan gagasan-gagasan yang condong kepada negara-negara Barat (Amerika Serikat (AS) dan EU) (Drach, 2020: 41). Oleh karena itu, artikel ini akan menjawab pertanyaan mengenai bagaimana Rusia melakukan propaganda politik pada Pemilu Presiden Ukraina 2019 terhadap Zelenskyy agar terhindar dari wacana hubungan Ukraina dengan negara-negara Barat. Analisis akan dimulai dengan pembahasan konsep propaganda, identifikasi kepentingan Rusia di Ukraina, dan propaganda Rusia terhadap Zelenskyy pada Pemilu Presiden Ukraina 2019.

Kerangka Analisis: Propaganda

Buku yang ditulis oleh Randal Marlin dengan judul “Extrimist Propaganda in Social Media” mendefinisikan propaganda sebagai upaya terorganisasi/sistematis melalui komunikasi untuk menyebarkan dan mempengaruhi pendapat orang lain, atau menanamkan sikap kepada khalayak umum dengan cara menghindari atau menekan penilaian individu yang cukup informatif; rasional; dan reflektif (2013: 12). Propaganda tidak mensyaratkan keakuratan informasi dalam pendapat/narasi yang disebarkan sehingga penggunaan disinformasi tidak selalu merupakan instrumen propaganda, tetapi propaganda membutuhkan pengaturan struktur kontekstual agar menimbulkan pengaruh lebih (Erbschloe, 2019: xvii; Marlin, 2013). Dalam buku “Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan dan Media” karya Dan Nimmo (2002), terdapat tujuh teknik propaganda dengan kombinasi kata yang membentuk narasi untuk tujuan persuasif: 1) name calling, pemberian label buruk kepada entitas atau gagasan sehingga orang menentang sesuatu tanpa meninjau kenyataannya; 2) glittering generalities, penggunaan kata yang santun/baik dalam menggambarkan sesuatu sehingga mendapatkan dukungan, tanpa meninjau ketepatan penggambarannya; 3) transfer, identifikasi maksud melalui lambang otoritas; 4) testimonial, kesaksian orang yang disegani ataupun dibenci untuk mempromosikan atau menilai buruk suatu pesan; 5) plain folks, imbauan bahwa pembicara berpihak kepada masyarakatnya dengan maksud menjalin usaha kolaboratif; 6) card stacking, pemilihan secara teliti keakuratan dan kelogisan suatu pernyataan untuk mengembangkan/mereka ulang suatu kasus; serta 7) bandwagon, upaya untuk meyakinkan masyarakat mengenai kebenaran dan terkenalnya suatu maksud agar khalayak turut berpartisipasi. Strategi khusus propaganda mencakup penyebaran informasi/pendapat yang menimbulkan kebingungan, rasa takut, ketidakpastian, serta menipu lawan mengenai apa yang nyata dan tidak nyata (Erbschloe, 2017: 16).

Di era globalisasi digital dalam dua dekade terakhir, disinformasi digital dan/atau propaganda melalui media telah menambah kompleksitas pada strategi diplomasi digital dan mengusung perang hybrid (Duncombe, 2019: 97). Propaganda telah digunakan oleh politisi sayap kiri maupun sayap kanan untuk membela atau menghilangan kepentingan partisan di antara mereka serta dapat menyebabkan perang, revolusi, ataupun keterasingan prinsip-prinsip demokrasi. Dengan kata lain, propaganda dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain agar ikut atau berubah menjadi pembela atau penolak terhadap suatu kelompok atau gagasan yang diyakini kelompok tersebut dalam suatu konflik ataupun krisis sehingga keberpihakan pada satu pihak dapat tumbuh.

Kepentingan Rusia di Ukraina

Pertama, hal yang perlu digarisbawahi adalah kepentingan Rusia di Ukraina bukan merupakan kepentingan teritori. Jika berfokus pada kepentingan teritori dengan power ataupun militer yang dimiliki Rusia, Rusia bisa saja menganeksasi Donetsk and Luhansk—dengan pusat pemerintahan administratif keduanya secara kolektif disebut Donbas—seperti yang telah dilakukannya kepada Krimea. Dalam perspektif hukum internasional, kebijakan luar negeri negara anggota komunitas internasional harus sejalan dengan aturan dan norma dalam hukum internasional (Shaun, 2019: 27). Dalam kasus ini, bukan berarti Rusia tidak diperbolehkan melakukan hal-hal yang dicap buruk seperti aneksasi wilayah negara lain. Rusia bisa saja melegitimasi wilayah negara lain untuk kepentingan diri mereka sendiri selama sejalan dengan norma hukum internasional. Pada kasus Krimea, Putin mendapatkan legitimasi wilayah Krimea melalui referendum penentuan nasib sendiri oleh rakyat Krimea dengan hasil yang menunjukkan bahwa mereka menuntut penyatuan wilayah dengan Rusia (Kapustin, 2015:111 & Morello et al., 2014). Dengan norma tersebut, Rusia tetap berada dalam komunitas internasional. Terlebih, walaupun taktik Rusia pada Konflik Ukraina-Rusia—hybrid war; little green men; Spetsnaz; komunitas intelijen; dan sebagainya—membuahkan kemenangan pada perang militer, Rusia tetap mengalami kekalahan pada perang politik (Galeotti, 2016: 4). Kekalahan pada perang politik tersebut ditandai dengan adanya berbagai sanksi oleh negara-negara Barat dan risiko buruknya persepsi masyarakat global terhadap posisi Rusia di komunitas internasional. Dengan demikian, hal yang menjadi batasan bagi Rusia untuk tidak melakukan aneksasi seluruh wilayah Ukraina adalah keinginan untuk tetap berada dalam norma-norma komunitas internasional.

Kedua, adanya kepentingan ekonomi dan politik. Ukraina mempunyai wilayah strategis dengan sumber daya sehingga mengundang persaingan aktor-aktor internasional untuk menguasai wilayahnya (Wicaksono, 2014; Lapenko, 2014).  Oleh karena itu, setelah Union of Soviet Socialist Republics (USSR) runtuh dan Rusia kehilangan peran sebagai pemimpin politik serta ekonomi di negara-negara pecahannya, Rusia berusaha membangun kembali kepentingannya di Ukraina (Kuncahyono, 2022). Narasi ini kemudian dimasukkan dalam ambisi neoimperialis Rusia melalui EAEU sebagai integrasi/persatuan ekonomi kompetitif yang akhirnya mengusung geopolitik bersifat multipolar (Lapenko, 2014; OECD, 2021; Savin, 2012). 

Ketiga, membendung ekspansi geopolitik negara-negara Barat dan kedekatan Ukraina dengan negara-negara Barat. Menumbuhkan pengaruhnya di negara-negara bekas USSR atau Eurasia adalah prioritas kebijakan luar negeri Rusia. Namun, pada kenyataannya, terdapat banyak ketidakselarasan dan perselisihan dalam upaya perwujudannya, baik secara bilateral maupun melalui UEAE yang mengakibatkan Rusia kehilangan peran sebagai pemimpin politik dan ekonomi di kawasan tersebut (Lapenko, 2014: 126; Stronski, 2020). Melemahnya posisi Rusia menyebabkan sejumlah inisiatif oleh AS, UE, Tiongkok, dan Turki untuk membangun lingkup pengaruh mereka di wilayah negara-negara bekas USSR. Banyak politisi Rusia percaya bahwa integrasi ekonomi dan politik yang sukses dengan negara-negara bekas USSR dapat membangun kembali power Rusia dan mengisi kekosongan di Eurasia pasca runtuhnya USSR (1991) (Lapenko, 2014: 126). Oleh karena itu, Rusia melihat Eurasia sebagai area vital strategis sehingga berusaha menarik Ukraina untuk berintegrasi secara ekonomi ke EAEU. Namun, sejak 2013, Ukraina memulai hubungan baik dengan UE melalui pengadaan Association Agreement walaupun tidak mencapai integrasi untuk menjadi anggota UE (Stronski, 2020). Hubungan ini dipandang buruk oleh Rusia dengan menganggapnya sebagai usaha memberi pengaruh politik Barat di wilayah negara-negara bekas USSR. Ditambah lagi, kemunculan unjuk rasa Euromaidan yang menuntut integrasi Ukraina-UE memperkeruh ketidakmungkinan integrasi Ukraina-EAEU dan bahkan menjadi sebab reaksi keras Rusia kepada Ukraina dengan menganeksasi Krimea serta menduduki Donbas (The Atlantic Council, 2019: 11).

Dalam usahanya membangun kembali neoimperialis yang perlu dimulai di kawasan ataupun negara tetangganya, Rusia terus menggunakan semua instrumen national power: diplomasi; informasi; militer dan ekonomi, dengan sifat yang tidak dapat diprediksi dan agresif. Sejak Rusia melakukan agresi dengan menduduki Donbas, Konflik Ukraina-Rusia secara tidak langsung mampu menyimpulkan seruan retorika “kita (Rusia bersama Ukraina) vs. mereka (negara-negara Barat)” dan usaha dalam melemahkan negara tetangga yang mencari hubungan dekat dengan negara-negara Barat. Di sisi lain, pada kampanye Pemilu Presiden Ukraina 2019, Zelenskyy berjanji untuk menjaga Ukraina pada jalur pro negara-negara Barat sambil menyarankan bahwa Ukraina perlu mengadakan referendum nasional tentang keputusan bergabung dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO) (Rahim, 2019). Hal ini menjadi sebab—di samping kepentingan-kepentingan yang telah dijelaskan sebelumnya—bagi Rusia melakukan propaganda untuk melemahkan Zelenskyy.

Propaganda Rusia terhadap Volodymyr Zelenskyy pada Pemilu Presiden Ukraina 2019

Pada 2017, Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu membentuk satuan gugus perang informasi sambil mengatakan secara terbuka, “propaganda harus cerdas, kompeten, dan efektif” (Vasovic, 2017). Secara umum, Rusia sering berupaya menyebabkan kelumpuhan kebijakan suatu negara dengan menggunakan propaganda untuk kepentingan Rusia. Teknik propaganda Rusia saat ini dibangun dari teknik USSR pada masa Perang Dingin, yaitu dengan menyebarkan kebingungan serta memicu ketakutan untuk mengikis kepercayaan pada institusi Barat dan institusi demokrasi, tanpa memberi peluang sadar bahwa Rusia melakukan proses tersebut (Paul & Matthews, 2016; Oliker, 2015; Helmus, 2018: 2). Pada praktiknya, Pemerintah Rusia telah berupaya signifikan untuk mempengaruhi perdebatan di media sosial dengan mengembangkan gagasan provokatif yang mengundang rasa emosional melalui akun media sosial palsu; bot; dan akun media sosial otomatis yang dikelola oleh Rusia (Giles, 2016). Selain itu, Rusia juga mengembangkan pengaruh dan/atau propagandanya melalui organisasi sipil, partai politik, wadah pemikir, dan kelompok swasta (Lough et al., 2014; Auers, 2015). Dalam kasus pemilu, propaganda Rusia berupaya mempromosikan hasil atau kandidat yang sejalan dengan gagasannya; dan mendiskreditkan/menjatuhkan hasil atau kandidat yang sebaliknya, sehingga upaya tersebut merusak legitimasi proses serta hasil pemilu yang seharusnya demokratis.

Dalam tiga bulan awal kampanye Pemilu Presiden Ukraina 2019, Secret Service of Ukraine (SSU) 2019 melaporkan tujuh belas kasus ikut campurnya politik Rusia melalui media sosial dan beberapa media sosial lokal Ukraina yang menjadi proxy untuk aktivitas unggahan bersifat politik (Drach, 2020: 41). Rusia menyebarkan propaganda terhadap kedua kandidat, baik kepada Petro Poroshenko maupun Zelenskyy, untuk menjatuhkan keduanya karena menggagas pro Ukraina yang condong kepada pengembangan hubungan dengan negara-negara Barat. Di sisi lain, Rusia menyebarkan kampanye propaganda untuk mendukung kandidat yang dekat dan sejalan/berhubungan saling menguntungkan dengannya, salah satunya adalah Yulia Tymoshenko (Inozemtsev, 2019: 22 & 31; LENTA, 2012; GORDON, 2017). Selain itu, tujuan khusus strategis dari propaganda tersebut adalah untuk menyebabkan perselisihan di Ukraina, mendiskreditkan proses Pemilu yang demokratis maupun Ukraina sebagai negara, melemahkan otoritas Ukraina, meremehkan suasana pasca unjuk rasa Euromaidan, dan mengamankan kepentingan-kepentingan Rusia dari presiden yang paling berpotensi dalam memberikan kemajuan bagi Ukraina (The Atlantic Council, 2019: 9). Pemilu tersebut adalah momentum bagi Rusia untuk lebih merendahkan status kenegaraan dan geopolitik Ukraina, membenarkan kebijakannya terhadap kebijakan Ukraina di mata warga Rusia, serta menodai citra internasional Ukraina dengan harapan melemahkan dukungan Barat.

Propaganda Rusia terhadap Zelenskyy disebarkan melalui dua media. Pertama, media asal Rusia yang berafiliasi dengan Rusia seperti RT, VKontake, Sputnik, dan Internet Research Agency (IRA). Kedua, media asal Ukraina yang pro Rusia, contohnya adalah 112 Ukraine; NewsOne; NASH yang berafiliasi dengan beberapa Anggota Parlemen Ukraina pro Rusia seperti Viktor Medvedchuk dan Yevhen Murayev. Mayoritas narasi dan propaganda pro Rusia disebarkan melalui bot yang berasal dari media di Rusia, sedangkan hanya 5-10% berasal dari Ukraina (Drach, 2020: 41). Beberapa propaganda Rusia terhadap Zelenskyy melalui kedua perantara media tersebut adalah narasi bahwa 1) Ihor Kolomoyskiy yang merupakan sponsor utama Zelenskyy dikontrol oleh Israel sehingga jika ia menang, AS akan mempengaruhinya lewat Israel; 2) Jared Kushner yang merupakan menantu Donald Trump mempunyai kedekatan dengan Israel sehingga ia akan mempengaruhi Kolomoyskiy; 3) Zelenskyy merupakan Yahudi yang akan dikendalikan oleh AS dan Israel meskipun ia membatasi diri dari Kolomoyskiy; 4) kebakaran di Notre Dame de Paris merupakan pertanda buruk yang akan dihasilkan dari kemenangan Zelenskyy; 5) Pemilu Presiden Ukraina 2019 dicampur tangani oleh AS; 6) AS memegang pengaruh besar terhadap Ukraina karena kontrolnya pada International Monetary Fund (IMF) yang memberikan Ukraina uang pinjaman; 7) Ukraina di bawah kontrol negara-negara Barat sehingga pemerintah Ukraina menyerahkan kendali kedaulatan Ukraina kepada mereka; 8) serta negara-negara Barat yang ingin konflik Ukraina-Rusia tetap berjalan memandang Zelenskyy sebagai kandidat yang tidak cocok karena berusaha menghentikan konflik tersebut dan menjauhi diri dari mereka (Dementiev, 2019; Shpakovsky, 2019; Matveychev, 2019; OUR, 2019; Sankin, 2019). Setelah kemenangan Pemilu Zelenskyy, EU Disinformation Unit mengungkapkan bahwa propaganda tersebut merupakan konspirasi teori yang menggunakan disinformasi, kemudian narasi Rusia tetap pada gagasan bahwa Ukraina adalah rezim fasis (EU vs Disinformation, 2019a).

Kilas balik propaganda Rusia terhadap negara-negara Barat dapat memberi gambaran motif propaganda Rusia terhadap Zelenskyy. Baik pemerintah Rusia; media pro Rusia; dan kelompok online di Rusia pernah melakukan propaganda kepada NATO, AS, Inggris, Jerman, AS, dan sebagainya seperti propaganda terhadap latihan militer NATO Trident Juncture Exercise (TRJE) 2015, Pemilu Presiden AS 2016, referendum Brexit 2016, dan Pemilu Presiden Jerman 2017 (Al-Khateeb et al., 2019; The Atlantic Council, 2019: 11). Dalam kasus Pemilu Presiden AS 2016, untuk melakukan propaganda, Rusia menggunakan sosial media instansi pemerintah; media yang didanai negara; dan media yang berafiliasi dengannya seperti RT, Wikileaks, dan IRA (Erbschloe, 2019: 23). Beberapa video propaganda Wikileaks dan RT berjudul “Do WikiLeaks Have the E-mail That’ll Put Clinton in Prison?”, “Clinton and ISIS Funded by the Same Money”, dan “How 100% of the Clintons’ ‘Charity’ Went to…Themselves”, dan “Trump Will Not Be Permitted to Win” (Singal, 2016; Samuels, 2016; Dwyer, 2017; Gordon & Stone, 2017). Menurut laporan Assessing Russian Activities and Intentions in Recent US Elections 2017, Putin memerintahkan kampanye dengan tujuan melemahkan kepercayaan publik dalam proses demokrasi AS, merusak elektabilitas Hillary Clinton sebagai kandidat presiden (US National Intelligence Council, 2017). Selain itu, Putin dan pemerintah Rusia menunjukkan preferensi kepada Trump karena mendukung mereka di Konflik Ukraina serta menawarkan kebijakan kerja sama (Erbschloe, 2019: 23-24). Gangguan atau keterlibatan Rusia di Pemilu ini dibenarkan adanya atas kesaksian perwakilan dari Google, Facebook, Twitter di hadapan Kongres AS pada audiensi Komite Tetap Intelijen Dewan Perwakilan Rakyat AS dan dapat disimpulkan motif Rusia untuk menimbulkan perselisihan (McCarthy, 2017). Oleh karena itu, berbeda dengan Pemilu Presiden AS 2016 di mana mayoritas propaganda Rusia hanya ditujukan kepada satu kandidat Presiden karena bertentangan dengan Rusia, propaganda pada Pemilu Presiden Ukraina 2019 ditujukan kepada kedua kandidat karena keduanya membawa gagasan pro Barat.

Kelemahan pada Pola Propaganda Rusia

Kelebihan propaganda Rusia dapat dilihat dari dua hal. Pertama, propaganda diproduksi dalam volume yang sangat besar dan disebarkan melalui banyak saluran. Walaupun kuantitas tidak menjamin kualitas efek persuasi yang dapat ditimbulkan, semakin banyak propaganda yang diproduksi dan disebarkan, pesan yang dihasilkannya akan semakin persuasif dan layak dipertimbangkan. Contohnya adalah laporan SSU yang dalam 3 bulan awal masa kampanye Pemilu Presiden Ukraina 2019, menemukan sebanyak tujuh belas kasus—yang terus bertambah—ikut campurnya pengaruh politik Rusia melalui media sosial dan beberapa media sosial lokal Ukraina yang menjadi proxy untuk aktivitas unggahan bersifat politik (Drach, 2020: 41). Kedua, propaganda Rusia kontinu diproduksi dan sangat responsif sejalan dengan berbagai peristiwa yang muncul sehingga memberi kesan paling pertama dalam meliput berita; kredibilitas; dan keakraban kepada audiens (Paul & Matthews, 2016). Sejalan dengan berbagai peristiwa atau narasi yang dapat dibangun pada masa Pemilu Presiden Ukraina 2019, mereka cukup menyebarluaskan interpretasi suatu peristiwa yang tampak paling sesuai dengan tujuan mereka, seperti narasi kebakaran di Notre Dame de Paris seminggu sebelum Pemilu putaran kedua, merupakan pertanda buruk yang akan dihasilkan dari kemenangan Zelenskyy; dan berbagai narasi lainnya yang dapat ditemukan di website UE vs Disinformation (Dementiev, 2019; EU vs Disinformation, n.d.). Hal ini juga berarti mereka sering mengulangi dan membangun atau mereka ulang disinformasi yang digunakan dalam propaganda mereka. Sebagai contoh pada kasus lain, laporan “Weekly Disinformation Review” edisi 14 Januari 2016, menemukan kemunculan kembali beberapa narasi propaganda Rusia yang sebelumnya telah dibantah, seperti narasi Presiden Polandia Andrzej Duda bersikeras agar Ukraina mengembalikan bekas wilayah Polandia; pejuang ISIS bergabung dengan pasukan pro Ukraina; dan adanya kudeta yang didukung negara-negara Barat di Kyiv (Disinfo, 2016). 

Namun, bertolak belakang dengan kelebihan yang dimilikinya, terdapat dua hal yang melemahkan efektivitas persuasi dalam propaganda Rusia. Pertama, kurangnya komitmen terhadap realitas secara objektif membuat propagandis Rusia cukup menekankan materi yang bersifat intuitif dan merasa tidak perlu memeriksa fakta atau memverifikasi klaim mereka. Dengan demikian, beberapa propagandis meliput kebenaran dan beberapa lainnya dibuat-buat (disinformasi) seperti narasi-narasi bahwa Pemilu Presiden Ukraina 2019 dikontrol AS; dicampur tangani Inggris dan UE; dipaksa dan direka Intelijen AS; serta dimanipulasi lembaga keamanan Ukraina melalui sistem e-voting (Paul & Matthews, 2016; EU vs Disinformation, 2019b). Pola yang sama juga ditemukan pada kasus lain seperti kampanye media sosial 2014 untuk menciptakan kepanikan tentang ledakan dan bahan kimia di Paroki St. Mary Louisiana, aktor bayaran untuk memerankan korban kekejaman buatan dalam laporan berita (Chen, 2015; Davis, 2014, Smith, 2015). Kedua, inkonsistensi media propaganda atau propagandis dengan mempublikasi narasi, posisi, maupun liputan pihak lain yang terus berbeda. Hal tersebut karena jika satu narasi yang salah/palsu terungkap atau tidak diterima dengan baik, para propagandis akan menggantinya dengan beralih ke penjelasan/narasi baru seperti narasi propaganda yang berisi pihak-pihak berbeda di balik sebab-sebab berbeda/bervariasi pula diadakannya Pemilu Presiden Ukraina 2019 (EU vs Disinformation, n.d). Demikian pula pada kasus lain seperti pernyataan Putin yang pada awalnya menyangkal keinginannya dalam penggabungan Krimea dengan Rusia dan pernyataan bahwa little green men di Krimea adalah tentara Rusia, tetapi kemudian ia mengakui keduanya (Pifer, 2015).

Kesimpulan

Kepentingan ekonomi-geopolitik, posisi di komunitas internasional, serta upaya membendung ekspansi ekonomi-geopolitik UE dan NATO (atau negara-negara Barat) menjadi batasan bagi Rusia untuk tidak memaksakan kepentingan teritori di Ukraina. Batasan tersebut bukan berarti Rusia tidak dapat melanjutkan/memperkeruh Konflik Ukraina-Rusia di tengah kompetisi Rusia dengan negara-negara Barat, melainkan Rusia tetap mempertahankannya dengan melakukan propaganda pada Pemilu Presiden Ukraina 2019. Propaganda ditujukan kepada kandidat Presiden, Volodymyr Zelenskyy, untuk melemahkan kepercayaan Ukraina kepada negara-negara Barat dan menarik kepercayaan kembali kepada Rusia. Propaganda tersebut berisi narasi-narasi berisi keburukan negara-negara Barat dan prinsip demokrasi yang disebarkan melalui komunikasi, yaitu media asal Rusia yang berafiliasi dengan Rusia dan media asal Ukraina yang pro Rusia. Dengan menyebarkan narasi-narasi tersebut, Rusia bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat Ukraina agar enggan mendukung Zelenskyy maupun menjalin hubungan dengan negara-negara Barat. Namun, walaupun diproduksi dan disebarkan dengan volume banyak, kontinu, cepat, dan luas, propaganda Rusia bersifat repetitif; tidak objektif, dan tidak konsisten sehingga melemahkan efektivitas persuasi dalam propaganda.

Referensi:

Al-Khateeb, S., Hussain, M. H., Agarwal, N. (2019). Leveraging Social Network Analysis and Cyber Forensics Approaches to Study Cyber Propaganda Campaigns. Dalam Özyer, T., Bakshi, S., Alhajj, R. (eds), Social Networks and Surveillance for Society: Lecture Notes in Social Networks. Springer Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-319-78256-0_2

Auers, D. (2015). Comparative Politics and Government of the Baltic States: Estonia, Latvia and Lithuania in the 21st Century. New York: Pelgrave Macmillan.

Chen, A. (2015, 2 Juni). The Agency. The New York Times Magazine. https://www.nytimes.com/2015/06/07/magazine/the-agency.html 

Davis, J. (2014, 12 Agustus). Russia’s Top 100 Lies About Ukraine. StopFake.org. https://www.stopfake.org/en/russia-s-top-100-lies-about-ukraine/ 

Dementiev, A. (2019, 15 April). The cause of the fire in Notre Dame de Paris was Vladimir Zelensky, says a psychic. RUSSIA newshttps://russia-news.ru/ru/8-news/254-prichinoj-pozhara-v-notr-dam-de-pari-stal-vladimir-zelenskij

Disinfo. (2016, 14 Januari). “Weekly Disinformation Review”. Disinfo.

Drach, M. (2020). How social media shaped Zelenskyy’s victory in Ukraine. Reuters Institute. https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/sites/default/files/2020-08/RISJ_Final%20Report_Maryana%20Drach_2020_Final%202%20%289%29.pdf

Duncombe, C. (2018). Twitter and the Challenges of Digital Diplomacy. SAIS Review of International Affairs. 38(2). 91-100. doi:10.1353/sais.2018.0019 

Dwyer, J. (2017, 10 Januari). A 1964 Lesson in Fake News That Still Applies. The New York Times. https://www.nytimes.com/2017/01/10/nyregion/a-1964-lesson-in-fake-news-that-still-applies.html

Erbschloe, M. (2017). Social Media Warfare: Equal Weapons for All. Boca Raton: CRC Press.

Erbschloe, M. (2019). Extremist Propaganda in Social Media: A Threat to Homeland Security. Boca Raton: CRC Press. https://www.routledge.com/Extremist-Propaganda-in-Social-Media-A-Threat-to-Homeland-Security/Erbschloe/p/book/9780367779078 

EU vs Disinformation. (2019a, 18 April). If Zelensky Wins, US will Influence Him Through Israel. EU vs Disinformation. https://euvsdisinfo.eu/report/if-zelensky-wins-us-will-influence-him-through-israel/

EU vs Disinformation. (2019b, 2 April). ’Ukraine Will Turn Into a Banana Republic’: Ukrainian Elections on Russian TV. EU vs Disinformation. https://euvsdisinfo.eu/ukraine-will-turn-into-a-banana-republic-ukrainian-elections-on-russian-tv/ 

EU vs Disinformation. (n.d.). “DISINFO DATABASE”. EU vs Disinformation. https://euvsdisinfo.eu/disinformation-cases/ 

Galeotti, M. (2016). ‘Hybrid War’ and ‘Little Green Men’: How It Works, and How It Doesn’t. Dalam Pikulicka-Wilczewska, A. & Sakwa, R., Ukraine and Russia: People, Politics, Propaganda and Perspectives. Bristol: E-International Relations Publishing. https://www.e-ir.info/publications/download/file/54479/64071

Giles, K. (2016, 21 Maret). Russia’s ‘New’ Tools for Confronting the West Continuity and Innovation in Moscow’s Exercise of Power. CHATAM HOUSE. https://www.chathamhouse.org/sites/default/files/publications/2016-03-russia-new-tools-giles.pdf

Gordon, G. & Stone, P. (2017, 2 November). Russian outlet’s anti-Clinton videos still up on YouTube. McClatchy DC BUEAU. https://www.mcclatchydc.com/news/nation-world/national/article182186241.html

GORDON. (2017, 19 September). Belkovsky: Timoshenko and Putin are good with each other. And it will be the same if she becomes the president or prime minister of Ukraine, and by that time he has not died yet. GORDONUA.COM. https://gordonua.com/news/politics/belkovskiy-timoshenko-i-putinu-horosho-drug-s-drugom-i-budet-tak-zhe-esli-ona-stanet-prezidentom-ili-premerom-ukrainy-a-on-k-etomu-vremeni-eshche-ne-umret-207872.html 

Helmus, T., C. (2018). Russian Social Media Influence: Understanding Russian Propaganda in Eastern Europe. Santa Monica: RAND Corporation. www.rand.org/pubs/testimonies/CT496.html

Inozemtsev, V. (2019, 19 Februari). Kremlin-linked Forces in Ukraine’s 2019 Elections: On the Brink of Revenge?. French Institute of International Relations. https://www.ifri.org/en/publications/etudes-de-lifri/russieneireports/kremlin-linked-forces-ukraines-2019-elections-brink 

Kapustin, A. (2015). Crimea`s self-determination in the Light of Contemporary International Law. Heidelberg Journal of International Law. 75(1). 101-118. ISSN 0044-2348. https://www.zaoerv.de/75_2015/75_2015_1_a_101_118.pdf

Kuncahyono, T. (2022, 1 Maret). Melihat Ukraina dari Kacamata Rusia. RMOLJAKARTA. https://www.rmoldkijakarta.id/melihat-ukraina-dari-kacamata-rusia

Lapenko, M. (2014). The Ukrainian Crisis and its Effect on the Project to Establish a Eurasian Economic Union. Partnership for Peace Consortium of Defense Academies and Security Studies Institutes. 14(1). 121-136. https://www.jstor.org/stable/10.2307/26326389.

LENTA. (2012, 18 September). Special purpose friend Why Putin is considered the main defender of Tymoshenko. LENTA.RU. https://lenta.ru/articles/2012/09/18/two/ 

Lough, J. (2015). Russian Influence Abroad: Non-State Actors and Propaganda. Chatam House. https://www.chathamhouse.org/sites/default/files/field/field_document/20141024RussianInfluenceAbroad.pdf

Marlin, R. (2013). Propaganda and the Ethics of Persuasion. Peterborough: Broadview Press. ISBN 9781554810918.

Matveychev, O. (2019, 18 April). The new president will not affect the established way of life. SONAR 2050. https://www.sonar2050.org/publications/vse-ostanetsya-kak-bylo/ 

McCarthy, T. (2016, 31 Oktober). Facebook, Google and Twitter grilled by Congress over Russian meddling – as it happened. The Guardian. https://www.theguardian.com/technology/live/2017/oct/31/facebook-google-twitter-congress-russian-election-meddling-live?page=with:block-59f8d600e4546a06df011fb0&filterKeyEvents=false#liveblog-navigation

Morello, C., Constable, P., Faiola, A. (2014, 16 Maret). Crimeans vote to break away from Ukraine, join Russia. The Washington Post. https://www.washingtonpost.com/world/2014/03/16/ccec2132-acd4-11e3-a06a-e3230a43d6cb_story.html

Nimmo, D. (2002). Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan dan Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

OUR. (2019, 13 Maret). Muraev: This government has literally given up our sovereignty. OUR 03/13/19. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=EUOQOElxIu0

Paul, C. & Matthews, M. (2016). The Russian “Firehose of Falsehood” Propaganda Model: Why It Might Work and Options to Counter It. RAND. https://www.rand.org/pubs/perspectives/PE198.html 

Pifer, S. (2015, 20 Maret). Putin, lies and his ‘little green men’. CNN. https://edition.cnn.com/2015/03/20/opinions/pifer-putin-misleads/index.html 

Rahim, Z. (2019, 21 April). Ukraine election: Comedian Volodymyr Zelenskyy wins 73% of vote, exit poll suggests. INDEPENDENT. https://www.independent.co.uk/news/world/europe/ukraine-election-result-latest-volodymyr-Zelenskyy-win-exit-poll-president-a8880371.html

Samuels, G. (2016, 4 November). Julian Assange: Isis and Clinton Foundation are both funded by Saudi Arabia and Qatar. INDEPENDENT. https://www.independent.co.uk/news/people/julian-assange-clinton-foundation-isis-same-money-saudi-arabia-qatar-funding-a7397211.html 

Sankin, V. (2019, 3 April). ’For Putin for breakfast?’ – Why the CDU and ARD are reprimanding the Ukrainian presidential candidate. RT Deutsch. https://deutsch.rt.com/meinung/86740-fruhstuck-fur-putin-warum-union-ard-ukrainischen-praesidentschaftskandidaten-massregeln/

Shaun, R. (2019). Cyberdiplomacy: Managing Security and Governance Online. Cambridge: Polity Press.

Shpakovsky, A. (2019, 1 April). I’ve been waiting for you, Vova, or Save President Peter. Sputnik. https://sputnik.by/20190401/Ya-tak-zhdala-tebya-Vova-ili-Spasti-prezidenta-Petra-1040656136.html

Singal, J. (2016, 29 Juli). Does Julian Assange Really Have an Email That Will Get Hillary Clinton Tossed in Prison? (Updated). New York Intelligencer. https://nymag.com/intelligencer/2016/07/will-a-wikileaks-email-get-clinton-imprisoned.html

Smith, O. (2015, 24 Agustus). Watch: Russia’s Fake Ukraine War Report Exposed in Putin PR Disaster. EXPRESS. https://www.express.co.uk/news/world/600413/Russia-s-fake-Ukraine-war-report-exposed-Putin-PR-disaster

Stronski, P. (2020, 16 September). There Goes the Neighborhood: The Limits of Russian Integration in Eurasia. Carnegie Endowment for International Peace. https://carnegieendowment.org/2020/09/16/there-goes-neighborhood-limits-of-russian-integration-in-eurasia-pub-82693

The Atlantic Council. (2019, Mei). Ukrainian Election Task Force Foreign Interference in Ukraine’s Democracy. The Atlantic Council. https://www.atlanticcouncil.org/wp-content/uploads/2019/05/Foreign_Interference_in_Ukraines_Election.pdf 

US National Intelligence Council. (2017). Assessing Russian activities and intentions in recent US elections. US National Intelligence Council. https://www.intelligence.senate.gov/sites/default/files/documents/ICA_2017_01.pdf

Vasovic, A. (2017, 22 Februari). Russia sets up information warfare units – defence minister. Reuters. https://www.reuters.com/article/russia-military-propaganda-idUSL8N1G753J

Wicaksono, A. (2014). Geostrategi Rusia di Eropa Timur (Analisis Strategi Militer Ofensif di Ukraina Pasca-jatuhnya Presiden Viktor Yanukovych). Tesis Universitas Indonesia. https://lib.ui.ac.id/detail?id=20389651&lokasi=lokal 

Wilson, A. (2015). Four Types of Russian Propaganda. Aspen Review. https://www.aspen.review/article/2017/four-types-of-russian-propaganda/ 

Ammar Bianda Katon adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjajaran. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @bian.kt 

Leave a Reply

Your email address will not be published.