Sanksi EU atas Pembajakan Kebebasan Belarusia

Ilustrasi dari FPCI UPH

Dua puluh enam tahun Belarusia berada di bawah pemerintahan diktator Presiden Alexander Lukashenko, rakyat akhirnya menyadari bahwa kritikus tidak aman di mana pun—bahkan di udara.

Tertulis “Ryanair: Di mana Roman?!” dalam cengkeraman Belarusia, jurnalis dan aktivis oposisi terkemuka berusia 26 tahun, Roman Protasevich, ditangkap secara tidak masuk akal dalam perjalanan dari Yunani ke Lituania. Ia telah hidup di pengasingan setelah tahun lalu memainkan peran utama pada protes terhadap pemerintah Belarusia, yakni ketika tidak ada internet sama sekali dan NEXTA—saluran Telegram yang ia dirikan bersama—menjadi media terpenting yang dapat diakses.

Penerbangan komersial yang diambil Protasevich diturunkan oleh pesawat perang Belarusia dengan alasan dugaan ancaman bom. Presiden Lukashenko sendiri memesan jet tempur untuk mengawal pesawat Ryanair ke Minsk. Namun ternyata tidak ada bahan peledak yang ditemukan di pesawat sehingga para pemimpin Uni Eropa pun menuntut jawaban. Setelah menyebutnya sebagai serangan terhadap demokrasi, Uni Eropa telah mencapai serangkaian sanksi yang disepakati, yaitu melarang pesawat Belarusia untuk memasuki wilayah udaranya, memberikan sanksi terhadap individu dan entitas yang terkait dengan pengalihan pesawat, dan membekukan paket bantuan ekonomi senilai € 3 miliar. Dinyatakan, sanksi akan ini terus berlaku sampai Belarus ‘berubah menjadi demokratis’.

Insiden di langit Eropa Timur ini memicu kemarahan global. Para pemimpin Barat menyebutnya pembajakan dan afiliasi pembajakan. Dukungan global dan pembicaraan sanksi terus mendukung rakyat Belarusia yang membela hukum internasional dan hak asasi manusia —termasuk NATO, Inggris, dan Amerika Serikat. Belarusia menolak tuduhan itu sebagai “tidak berdasar”. 

Tekanan meningkat tetapi tidak membuktikan hal baru bagi Lukashenko; mengingat sanksi pertama Uni Eropa terhadap pemerintahannya pada tahun 2004, 17 tahun kemudian, diktator Lukashenko masih berkuasa—catatan, dengan dukungan penuh dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Ada kecurigaan umum bahwa Rusia kemungkinan berada di balik pembajakan pesawat yang dilakukan oleh Lukashenko.

Pada hari Senin, video 29 ​​detik dari Protasevich yang mengaku telah mengatur kerusuhan massal dan memastikan bahwa ia diperlakukan sesuai dengan hukum pun dirilis. Ini mendapat skeptisisme karena percaya dia dipaksa untuk memberikan pernyataan-pernyataan yang tidak dapat diverifikasi bahkan oleh video, apalagi dengan bekas luka terlihat di dahi Protasevich.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *