Ilustrasi dari FPCI UPH

Pada hari Kamis tanggal 25 Maret, saat estafet obor Olimpiade di Jepang dimulai, Korea Utara turut menyalakan obor baru yang menandakan sesuatu yang lebih berbahaya di cakrawala: pengujian dua rudal balistik di lepas pantai timurnya. Trinitas pun menjadi khawatir: Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat—bersama dengan komunitas internasional.

Peluncuran itu dilakukan hanya beberapa hari setelah rudal jelajah ditembakkan dalam latihan militer dalam jarak dekat, yang Biden tidak sebut sebagai provokatif meskipun sebelumnya Pyongyang bersikap enggan dalam diplomasi mengenai masalah hak asasi manusia, denuklirisasi, dan sanksi. Tinjauan baru atas kebijakan AS terkait Korut sudah lama tertunda dan sangat dibutuhkan untuk mengekang DPRK. Hal ini mengindikasikan adanya dukungan besar dari Tiongkok dan penghindaran sanksi. 

Meskipun peristiwa baru-baru ini tidak berarti kegagalan total dalam diplomasi denuklirisasi, namun hal itu menunjukkan kemunduran besar untuk agenda AS.

Korut belum tertidur selama pandemi, mereka telah menambah persenjataan mereka dan menumpuk daya taraw ketika negosiasi dimulai kembali.

Perdana Menteri Yoshihide Suga telah menyatakan bahwa ia akan memastikan dimulainya Olimpiade secara aman dan bernegosiasi dengan Biden tentang masalah tetangga nakal tersebut dalam pertemuan mereka yang akan datang, serta telah mengajukan protes melalui kedutaan besarnya di Tiongkok, bersama dengan semburat kekesalan alis berkerut Dewan Keamanan Korea Selatan.

Korut telah menuding PBB atas standar ganda yang diterapkannya dengan mempermasalahkan fakta bahwa itu diluncurkan oleh Korut dan bukan negara lain—sedangkan juru bicara Barat menyebutnya sebagai pemberian tekanan pada pemerintahan AS yang baru. 

Pada akhirnya, ketegangan ini menunjukkan konflik yang terus membayang di cakrawala: senjata, kekuasaan, dan gagasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *