Putaran Pertama Pilpres Prancis Usai, Macron dan Le Pen Kembali Bertandang di Putaran Kedua

Ilustrasi poster kandidat presiden di Pilpres Prancis. Foto: DPA/PA Images

Pada hari Senin (11/4), hasil Pilpres Prancis 2022 telah selesai menghitung 100% suara masuk. Hasilnya memperlihatkan petahana Emmanuel Macron memimpin tipis di angka 27.6% dan disusul politisi ekstrem kanan Marine Le Pen di 23.4%. Dengan hasil ini, kedua kandidat teratas dipastikan akan bertemu lagi di putaran kedua Pilpres pada 24 April mendatang.

Dengan perkembangan politik selama lima tahun kebelakang, perpolitikan Prancis semakin dipenuhi oleh tokoh-tokoh berhaluan ekstrem. Di posisi ketiga, terdapat Jean-Luc Mélenchon yang memeroleh suara cukup signifikan sebesar 22%. Selain Le Pen, terdapat politisi sayap kanan baru yakni Éric Zemmour yang memeroleh 7.1% suara. Sementara itu, kandidat moderat selain Macron mendapat suara minim. Kandidat moderat kanan Valérie Pécresse dan moderat kiri Anne Hidalgo masing-masing mendapat kurang dari 5% suara.

Tren ini merefleksikan runtuhnya dominasi tradisional moderat kanan dan kiri dalam perpolitikan Prancis akibat kemenangan Macron sebagai tokoh moderat-sentris pada 2017. Calon presiden maupun anggota parlemen dari Partai Sosialis (moderat kiri) dan UMP/Partai Republikan (moderat kanan) mengalami kekalahan sejak 2017 hingga kini. Sementara itu, muncul kekuatan politik ekstrim baru di kiri dan kanan yang mengisi kekosongan akibat kelemahan kekuatan moderat tersebut, meski belum bisa mengalahkan Macron.

Konflik Ukraina yang Tidak Terlalu Berpengaruh

Pasca invasi Rusia ke Ukraina, kampanye dua kandidat sayap kanan Zemmour dan Le Pen sempat terancam akibat asosiasi dekat keduanya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun, berbeda dengan Zemmour, Le Pen dengan cepat mengambil posisi menjaga jarak dan secara mengejutkan menyatakan penerimaannya terhadap pengungsi Ukraina. Namun, fokus utama kampanye Le Pen dalam kelanjutannya bergeser dari Ukraina ke domestik, yaitu isu ekonomi meningkatnya harga perumahan di Prancis.

Masalah ekonomi memang diprediksi akan menjadi isu utama sekaligus penentu pemilu Prancis tahun ini dengan meningkatnya inflasi di Eropa hingga 7.4% pasca invasi Ukraina. Dengan menggeser fokus politiknya pada keresahan ekonomi masyarakat paling rentan, kampanye Le Pen mengusung janji menaikkan subsidi bagi rumah tangga menengah ke bawah, memotong pajak di area migas dan listrik, serta memangkas anggaran belanja untuk ‘orang-orang asing’. Implikasinya, Le Pen yang awalnya menerima penolakan umum karena imej ekstremnya sebagai nasionalis anti-imigran kini meraup lebih banyak suara dari sebelumnya. 

Di sisi lain, kiprah kepemimpinan Macron sebelumnya tidak banyak membantu akibat kritik tentang fokus Macron yang terlalu terpaku pada Ukraina dan permasalahan Eropa alih-alih domestik. Dalam salah satu pidato kampanyenya, Macron menyampaikan ambisinya membangun ‘Prancis di Eropa yang kuat’ dengan aliansi kekuatan-kekuatan demokrasi besar. Namun, janji ini sepertinya belum tepat sasaran bagi masyarakat Prancis yang kini dihadapkan oleh permasalahan domestik sebagai ancaman paling nyata bagi mereka.

Memenangkan Kembali Simpati Pemilih Prancis

Putaran pemilu pada akhir bulan April akan menunjukkan perebutan suara yang lebih sengit. Dengan dukungan Zemmour pada Le Pen pasca berita kekalahannya, para pemilih Zemmour dipastikan akan mengalihkan suaranya kepada Le Pen. Sementara itu, kandidat Mélenchon menolak untuk menyuarakan dukungan serupa pada kandidat manapun. Akibatnya, sebagian besar suara dari pemilih Mélenchon diprediksi akan beralih pada Macron sebagai kandidat moderat atau justru akan abstain, sementara sebagian kecil diramalkan akan beralih pada Le Pen.

Di saat bersamaan, antimo masyarakat Prancis terhadap pemilu justru terlihat semakin menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Hingga hari Minggu kemarin pukul 5 sore, suara yang terkumpul hanya mencapai 65%—paling rendah sejak 2002. Dalam wawancara dengan New York Times, seorang warga sipil menyebut bahwa dirinya ‘tidak menyimpan banyak ekspektasi’ dan dia hanya memilih kandidat yang ‘setidaknya berbicara seperti orang normal.’

Oleh karena itu, jika ingin mempertahankan kursi kepemimpinannya, Macron harus mampu meyakinkan publik akan komitmennya pada masalah-masalah domestik yang belum mampu diselesaikannya. Sebagai kekhawatiran utama masyarakat Prancis, kenaikan harga perumahan, migas, serta bahan pokok lainnya adalah subjek strategis perdebatan janji kampanye kedua kandidat. Selain itu, Macron juga perlu mengencangkan kampanye demi memastikan kembali basis pendukungnya di daerah-daerah urban Prancis, wilayah yang justru memperlihatkan jumlah suara yang menurun dari tahun ke tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published.