Tepati Janji Erdogan, Indonesia dan Turki Sepakati Kerja Sama Pertahanan

Ilustrasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto: Reuters

Pada hari Rabu (13/10), Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi bertemu dengan perwakilan Turki dalam kunjungan diplomatiknya ke Ankara. Menlu Indonesia menyatakan bahwa pertemuan berjalan dengan baik dan Indonesia berhasil memperkuat hubungan dengan Turki.

Salah satu bentuk hubungan baru Indonesia dengan Turki digagas dengan kesepakatan pengembangan bersama industri pertahanan. Kesepakatan ini menyangkut kerja sama Indonesia dan Turki untuk memproduksi infrastruktur peperangan. Dikabarkan bahwa Indonesia dan Turki akan berkolaborasi untuk memproduksi pesawat terbang dan tank berskala kecil.

Kesepakatan itu disetujui oleh Retno Marsudi dan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu. Retno menyatakan bahwa kesepakatan ini hanyalah hasil dari berbagai pertemuan dan hubungan yang pernah dilakukan Indonesia. Hal itu merujuk pada kunjungan Menhan Indonesia Prabowo Subianto yang telah beberapa kali bertemu Menhan Turki Hulusi Akar untuk membahas kerja sama tersebut.

Retno menilai finalisasi kerja sama tersebut sebagai sebuah langkah positif untuk hubungan diplomatik Indonesia dan Turki. Retno menyatakan bahwa mereka tidak akan berhenti sebatas perjanjian produksi senjata ini saja. Ia menyatakan bahwa Indonesia dan Turki sedang membicarakan mekanisme konsultasi pertahanan terbaru. Kemungkinan besar konsultasi akan berupa pertemuan yang makin reguler dan pengadaan dialog militer.

Selain soal pertahanan, Retno Marsudi juga mendiskusikan hal-hal lain bersama representasi Turki yang meliputi permasalahan kesehatan dan mencoba memajukan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partner Agreement (IT-CEPA) agar difinalisasi. Perundingan mengenai IT-CEPA telah berlangsung sekitar tiga tahun. Retno Marsudi mengharapkan Turki dan Indonesia bisa mencapai kesepakatan secepatnya, sehingga perjanjian tersebut dapat diratifikasi. Selain itu, Indonesia dan Turki pun sepakat untuk membentuk koridor perjalanan antara kedua negara tersebut.

Di bidang kesehatan, Retno Marsudi mendorong agar kerja sama jangka pendek yang dilakukan di bidang farmasi melalui dukungan obat terapeutik dapat menjadi jangka panjang. Retno menyatakan bahwa Indonesia akan meningkatkan suplai bahan baku obat untuk menguatkan hubungan dagang kesehatan mereka. Selain itu, Indonesia telah mencapai kesepakatan dengan Turki untuk saling memverifikasi dan mengakui sertifikat vaksin satu sama lain.

Retno Marsudi juga menyatakan bahwa ia juga menginisiasi dialog mengenai krisis politik di Myanmar dan Afghanistan.

“Sangat disayangkan krisis politik saat ini di Myanmar membuat upaya untuk menyelesaikan masalah Rohingya menjadi semakin sulit. RI-Turki memiliki keprihatinan yang sama terhadap krisis politik di Myanmar,” kata Retno.

“Terkait Afghanistan, kami menggarisbawahi kebutuhan dan kepentingan untuk membantu mengatasi situasi politik dan aspek kemanusiaan di Afghanistan. Indonesia dan Turki akan terus melakukan komunikasi cara terbaik bagi kedua negara dan negara sehaluan agar dapat membantu rakyat Afghanistan,” ucapnya menambahkan.

Janji Erdogan

Kunjungan Retno Marsudi ke Ankara dapat dilihat sebagai bagian dari perwujudan janji kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia seharusnya mengunjungi Indonesia pada akhir tahun 2020 untuk merayakan 70 tahun hubungan Turki dan Indonesia, namun kunjungan itu dibatalkan karena adanya pandemi.

Kunjungan Retno adalah bentuk kompensasi dari kunjungan Erdogan yang gagal. Erdogan menekankan bahwa kontak dan finalisasi perlu dicapai secepat mungkin agar kerja sama dengan Indonesia dapat efisien dan optimal. Walaupun begitu, Erdogan menyatakan bahwa ia akan berusaha untuk mengunjungi balik Indonesia pada tahun 2021.

Sebelumnya, Erdogan sempat bertemu Retno Marsudi di United Nations General Assembly (UNGA) ke-76 di New York untuk membicarakan pertemuan dengan Cavusoglu. Janji Itu pun telah ditepati dengan adanya kunjungan Retno di Ankara. Akan tetapi, Erdogan setuju dengan pendapat Retno bahwa Indonesia dan Turki perlu lebih sering berdialog mengenai masalah keamanan, apalagi setelah kesepakatan produksi perlengkapan perang ini difinalisasi.

Dengan demikian, Turki menjadi satu lagi negara dunia ketiga yang memiliki kerja sama pertahanan dengan Indonesia. Kedekatan kedua negara dalam panggung internasional dinilai menguntungkan oleh banyak pihak, terlebih lagi apabila IT-CEPA terwujud. Gestur-gestur persahabatan juga terus ditunjukkan oleh kedua belah pihak, salah satunya dengan kunjungan Erdogan pada bulan-bulan mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *