Rakyat Palestina Yang Rayakan Isra Mi’raj Diserang Militer Israel, Dunia Terdiam

Ilustrasi hasil kerusuhan di Masjid Al Aqsa. Foto: The New York Times

Senin (28/2), peringatan Hari Besar Isra Miraj yang dilakukan oleh 90,000 warga Palestina di Jerusalem Timur menemui serangan oleh pihak militer Israel. Konfrontasi ini meledak di Damascus Gate, ketika kerumunan besar tersebut hendak memasuki Masjid al-Aqsa di dalam kawasan Old City. 

Video yang diabadikan oleh kanal berita lokal Wafa menunjukkan tentara Israel berusaha memecah kerumunan warga Palestina secara membabi buta dengan peluru karet, skunk water, dan granat setrum, salah satunya melukai wajah seorang gadis kecil berusia 11 tahun. 

“Okupasi Israel tidak menyukai perayaan oleh Palestina, sehingga mereka menekan orang-orang di Damascus Gate. Melukai dan menangkap mereka,” tutur Ahed al-Rishq, seorang anggota gerakan Fatah di Jerusalem, pada Wafa. Di akhir insiden ini, setidaknya 31 orang terluka dan dua lainnya ditangkap.

Dilansir dari AP News, belum terdapat alasan jelas atas serangan Senin lalu dari pihak Israel. Namun, area di sekitar Damascus Gate memang telah menjadi saksi berbagai konfrontasi di masa lalu. 

Pada Ramadhan lalu, periode ketika umat Muslim menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh, polisi melarang masyarakat Palestina memasuki Damascus Gate terlepas dari tujuan mereka menjalankan tradisi turun-temurun di lokasi tersebut. Akibatnya, konfrontasi terjadi selama dua minggu dan menyebar dengan cepat antara militer Israel dan kelompok militan Hamas.

Penggunaan Kekuatan Militer Berlebih

Penggunaan kekuatan militer oleh Israel terhadap Palestina telah lama diprotes oleh berbagai organisasi hak asasi manusia internasional. Perlawanan ini terutama berdasar pada fakta bahwa kekuatan tersebut sering kali dilancarkan secara berlebihan kepada warga sipil di luar area konflik. 

Organisasi HAM B’Tselem, misalnya, mencatat 77 kematian warga Palestina di West Bank di tangan militer Israel tahun lalu. Padahal, lebih dari setengah warga yang terbunuh itu tidak pernah terlibat dalam serangan langsung terhadap Israel.

Serangan kali ini juga hanya berjarak kurang lebih seminggu setelah seorang tentara Israel membunuh Mohammed Shehadeh, anak laki-laki berusia 14 tahun, di kota Al-Khader di West Bank dengan alasan menjalankan ‘aktivitas kontraterorisme’. Sebelumnya lagi, seorang remaja 19 tahun Nehad Amin Barghoutti ditembak mati di kota Nabi Saleh, masih di West Bank.

Timpangnya Kepedulian Internasional

Terlepas dari intensitas kekerasan yang dilancarkan oleh kekuatan militer Israel, kecaman internasional serta sorot media masih minim dilayangkan. Hingga 2021, Israel telah membuka hubungan diplomatis dengan 168 negara anggota PBB, termasuk dengan dua tetangganya di Timur Tengah. Selain itu, Israel juga terus menerima dukungan strategis dari Amerika Serikat. 

Ketika DK PBB mengecam pemerintah Israel, AS sebagai sekutu strategisnya sekaligus anggota permanen DK PBB menolak merespons kritik yang juga tidak mengecam kekuatan militan Palestina, meskipun kekuatan di antara keduanya jelas sangat timpang. Dengan dukungan yang lebih kuat dari kecaman, Israel belum menerima cukup tekanan untuk menghentikan eskalasi militernya.

Di hadapan masyarakat internasional, konflik Israel Palestina juga tidak mendapat cukup perhatian. Standar ganda, misalnya, ditunjukkan lewat reaksi FIFA yang memutuskan untuk mendiskualifikasi Rusia dari Piala Dunia 2022. Sebaliknya, ketika diminta untuk memberi sanksi yang sama pada Israel, FIFA menyebut bahwa dirinya bukanlah ‘lapangan bermain’ untuk agenda politik.

Hierarki kepedulian ini seolah mengizinkan kekerasan untuk terus terjadi di Palestina tanpa campur tangan serius dari dunia internasional. Dalam menyikapi berbagai konflik dan ketidakadilan, masyarakat, media, dan pemimpin dunia seharusnya dapat memberikan pandangan yang sama terhadap penderitaan umat manusia di manapun juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.