Putin Beri Xi Jinping Eskrim Raksasa, Cermin Kuatnya Peran Simbol dalam Interaksi Antar Negara

Putin Beri Xi Jinping Eskrim Raksasa, Cermin Kuatnya Peran Simbol dalam Interaksi Antar Negara

Putin bertemu dengan Xi Jinping di Dushanbe. Foto: AP.

Sebuah langkah unik diambil Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam menghadiahkan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang baru saja berulang tahun ke-66. Tidak tanggung-tanggung, Putin menghadiahkan es krim raksasa. Hadiah ini diberikan kepada Xi Jinping sebelum pertemuan puncak di Tajikistan, Sabtu (15/6).

“Selamat ulang tahun, semua harapan yang terbaik. Aku senang punya teman sepertimu,” ujar Putin kepada Xi, berdasarkan situs web Kremlin.

Keduanya bertemu di ibu kota Tajikisitan, Dushanbe, dalam rangka pertemuan puncak kelima Konferensi tentang Tindakan Interaksi dan Membangun kepercayaan di Asia (CICA). Dalam pertemuan puncak ini, terdapat 27 delegasi negara yang bertemu.

Sebelum acara tersebut, Xi Jinping berkunjung ke Rusia selama tiga hari untuk bertemu Putin. Es krim raksasa yang diberikan adalah sebuah bentuk persahabatan yang telah dijalin lama antara kedua negara.

“Seluruh tim kami, dan saya bahkan, dapat mengatakan seluruh bangsa kami, berharap yang terbaik bagi Anda di dunia karena Anda melakukan banyak hal untuk pengembangan hubungan antara kedua negara kami,” ujar Putin, seusai menerima hadiah tersebut.

Xi pun membalasnya dengan keramahan yang sama.

“Kamu menikmati otoritas besar di hati rakyat Tiongkok,” tutur Xi.

Penggunaan Simbol dalam Rekonsiliasi Amerika Serikat-Tiongkok

Menilk ke gambaran yang lebih besar, penggunaan simbol dalam interaksi antar negara merupakan sebuah hal yang amat lazim. Salah satu penggunaan simbol dalam diplomasi yang paling sering dibahas dalam kajian ilmu Hubungan Internasional adalah ketika Amerika Serikat dan Tiongkok melakukan rekonsiliasi hubungan menggunakan olah raga tenis meja. Hingga kini, diplomasi tersebut dikenal dengan istilah diplomasi ping-pong (ping-pong diplomacy).

Sebelum dekade 1970-an, Amerika Serikat enggan untuk menjalin interaksi dengan Tiongkok daratan. Negara yang kala itu sedang berseteru dengan Uni Soviet justru memilih Taiwan sebagai salah satu mitra utama mereka di kawasan Asia Timur.  Padahal saat itu, hubungan antara Uni Soviet dan Tiongkok juga tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.

Tiongkok, yang menyadari bahwa perang dingin sedang terjadi di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, melihat negara di utara benua Amerika tersebut sebagai mitra potensial.

Ketika tim nasional tenis meja Amerika Serikat bertandang ke Nagoya, Jepang pada tahun  1971, Tiongkok tak ingin menyia-nyiakan momen tersebut. Tiongkok mengundang seluruh tim tenis meja Amerika Serikat ke Beijing. Tepat pada tanggal 10 April 1971, tim nasional tenis meja Amerika Serikat beserta beberapa jurnalis menjadi delegasi Amerika Serikat pertama yang menginjakkan kaki di ibu kota Tiongkok semenjak tahun 1949.

Tiongkok yang saat itu masih begitu tertutup cukup membuat terkesima beberapa pemain Amerika Serikat. Salah satu di antara mereka menyatakan perasaan kekagumannya.

“Masyarakat Tiongok sama seperti kami. Mereka memiliki rasa. Saya berkenalan dengan beberapa orang. Negara tersebut serupa dengan Amerika Serikat, tetapi masih amat berbeda. Sangat indah,” ujar salah satu pemain Amerika Serikat.

Semenjak saat itu, hubungan kedua negara terus membaik. Pada tahun 1972, Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon, berkunjung ke Tiongkok untuk pertama kalinya. Hal ini dilakukan sebagai itikad baik Amerika Serikat dalam memperbaiki hubungan dengan Tiongkok. Namun, kedatangan Nixon ini bukan puncak dari segalanya.

Puncak dari diplomasi ping-pong adalah ketika Zhuang Zedong mengunjungi Amerika Serikat sebagai pemimpin delegasi. Zedong memimpin delegasi tenis meja Tiongkok mengunjungi Amerika Serikat dua bulan setelah kedatangan Richard Nixon ke Tiongkok. Pertemuan ini cukup mengesankan karena dilaksanakannya pertandingan tenis meja antara delegasi Tiongkok dan tim tenis meja Universitas Maryland. Hingga saat ini, pertandingan tersebut terus dikenang dalam dunia diplomasi.

Diplomasi ping-pong menjadi salah satu diplomasi paling berhasil di sepanjang sejarah. Diplomasi ini dianggap mampu memperbaiki hubungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat secara signifikan. Pada bulan Juni 1971, Amerika Serikat menghapuskan embargo terhadap Tiongkok.

Ketika Nixon mengunjungi Tiongkok pada tahun 1972, sebuah komunike bersama dengan tujuan menormalisasi hubungan Tiongkok dan Amerika Serikat dipublikasikan. Setelah normalisasi berhasil dilakukan, Amerika Serikat pun memutuskan untuk tidak lagi ikut campur dalam sengketa antara Taiwan dan Tiongkok daratan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *