Quo Vadis Ukraina Pasca 30 Tahun Merdeka

Ilustrasi Kiev, ibukota Ukraina. Foto: Getty Images

Setelah kudeta Agustus 1991 gagal, republik-republik Uni Soviet mulai melepaskan diri dari kontrol Moskow, termasuk Ukraina yang mendeklarasikannya kemerdekaannya pada 24 Agustus 1991. Tanggal inilah yang kini dijadikan peringatan Hari Kemerdekaan Ukraina. Selama menjadi bagian Uni Soviet, Ukraina berperan sangat besar bagi ekonomi Soviet, dan dapat dikatakan lepasnya Ukraina menyulitkan Rusia untuk tetap bertahan sebagai kekuatan besar pada tahun-tahun pasca runtuhnya Uni Soviet.

Ensiklopedi Besar Soviet edisi 1977 mencatat wilayah Ukraina memiliki 17% populasi Soviet dengan sejumlah kota pusat industri dan budaya yang penting seperti Kiev (Kyiv), Donetsk, Kharkov (Kharkiv), Lvov (Lviv), dan Odessa (Odesa). Selain itu, Ukraina juga menjadi rumah dari beberapa industri berat Soviet yang besar, seperti pesawat Antonov, industri roket, energi, perkapalan, serta menjadi penyedia agrikultur bagi seluruh wilayah Uni Soviet. Karena sumber dayanya yang cukup baik serta luas wilayahnya yang merupakan negara terbesar kedua di Eropa, Ukraina dapat dikatakan layak untuk menjadi kekuatan regional yang cukup berpengaruh setelah menjadi negara merdeka.

Namun, tiga puluh tahun setelah merdeka, Ukraina tampak mengalami penurunan sumber daya dan masih sangat kesulitan untuk berperan sebagai kekuatan regional yang berpengaruh.

Kerawanan Ukraina pasca aneksasi Krimea dan insurgensi di Ukraina Timur adalah fenomena yang menjadi masalah besar bagi Ukraina. Namun, beberapa indikator lain seperti memburuknya kondisi industri berat Ukraina yang selama ini menjadi kebanggaanya, pengurangan populasi dari 51 juta (1991) menjadi 41 juta (2020), angka kematian yang jauh melebihi angka kelahiran (14.1 banding 8.7), angka harapan hidup rata-rata populasi (73 tahun) yang setara dengan Irak dan Korea Utara, serta pendapatan per kapita di bawah Indonesia dan Namibia membuat Ukraina masih sulit menjadi negara yang kuat dan sesuai dengan potensi seharusnya. Dalam tulisan ini, penulis berusaha membedah tiga faktor yang menyebabkan Ukraina mengalami stagnasi dan cenderung rawan, yaitu (1) dampak keruntuhan Uni Soviet yang masih terasa, (2) inefisiensi pemerintahan Ukraina, dan (3) isolasionisme Ukraina dalam integrasi regional, sebelum diakhiri dengan refleksi serta saran kebijakan bagi Ukraina dan negara-negara di sekitarnya.

Terkait faktor pertama, kita dapat melihat kemerosotan ekonomi dan sosial yang dialamu Ukraina memang juga dialami oleh negara-negara eks-Soviet lainnya, termasuk Rusia dan Belarus. Oleh karena itu, dapat dikatakan instabilitas dan ketidakpastian yang ditimbulkan keruntuhan Uni Soviet sebagai fenomena yang umum dan tidak hanya dialami Ukraina. Namun, setelah 30 tahun merdeka, dapat dilihat bahwa Ukraina masih kesulitan untuk bangkit dari masalah-masalah ini—berbeda dengan negara-negara lain seperti Rusia atau Kazakhstan. Penurunan populasi di Ukraina lebih parah dibanding Rusia (147 juta orang di 1991 dan 146 juta orang di 2021) dan Belarus (10 juta orang di 1991 dan 9 juta orang di 2021). Masih belum berhasilnya Ukraina menangani kemerosotan ini dapat dikaitkan dengan faktor selanjutnya, yaitu inefisiensi pemerintah Ukraina.

Ekonomi Ukraina mengalami kronisme dan korupsi yang cukup masif. Indeks Persepsi Korupsi 2021 memberi Ukraina poin 33 untuk penanganan korupsi (100 berarti paling baik)–lebih rendah dari Filipina dan Thailand. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap sektor-sektor industri strategis membuat Ukraina sulit mengembangkan dan memodernisasi industri-industrinya yang semakin dimakan usia. Sekali lagi, korupsi dan kronisme yang masif memang juga terjadi di negara eks-Soviet lainnya, termasuk Rusia. Namun, Rusia mampu membentuk perencanaan untuk modernisasi ekonomi dan industri strategisnya sejak Putin berkuasa yang memungkinkannya bangkit kembali sebagai salah satu kekuatan militer dunia, terlepas dari masalah struktural ekonominya. Sementara itu, Ukraina disulitkan karena pemerintahan yang tidak stabil dengan dua kudeta (2004 dan 2014) dan diperparah dengan konflik sipil di Ukraina Timur sejak 2014 yang menyulitkan pembangunan dan modernisasi di sana. Angin baru yang dibawa Volodymyr Zelensky tahun 2019 diharapkan bisa memberi harapan bagi kebangkitan Ukraina, meskipun hasil konkretnya belum tampak jelas sejauh ini.

Ketiga, Ukraina saat ini dapat dikatakan mengalami isolasi geopolitik dan geoekonomi. Meskipun berkali-kali negara-negara Barat mendeklarasikannya dukungannya untuk Ukraina dalam konfliknya dengan Rusia, Ukraina saat ini bukan merupakan anggota integrasi regional manapun, baik integrasi regional pimpinan Rusia seperti Uni Ekonomi Eurasia maupun institusi Barat seperti NATO dan Uni Eropa. Tekanan Rusia, tarik ulur kepentingan Rusia dan Uni Eropa, serta standar pemerintahan dan birokrasi Ukraina yang belum memenuhi standar Uni Eropa menghambat integrasi Ukraina dengan institusi Barat. Akibatnya, Ukraina masih sulit ikut serta dalam globalisasi ekonomi dan membangun hubungan mutualis dengan kawasna di sekitarnya. Rusia masih menjadi mitra dagang utama Ukraina meskipun konflik berlarut antara keduanya. Pada pandemi COVID-19, isolasi ini menghasilkan “batunya” dengan angka vaksinasi di Ukraina menjadi salah satu yang terendah di Eropa (5.7%) dengan Ukraina menolak vaksin Rusia serta tidak bisa menjadi bagian mekanisme vaksin Uni Eropa.

Dari masalah yang dihadapi Ukraina, penulis melihat perlunya sikap konkret dari Uni Eropa dan Rusia untuk membantu Ukraina. Mengingat Uni Eropa dan Rusia sudah bekerja sama dalam format Normandy Four terkait konflik Ukraina, kedepannya kedua pihak juga bisa membuat keanggotaan di Uni Eropa dan Uni Ekonomi Eurasia sebagai hal yang tidak mutually exclusive dan Ukraina bisa mengikuti keduanya. Meskipun pemerintahan Ukraina saat ini pro-Barat, namun tetap ada jutaan warga beretnis dan berbahasa Rusia yang tidak bisa dikesampingkan aspirasinya sehingga harus menjadi perhatian. Penulis juga melihat “integrasi ganda” dengan Uni Eropa maupun Rusia akan membantu Ukraina agar bisa menghidupi kembali potensi ekonomi dan sumber dayanya yang cukup baik. Selain itu, hal ini juga sesuai dengan sejarah Ukraina di mana bangsa Ukraina lahir dari Rus’ kuno (sebutan Kiev sebagai ibu dari kota-kota Rusia) sebelum sempat bergabung dengan Persemakmuran Polandia-Lithuania (yang memunculkan pengaruh Katolik dan bahasa Polandia bagi Ukraina, terutama di bagian barat) sebelum menjadi bagian Kekaisaran Rusia dan Uni Soviet, dan akhirnya menjadi negara merdeka pada 1991.

Meskipun saat ini Ukraina mengalami kesulitan, namun penulis ingin menutup tulisan ini dengan penggalan bait dari lagu kebangsaan Ukraina: shche ne vmerla Ukraina, ni slava, ni volya. (Ukraina belum mati, baik kejayaan maupun kebebasannya).

Jonathan Jordan adalah alumni Hubungan Internasional Universitas Indonesia yang memiliki minat pada kajian politik dan kebijakan luar negeri Rusia. Dapat ditemui di Instragram dengan nama pengguna @yurichernousov

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *