Trump Seminggu ke Belakang: Dari WHO sampai Hong Kong!

Ilustrasi Trump. Foto: FPCI UPH.

Amerika Serikat, negara yang pernah dikenal sebagai pemimpin dunia, khususnya dalam isu hak asasi manusia dan demokrasi, sekarang sedang berada di titik nadir karena sedang dikritik habis-habisan oleh berbagai negara di seluruh dunia akibat kebijakan-kebijakan yang kontroversial belakangan ini. Hal ini diperparah dengan masalah kebrutalan polisi yang terjadi dan ketidakstabilan politik di negara tersebut.

Setelah ancaman dan tuduhan yang dilayangkan Trump kepada WHO mengenai independensi dan kesalahan manajemen organisasi tersebut dalam menangani Covid-19, ia pun memutuskan untuk mengeluarkan keputusan eksekutif memotong dana ke WHO. Sebagai donor terbesar, keputusan Trump pun memicu reaksi dari berbagai pihak terkait. Asosiasi Medis Amerika menyebutnya sebagai langkah berbahaya di tengah situasi dunia yang genting. PBB mengatakan bahwa sekarang bukan saatnya untuk melakukan investigasi. Sedangkan dengan Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom berharap pendanaan Amerika Serikat untuk WHO akan tetap berlanjut.

Trump Siap Menekan Cina soal Kasus Hong Kong

Trump juga diberitakan telah membuat keputusan untuk mencabut status perdagangan khusus yang dimiliki oleh Amerika Serikat dengan Hong Kong. Hal ini disebabkan oleh Trump yang merasa bahwa “Tiongkok telah mengganti formula yang dijanjikan dari satu sistem dua negara menjadi satu sistem satu negara.”

Dengan dicabutnya status perdagangan khusus ini, Hong Kong tidak lagi dibebaskan dari tarif perdagangan, akan terdampak sanksi, dan berpotensi menghambat produk-produk padat ilmu dari Amerika Serikat. Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao Lijian mengungkapkan bahwa, “kata-kata dan perbuatan dari Amerika Serikat yang membahayakan kepentingan Cina akan secara tegas diserang balik oleh mereka.”

Permasalahan Rasisme Semakin Pelik

Masalah lain yang menghampiri adalah terkait kematian seorang warga Amerika Serikat keturunan Afrika-Amerika, George Floyd. Ia merupakan korban kebrutalan polisi yang mendorong warga Amerika Serikat berdemonstrasi menentang penyalahgunaan kekuasaan dan diskriminasi terhadap kaum kulit berwarna.

Protes pun meluas ke luar Amerika Serikat, sehingga membuat media sosial menjadi semakin ramai. Protes yang awalnya dilakukan secara damai pun berubah menjadi kekerasan di beberapa daerah, yang tentunya meningkatkan kekhawatiran. Bahkan, peretas terkenal Anonymous ikut bergabung dalam protes tersebut, dengan membeberkan tuduhan tentang pelanggaran masa lalu Trump kepada Jeffrey Epstein dan lainnya, sehingga meningkatkan amarah warga untuk balas dendam kepada Trump.

Situasi genting ini membuat Presiden Trump berlindung di dalam bunker Gedung Putih. Ia kembali muncul di hari Senin, 4 Juni 2020, dengan sebuah pidato yang menekankan bahwa dirinya akan menerapkan hukum dan mengembalikan ketertiban di Amerika Serikat. Jika demonstrasi berlanjut, Trump mengancam akan “mengerahkan kesatuan militer agar masalah segera terselesaikan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *