Refleksi Partisipasi Pengungsi dalam Ajang Olimpiade dan Paralimpiade Musim Panas

Ilustrasi tim kontingen pengungsi di Olimpiade Tokyo 2020. Foto: Mike Blake/Reuters

Pentas olahraga Olimpiade dan Paralimpiade musim panas dalam dua edisi terakhir mengikutsertakan sebuah tim yang tidak mewakili suatu negara tertentu. Tim tersebut adalah kontingen pengungsi, atau dikenal sebagai Equipe Olympique des Réfugiés (EOR) dalam Olimpiade serta Independent Paralympic Athletes dan Refugee Paralympic Team (RPT) dalam Paralimpiade. Keikutsertaan tim pengungsi dalam pentas olahraga tertinggi di dunia merupakan respons komite penyelenggara—International Olympic Committee (IOC) untuk Olimpiade dan International Paralympic Committee (IPC)—terhadap peningkatan jumlah pengungsi di dunia. 

Para atlet yang tergabung dalam kontingen pengungsi merupakan olahragawan terseleksi yang berstatus sebagai pengungsi atau pencari suaka. Jumlah kontingen pengungsi pun terus mengalami peningkatan dalam dua edisi terakhir Olimpiade dan Paralimpiade. Pada Olimpiade dan Paralimpiade 2016, kontingen pengungsi beranggotakan dua belas atlet dimana sepuluh atlet bertanding di Olimpiade dan dua atlet bertanding di Paralimpiade. Kemudian, pada Olimpiade dan Paralimpiade 2020, anggota kontingen pengungsi meningkat menjadi empat puluh satu atlet—tiga puluh lima orang bertanding di Olimpiade dan enam orang bertanding di Paralimpiade. 

Peningkatan tersebut juga sejalan dengan meningkatnya komitmen IOC, IPC, negara-negara anggota, dan UNHCR dalam mempersiapkan kontingen pengungsi. IOC dan IPC masing-masing bertanggung jawab untuk proses seleksi, pelatihan, hingga pengiriman atlet pengungsi ke Olimpiade dan Paralimpiade. Mereka juga berkoordinasi dengan UNHCR dan negara-negara anggota mereka untuk memastikan status mereka sebagai pengungsi dan melaksanakan seleksi keolahragaan. Untuk mempersiapkan atlet pengungsi secara berkelanjutan, kedua komite penyelenggara juga telah mempersiapkan Dana Solidaritas yang akan membantu proses-proses pengiriman atlet pengungsi ke Olimpiade dan Paralimpiade. 

Partisipasi kontingen pengungsi dalam Olimpiade dan Paralimpiade menandakan adanya pergeseran gagasan nasionalisme yang sering menjadi ciri khas dalam kedua ajang tersebut. Partisipasi kontingen pengungsi memberikan penekanan kepada atlet selaku aktor utama dalam pentas olahraga dunia. Para atlet pengungsi, yang sebelumnya sulit mendapatkan representasi dalam Olimpiade dan Paralimpiade, sekarang memiliki kesempatan untuk membentuk impresi positif terhadap mereka tanpa menggantungkan nasib pada negara, baik negara asal maupun negara tujuan. 

Impresi tersebut penting untuk mengubah stigma negatif terhadap pengungsi di tengah kampanye politik identitas yang mengglobal. Kampanye politik identitas yang dominan dapat menyebabkan benturan peradaban (clash of civilization) yang menjadi kontur utama masyarakat dunia pasca Perang Dingin (Haynes, 2018). Oleh karena itu, kehadiran kontingen pengungsi dalam Olimpiade dan Paralimpiade diharapkan mampu mengurangi stigma negatif terhadap pengungsi sehingga mereka diterima dengan tangan terbuka tanpa mempermasalahkan identitas yang mereka bawa dari negara asal. 

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa program kontingen pengungsi masih jauh dari kata sempurna. Tata kelola pembinaan dan pengiriman atlet perlu dievaluasi dan diperbaiki. Kemitraan IOC/IPC, Komite Olimpiade/Paralimpiade Nasional negara penerima pengungsi, dan UNHCR masih belum bisa memastikan pemberian hak-hak yang setara antara atlet pengungsi dengan atlet-atlet yang mewakili entitas negara. Terkait dengan pengiriman kontingen pengungsi ke Olimpiade Tokyo 2020, seperti yang dilansir oleh BBC Sport, atlet lari asal Sudan Selatan yang mengungsi di Kenya, Angelina Lohalith, menyoroti ketidaksetaraan akses terhadap vaksin pra-keberangkatannya ke ajang olahraga tersebut. Ia merasa dinomorduakan dalam prioritas mendapatkan vaksin dan perlakuan lainnya karena statusnya sebagai pengungsi. 

Apabila ditelusuri, permasalahan yang terjadi di dalam pelatihan dan pembinaan atlet pengungsi lebih kompleks dari hal tersebut. Dikutip dari TIME, dalam periode 2017-2019 terdapat enam atlet asal Sudan Selatan yang kabur dari kamp pelatihan atlet pengungsi di Kenya. Mereka merasa bahwa hak-hak mereka dibatasi, seperti hak mendapatkan hadiah juara kompetisi hingga kontrol terhadap kehidupan mereka di luar dari program pelatihan. Kaburnya mereka dari kamp pelatihan tersebut pun mengakhiri mimpi mereka untuk berlaga di Olimpiade Tokyo 2020. Oleh karena itu, Kesetaraan dan pemberdayaan menjadi isu kunci yang perlu lebih diperhatikan oleh IOC, IPC, dan UNHCR. Kesejahteraan atlet-atlet pengungsi perlu menjadi fokus dari program kontingen pengungsi selain dari memberikan mereka kesempatan untuk berlaga di Olimpiade maupun Paralimpiade.

Sebagai penutup, kehadiran kontingen pengungsi dalam Olimpiade dan Paralimpiade merupakan perwujudan dari salah satu prinsip fundamental dari Olimpisme (Olympism), yaitu “Praktik Olahraga adalah Hak Asasi Manusia”. Melalui program kontingen pengungsi, IOC dan IPC memberikan kesempatan bagi atlet-atlet yang berstatus sebagai pengungsi untuk bisa melanjutkan karirnya di bidang olahraga dan membuka akses bagi mereka untuk bisa berlaga di pentas olahraga tertinggi di dunia tanpa perlu merepresentasikan bendera negara manapun. Program ini diharapkan untuk meningkatkan kesadaran dan solidaritas dunia serta membantu menghapuskan stigma negatif terhadap pengungsi. Walaupun begitu, ruang perbaikan masih terbuka lebar bagi program ini, terutama dalam bagaimana program tersebut bisa memastikan kesetaraan dan pemberdayaan atlet-atlet yang dibina.

Referensi:

Cullum, B. (2021, 5 Agustus). Tokyo Olympics: Refugee Team demoralised by vaccine snub. BBC Sport. https://www.bbc.com/sport/africa/58090087

Haynes, J. (2018). Huntington’s Clash of Civilizations Today: Responses and Developments. dalam Orsi, The ‘Clash of Civilization’ 25 Years On. E-International Relations.

Olympics. (n.d). Refugee Paralympic Team Announced for Tokyo 2020: Meet the Six Athletes Who Will Compete at the Games,https://olympics.com/tokyo-2020/en/paralympics/news/refugee-paralympic-team-announced 

Olympics. (n.d). IOC Refugee Olympic Team. https://olympics.com/ioc/refugee-olympic-team 

Walt, V. (2021, 8 Juli). The Olympic Refugee Team Was Created to Offer Hope. Some Athletes Are Running Away From It. TIME. https://time.com/6077132/tokyo-olympics-refugee-team/

Farhan Julianto dan Muhamad Fajar Irfandi adalah lulusan Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *