Reformasi Konstitusi: Harapan baru bagi Chili

Ilustrasi dari FPCI UPH

Terlepas dari segala ketidakmungkinan, harapan baru mulai tumbuh dan berkobar dengan cerah di hati rakyat Chili ketika suara mayoritas menyerukan perubahan Konstitusi.

Sebagai dokumen yang awalnya dibuat di tengah-tengah kediktatoran militer Augusto Pinochet, konstitusi ini telah dikreditkan sebagai model neoliberal yang sukses memicu pertumbuhan ekonomi yang sangat dibutuhkan negara tersebut. Namun yang memprihatinkan, hal itu justru memperparah kesenjangan secara dalam, yang mana banyak kelompok non-pemerintah telah menyatakan kekecewaan mereka terhadapnya. Tuntutan untuk menyelesaikan ketimpangan gender terutama bertambah pada akhir 2019, ketika demonstrasi massa menyebar ke seluruh negeri dengan menargetkan elit politik tradisional dan menyoroti ketidakpuasan warga terhadap disparitas yang memburuk di seluruh struktur kediktatoran.

Seorang profesor hukum Fernando Atria mengklaim bahwa dokumen saat ini tentu mencegah transformasi dan proses tetapi kini, peran baru rakyat Chili akan melibatkan penciptaan sistem politik baru yang mampu menjawab tuntutan rakyat. Menariknya, Istana Kepresidenan mengakui bahwa kekuatan politik tradisional sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan masyarakat. Pemungutan suara telah menghasilkan ketidakpastian dalam skala global seiring dengan mata uang lokal yang menurun bersama dengan pasar saham negara. Walau begitu, sebagian besar agensi bersikeras bahwa transisi ke Konstitusi baru akan menghasilkan konstitusi yang berkelanjutan dan stabil untuk kepercayaan investor.

Terlepas dari kemajuan sosialnya, perjuangan menuju persamaan hak dan demokrasi belum sepenuhnya dimenangkan. Para delegasi diharapkan untuk bertemu dan membahas mengenai aturan proses serta untuk memperdebatkan teks baru sebelum membawanya ke pemilihan lokal.

Jika pemungutan suara gagal, maka negara tersebut akan kembali ke Konstitusi lama.

Akankah reformasi Konstitusi menjadi langkah nyata menuju lingkungan yang lebih adil dan yang mencegah kekurangan bersejarah, atau akankah itu menjadi harapan palsu lain yang menyerah di tangan keuntungan ekonomi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *