Rusia Peringatkan NATO: Jangan Ganggu Kami dan Ukraina

Ilustrasi tentara di garis depan perbatasan Ukraina dan Rusia. Foto: Gleb Garanich/Reuters

Rusia telah memberikan peringatan kepada NATO untuk tidak mengirimkan pasukan ke Ukraina, dan menyatakan bahwa gerakan tersebut hanya akan memperparah masalah dalam perbatasannya yang berada di tengah konflik berkepanjangan.

Peringatan ini muncul setelah NATO menunjukkan kekhawatiran pada hari Kamis (8/4) lalu mengenai adanya pergerakan militer di timur Ukraina, terutama setelah Amerika Serikat menyatakan untuk membela Ukraina jika Rusia melakukan “agresi”.

Juru bicara Rusia, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa eskalasi konflik yang terjadi di daerah kontak di timur Ukraina antar pasukan Ukraina dan kelompok separatis dukungan Rusia amat membahayakan, dan banyak “gerakan provokatif” yang terjadi disana.

“Tidak heran jika situasi tersebut menyebabkan sebuah kondisi yang menambah ketegangan yang terjadi di perbatasan Rusia. Tentu saja, hal ini akan mendorong Rusia untuk melakukan gerakan tambahan atas nama keamanan negara.” Peskov menyatakan, mengenai gerakan yang akan dilakukan Rusia bahwa, “Rusia tidak mengancam siapapun, dan kami tak pernah mengancam siapapun,” lanjutnya.

Ukraina telah memerangi aksi separatis di daerah timur provinsi Donetsk dan Lugansk semenjak 2014, hal ini merupakan respons dari aneksasi Rusia terhadap daerah Krimea yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Viktor Yanukovych sebelumnya.

Eskalasi konflik baru-baru ini merupakan konflik terbaru setelah adanya gencatan senjata pada tahun lalu. Rusia dan Ukraina sama-sama menyalahkan satu sama lain atas kekerasan yang memecah gencatan senjata ini.

Meningkatnya ketegangan terbaru ini telah mengundang respons dari dunia yang lebih luas, salah satunya dari Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken dan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin yang menyatakan dukungan mereka ke Ukraina jika konflik akan pecah.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menuduh Rusia bersekongkol dengan kelompok separatis yang ada di timur Rusia dan merencanakan serangan ke Ukraina.

Peskov menyatakan bahwa Rusia tidak berpartisipasi dalam konflik apapun dan menyatakan bahwa pernyataan Ukraina hanyalah tindakan provokasi belaka.

Wakil Perdana Menteri Rusia Andrei Rudenko menyatakan, “Rusia tidak tertarik untuk berkonflik melawan Ukraina, apalagi di masalah militer.”

Dengan konflik yang telah menghasilkan sekitar 13.000 korban jiwa, ketegangan ini tentunya akan bertambah parah jika Rusia dan NATO terlibat. Diharapkan Rusia dan Ukraina dapat menemukan jalan tengah untuk menghadapi konflik ini tanpa melibatkan NATO.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *