Signifikansi Pertemuan Biden-Putin bagi Hubungan Internasional

Ilustrasi pertemuan Joe Biden dan Vladimir Putin pada tahun 2011 lalu. Foto: AP

Pada 25 Mei 2021, Kremlin dan Gedung Putih resmi mengumumkan rencana pertemuan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang akan diadakan di Jenewa, Swiss, pada 16 Juni mendatang. Keputusan tersebut mengakhiri spekulasi yang beredar beberapa minggu terakhir mengenai rencana pertemuan kedua pemimpin, yang diperkuat dengan pertemuan Menlu Anthony Blinken dan Sergei Lavrov di Reykjavik, Islandia, dan pejabat keamanan masing-masing negara, Nikolai Patrushev dan John Sullivan di Jenewa beberapa hari kemudian. Pertemuan Biden-Putin merupakan fenomena menarik dalam hubungan internasional kontemporer, terutama di tengah panasnya hubungan kedua negara besar akhir-akhir ini. 

Lantas bagaimana signifikansi pertemuan Biden-Putin mendatang? Apa yang diharapkan dari pertemuan tersebut?

Dalam ilmu HI, konsep diplomasi adalah konsep yang penting dipelajari mengingat setiap negara melakukan diplomasi sebagai instrumen penting dalam kebijakan luar negerinya. Diplomasi dilakukan untuk membina hubungan damai dan menyelesaikan masalah internasional tanpa peperangan. Oleh karena itu, diplomasi sangat penting dalam menjaga hubungan negara-negara yang saling berkonfrontasi, tak terkecuali AS dan Rusia. Meskipun hubungan AS dan Rusia (dahulu Uni Soviet) seringkali menemui ketegangan, namun sejarah menunjukkan kedua negara sudah menjadikan pertemuan diplomatik rutin sebagai tradisi untuk menjaga stabilitas sistem internasional dan mencegah konflik besar antara keduanya. Di era Perang Dingin, pemimpin kedua negara bertemu dalam pertemuan-pertemuan di Moskow (1972), Vladivostok (1974), Jenewa (1985), Reykjavik (1986), dan Malta (1991) yang berkontribusi terhadap berakhirnya Perang Dingin. Sementara itu, di era pasca-Perang Dingin, kedua negara juga tetap rutin mengadakan pertemuan tingkat tinggi secara rutin, mulai dari di Vancouver (1993), Helsinki (1997), Ljubljana (2001), Bratislava (2005), Praha (2010) dan terbaru Helsinki (2018). Oleh karena itu, pertemuan Jenewa 2021 bukanlah sesuatu yang baru dalam hubungan diplomatik kedua negara.

Namun, pertemuan Jenewa bukanlah sesuatu yang biasa saja atau hanya sekedar menjalankan tradisi. Penulis melihat pertemuan Jenewa sebagai sesuatu yang signifikan karena menunjukkan adanya itikad baik dari baik AS maupun Rusia untuk menjamin stabilitas dan prediktabilitas dalam hubungan kedua negara, yang terlihat dari dokumen yang dipublikasikan kedua pihak. Selain itu, hubungan ini menunjukkan adanya niat kedua negara untuk melanjutkan komunikasi dan dialog strategis—sesuatu yang penting di tengah ketegangan kedua negara akibat kasus Navalny, serangan siber Rusia di AS, masalah Ukraina dan Afganistan, dan lain-lain. 

Oleh karena itu, rencana pertemuan ini patut diapresiasi, belum lagi mengingat tekanan domestik yang dihadapi Biden di dalam negeri, dengan beberapa senator yang ingin Biden menolak pertemuan ini karena ancaman Rusia terhadap AS. Padahal, sebuah penolakan akan berdampak sangat negatif terhadap hubungan kedua negara dan stabilitas internasional, seperti pada awal tahun 1980-an ketika baik komunikasi AS maupun Uni Soviet tersendat, muncul ketidakpastian yang menyebabkan kekhawatiran munculnya perang nuklir antara keduanya. 

Sementara, signifikansi kedua pertemuan ini tampak pada the China factor. Berbeda dengan dunia bipolar era Perang Dingin, saat ini sistem internasional mengarah menuju segitiga strategis antara tiga negara besar, yaitu AS, Rusia, dan Tiongkok. Hubungan triangular antara keduanya menjadi penting dengan penyesuaian sikap satu sama lain terhadap tindakan masing-masing. Ini tampak ketika pertemuan pejabat tinggi AS dan Tiongkok di Alaska berakhir konfliktual, Menlu Tiongkok langsung bertemu dengan Menlu Rusia, serta adanya strategi dual containment terhadap Rusia dan Tiongkok yang dijalankan AS.

Bagi baik AS maupun Rusia, pertemuan Jenewa juga akan berpengaruh pada faktor Tiongkok. AS ingin berusaha sebisa mungkin agar Rusia tidak terlalu akrab dengan Tiongkok untuk membentuk “front anti-Amerika”, di tengah hubungan Rusia-Tiongkok yang semakin menunjukkan kedekatan sebagai imbas sikap Amerika terhadap keduanya. Sementara itu, bagi Rusia, pertemuan ini juga menunjukkan bahwa Rusia tidak sepenuhnya bergabung dengan “kubu Tiongkok” dan juga tetap melihat hubungan dengan AS sebagai sesuatu yang penting, terutama di tengah ambisi hegemoni Tiongkok yang menguat dengan BRI yang berdampak bagi kedudukan Rusia di Eurasia.

Signifikansi terakhir dapat dilihat pada agenda pertemuan ini yang cukup luas, yang di dalamnya tidak hanya membahas hubungan AS-Rusia atau stabilitas internasional, tetapi juga memperlihatkan berbagai isu global seperti kerjasama dalam pandemi COVID-19, perubahan iklim, dan penyelesaian konflik-konflik regional. Komitmen AS untuk membahas isu-isu ini bersama Rusia dapat dilihat sebagai kemenangan diplomatik bagi Rusia, mengingat hal ini menunjukkan AS menganggap Rusia sebagai kekuatan besar yang penting bagi penyelesaian masalah-masalah global. Persepsi great power oleh AS adalah sesuatu yang dikejar Rusia pasca-Perang Dingin, mengingat Rusia khawatir jika AS memperlakukan pihak yang lebih lemah atau junior partner, ada kecenderungan AS akan mengabaikan kepentingan keamanan Rusia seperti terkait ekspansi NATO atau bahkan berharap bisa menggulingkan rezim yang berkuasa di Rusia dan mendorong arus demokratisasi pro-Amerika di Rusia. Meskipun begitu, jika melihat lanskap politik domestik Amerika secara keseluruhan, anggapan tentang Rusia sebagai great power tidak terwakili sepenuhnya dalam spektrum politik di sana, seperti dengan tetap adanya anggapan Rusia bukan great power atau harapan membawa perubahan demokratik di Rusia di pikiran beberapa pejabat Amerika.

Pertemuan Biden-Putin di Jenewa patut ditunggu sebagai salah satu fenomena penting hubungan internasional tahun ini. Kita lihat bagaimana dua pemimpin dengan pengalaman panjang dalam kehidupan politik negara mereka masing-masing akan duduk bersama dan membahas masalah-masalah internasional. Meskipun dalam pertemuan terakhir mereka pada tahun 2011 Biden sempat berkata bahwa “Saya menatap Putin di matanya dan saya merasa dia tidak punya jiwa,” namun kesepakatan untuk mengadakan pertemuan ini memperlihatkan tetap adanya “jiwa” bagi AS dan Rusia untuk menjaga stabilitas dalam hubungan kedua negara, yang juga berdampak besar pada stabilitas sistem internasional sebagai dua negara terkuat secara militer dan persenjataan nuklir.

Jonathan Jordan adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia yang memiliki minat pada kajian politik dan kebijakan luar negeri Rusia. Dapat ditemui di Instragram dengan nama pengguna @yurichernousov

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *