Putaran Pertama Pilpres Kolombia: Prospek Presiden Kiri Pertama Menguat

Ilustrasi kandidat Presiden Kolombia, Gustavo Petro. Foto: Santiago Arcos/Reuters

Hasil Pemilihan Presiden putaran pertama di Kolombia yang berlangsung pada Minggu (29/5) kemarin telah hampir selesai dihitung. Hitung cepat Pilpres yang telah mencapai 98% suara memperlihatkan tidak adanya satu pun calon presiden yang mencapai suara 50% dalam putaran pertama.

Meskipun demikian, hasil hitung cepat memperlihatkan dua calon yang akan kembali bertarung pada putaran kedua tanggal 19 Juni nanti: Gustavo Petro, politisi sayap kiri yang memeroleh 40% suara, dan Rodolfo Hernandez, politisi populis mantan Wali Kota Bucaramanga yang memeroleh 28% suara.

Nantinya, pemenang pilpres ini akan naik sebagai Presiden Kolombia menggantikan Ivan Duque dari Democratic Center yang konservatif. Presiden berusia 45 tahun tersebut tidak kembali mencalonkan diri sebagai presiden karena Konstitusi Kolombia membatasi masa jabatan presiden hanya satu periode saja.

Di Tengah Ketidakpuasan Publik yang Meluas

Presiden Duque yang akan segera habis masa jabatannya meninggalkan jejak ketidakpuasan publik yang meluas. Tahun lalu, ketidakpuasan ini berujung kepada demonstrasi luas terhadap pemerintahan Duque.

Huru-hara tersebut dipicu oleh keinginan Presiden Duque untuk menaikkan pajak dan melakukan privatisasi kesehatan, meskipun situasi di negara Amerika Latin itu sedang genting-gentingnya dihantam COVID-19 dan maraknya pengangguran.

Protes yang terjadi pun berhasil membatalkan rencana kenaikan pajak dan privatisasi kesehatan. Tidak hanya itu, sejumlah menteri dan tim ekonomi Kolombia juga ikut mundur sebagai bentuk tanggung jawab terhadap rencana kebijakan yang memicu protes tersebut.

Yang terpenting, protes tersebut berkontribusi terhadap menurunnya popularitas Ivan Duque secara drastis. Pilpres ini pun menjadi sarana utama untuk mencari presiden pengganti Duque yang mampu memenuhi aspirasi warga Kolombia.

Bintang Baru dari Sayap Kiri

Pilpres tahun ini juga memberikan kejutan baru: Gustavo Petro, politisi sayap kiri, berhasil menjadi pemenang putaran pertama pilpres dengan memeroleh 40% suara.

Secara sejarah, pria 62 tahun itu memiliki reputasi yang signifikan dalam politik sayap kiri Kolombia. Pada usia yang ke-17, ia sudah bergabung ke dalam gerakan revolusioner 19th of April Movement (M-19) dan sempat dipenjara 18 bulan karena diketahui memiliki senjata api ilegal.

Setelah keluar dari penjara, ia menjadi politisi dan tampil sebagai oposisi keras terhadap pemerintah Kolombia yang didominasi oleh sayap kanan. Sempat menjadi Wali Kota Bogota, ia mencalonkan diri sebagai Presiden Kolombia pada tahun 2018 meskipun dikalahkan Ivan Duque pada putaran kedua.

Janji kampanye Petro pada tahun 2022 didominasi oleh agenda progresif. Ia berjanji akan mempromosikan energi hijau, menurunkan ketimpangan ekonomi dengan menaikkan pajak bagi 4.000 orang terkaya Kolombia, dan membuka Kementerian Kesetaraan. Ia juga membuka kemungkinan akan mengadili Presiden Duque atas kebrutalan polisi dalam merepresi protes tahun 2021.

Harapan besar pun ada di tangan Petro. Jika ia terpilih, ia akan menjadi presiden pertama Kolombia dari sayap kiri. Selain itu, wakilnya Francia Marquez akan menjadi orang Afro-Kolombia pertama di pusat kekuasaan Kolombia. Walau begitu, ketimpangan ekonomi akan menjadi salah satu tantangan terberatnya nanti jika terpilih.

Meramaikan Pink Tide 2022 di Amerika Latin

Selain itu, jika Petro terpilih sebagai Presiden Kolombia, ia akan membawa Kolombia menjadi salah satu negara yang mengalami pink tide, yakni tren naiknya politikus sayap kiri di tampuk kepemimpinan negara-negara Amerika Latin. Tren ini muncul pada dekade 2000-an, meredup pada awal 2010-an, dan kembali muncul pada akhir dekade 2010-an.

Jika Petro terpilih, Kolombia akan bergabung dengan Meksiko, Bolivia, Honduras, Peru, dan Chile sebagai negara yang dipimpin oleh pemerintahan sayap kiri. Selain itu, dipimpinnya Kolombia oleh sayap kiri akan menyisakan lebih sedikit negara yang dipimpin oleh sayap kanan, seperti Brazil, Ekuador, dan El Salvador.

Meski begitu, pink tide ini tidak berarti kebijakan yang sepenuhnya sama antara negara-negara tersebut. Tetap terdapat variasi bahkan di antara pemimpin-pemimpin beraliran kiri, termasuk Petro sendiri.

Walaupun telah mendapatkan 40% suara, tetapi kemenangan Petro di putaran kedua tetap belum terjamin. Dengan pemilih yang mayoritas berada di tengah dan kanan dari spektrum politik, Petro harus bisa menarik setidaknya 11% suara lagi untuk dapat memenangi putaran kedua untuk menjadi presiden kiri pertama Kolombia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.