#ValentineSpecial: Adakah Cinta dalam Hubungan Internasional?

Ilustrasi Peta Dunia oleh Kontekstual

Pertengahan bulan April, 2017. 

Saya kala itu masih berstatus sebagai seorang mahasiswa semester empat jurusan Hubungan Internasional. Ide tentang Kontekstual bahkan belum muncul di kepala saya dan kawan lainnya. Waktu itu, yang sedang berputar di benak saya adalah bagaimana saya mampu lulus mata kuliah Teori Hubungan Internasional 2 di semester itu. Di kampus, mata kuliah ini identik dengan gagasan konstruktivisme, pandangan kritis, dan yang sejenisnya. Ribet dan kompleks lah, pokoknya, terlebih kalau dibandingkan dengan logika perspektif modern seperti realisme dan liberalisme.

Karena semester empat penuh dengan pandangan-pandangan kritis yang relatif baru kami terima di masa kuliah, kami para mahasiswa pun jadi senang mempertanyakan tentang banyak hal dan mengaitkannya dengan apa yang kami pahami di kelas. Kami berdiskusi di ruang perpustakaan jurusan, di kantin kampus sambil menyantap ayam kalasan, dan bahkan ketika sedang bersantai di kosan teman. Dari banyaknya pertanyaan, salah satu yang kami diskusikan adalah tentang bagaimana letak cinta dalam Ilmu Hubungan Internasional (Ilmu HI).

Serupa dengan film Ada Apa dengan Cinta, saya pun meyakini bahwa di dalam Ilmu HI juga terdapat cinta.

Cinta dalam Ilmu Hubungan Internasional

Memahami Ilmu Hubungan internasional—selayaknya memahami Ilmu Politik pada umumnya— akan dengan mudah menenggelamkan kita pada sebuah kesimpulan sederhana: Semua bergerak karena kepentingan, atau interest. 

Perdagangan bebas terlaksana karena ada kepentingan dari negara yang menandatangani. Aliansi militer dibentuk karena ada kepentingan untuk menjaga wilayah negara-negara yang terlibat. Semua dimasukkan ke dalam rasionalisasi kepentingan.

Sedangkan cinta, karena dianggap sebagai aspek yang tak rasional, seringkali dikategorikan sebagai aspek sekunder yang gugup untuk bersosialisasi dengan aspek-aspek gaul lainnya, seperti letak geografis, kekuatan ekonomi, atau aspek historis. 

Padahal, jika berbicara soal aspek tak rasional, Ilmu HI justru mengagung-agungkan ketakutan atau fear, yang sebenarnya juga tak rasional. Saya paham, ketakutan menjadi aspek yang superior dibanding cinta karena Ilmu HI arus utama berangkat dari asumsi bahwa sistem internasional bersifat anarki. Di dunia yang anarki, tujuan utama adalah untuk survive. Untuk mencapai tujuan utama tersebut, tak ada ruang untuk cinta. Semuanya berlomba-lomba untuk berkuasa dan ditakuti. Tak perlu lah itu cinta.

Saya juga paham bahwa Ilmu HI semakin sulit untuk meletakkan cinta dalam kajiannya, karena satu kejadian di tahun 1930-an. Kala itu, Britania Raya melakukan sebuah langkah kebijakan luar negeri yang tak berbeda jauh dengan cinta: appeasement, atau penentraman. Melalui diplomasi yang baik dan positif, Britania Raya berusaha untuk mendamaikan suasana di Eropa Barat. Langkah ini diambil agar Hitler mau meredakan ambisinya untuk melakukan aneksasi wilayah-wilayah di sekitarnya.

Yang terjadi? Gagal total. Peredaan justru berujung malapetaka. Sejak itu, analisis Ilmu HI semakin berkutat di lingkup power atau kuasa. Sebuah frasa terkenal yang cukup menggambarkan bahwa cinta tak perlu begitu dipertimbangkan adalah si vis pacem para bellum, yang kira-kira memiliki arti “jika kamu menginginkan damai, bersiaplah untuk perang.”

Namun, semua fokus yang dialamatkan pada kuasa, bukan menandakan absennya cinta. Tak banyak yang menyadari bahwa di dalam karya masyhurnya, Politics Among Nations, Hans Morgenthau turut memperhitungkan cinta dalam diskusi tentang kuasa dan rasa nasionalisme. Menurutnya, rasa cinta adalah satu dari serangkaian keterikatan emosional yang memperkuat gagasan nasionalisme, yang kemudian membuat sebuah kekuasaan menjadi kian terlegitimasi. Di dalam Politics Among Nations edisi tahun 1973, Morgenthau turut mendefinisikan kuasa sebagai sebuah hubungan psikologis antara yang berkuasa (pemerintah) dan yang dikuasai (rakyat).

Morgenthau juga meyakini bahwa rasa haus akan kekuasaan yang dimiliki oleh seorang manusia berangkat dari upayanya mencari alternatif pengganti dari cinta. Menurutnya, cinta dapat membuat seseorang merasa terpenuhi, tetapi tidak semua berhasil mendapatkannya. Akibatnya, manusia pun berlomba-lomba mengais kekuasaan, dalam rangka upayanya mencari pengganti cinta.

“Power becomes a substitute for love. What man cannot achieve for any length of time through love he tries to achieve through power: to fulfill himself, to make himself whole by overcoming his loneliness, his isolation.” 

– Hans Morgenthau, dalam esai Love and Power (1962) yang dipublikasikan dalam Commentary Magazine.

Posisi cinta yang ternyata signifikan dalam diskusi mengenai kuasa dan nasionalisme ini pun berimplikasi pada paradigma realisme. Paradigma ini mengasumsikan aktor negara sebagai aktor tunggal. Untuk sampai pada asumsi bahwa negara adalah aktor tunggal, itu berarti meletakkan seluruh warga negara sebagai bagian dari us dalam kerangka us vs. them. Menurut J. Samuel Barkin dalam buku Realist Constructivism (2010), ‘us ini hanya bisa tercapai jika seluruh masyarakat dalam sebuah negara memiliki kecintaan yang begitu mendalam pada negaranya. Jika kecintaan ini tidak ada, logika realisme ini pun menjadi pudar, karena ‘us’ yang dimaksud tersebut tak terpenuhi. Negara tak mampu menjadi aktor tunggal karena rakyatnya sendiri tak melihat dirinya sebagai bagian dari ‘ketunggalan’ sebuah negara.

Sedikit banyak, konstruktivisme memang telah menjadi pintu pembuka bagi cinta hadir dalam kajian-kajian Ilmu HI. Dengan hadirnya cinta, kajian-kajian Ilmu HI terasa lebih termanusiakan, dari yang sebelumnya dirasa hampa dan hanya penuh dengan pertumpahan darah demi kekuasaan. 

Hal ini juga yang membuat di dalam praktiknya, isu-isu hubungan internasional yang penuh dengan cinta cenderung berkaitan dengan kemanusiaan, berseberangan dengan kajian kuasa dan kepentingan yang cenderung digunakan untuk menganalisis aspek pertahanan dan perekonomian.

Cinta dalam Isu-Isu Hubungan Internasional

Selayaknya cinta hadir dalam Ilmu HI, cinta juga berperan besar dalam isu-isu hubungan internasional. Terutama, cinta hadir dalam isu-isu hubungan internasional yang berkaitan dengan perjuangan kemanusiaan.

Melihat cinta dalam isu hubungan internasional yang bersifat high politics menjadi cukup sulit karena kembali lagi, semuanya akan dikaji dalam kekuasaan dan kepentingan (meskipun di bagian sebelumnya, seperti yang sudah saya jelaskan, bahwa kekuasaan juga tak terlepas dari cinta). Namun, cinta akan benar-benar terasa jika kita berbicara soal isu-isu kemanusiaan yang turut menjadi isu dalam hubungan internasional.

Cinta dan identitas kolektif membentuk satu sama lain. Cinta jelas membentuk identitas kolektif sekelompok masyarakat. Begitu pun sebaliknya, identitas kolektif mampu menumbuhkan rasa cinta dua kelompok manusia yang mungkin belum pernah bertemu sebelumnya.

Saya senang mengamati isu-isu pengungsi dan bagaimana masyarakat seringkali bertentangan dengan negara soal isu ini. Banyak negara tak ingin membuka pintunya bagi pengungsi dari wilayah tertentu, tetapi masyarakatnya justru membantu kedatangan para pengungsi ini. Contoh terdekat adalah ketika pengungsi Rohingya datang dan dibantu oleh warga Aceh, ketika patroli keamanan laut sempat mengusir kapal-kapal mereka.

Sebaliknya, ada negara yang justru membuka pintu besar bagi para pengungsi, dengan landasan kemanusiaan. Namun masyarakatnya, karena tak merasa memiliki identitas kolektif yang relevan dengan para pengungsi tersebut, justru menolak kehadiran para pengungsi ini. Contohnya adalah bagaimana pengungsi dari wilayah konflik ditolak oleh sekelompok orang di benua Eropa. Ini semakin membuktikan bagaimana identitas kolektif dan cinta mempengaruhi satu sama lain, dan bagaimana tanpa salah satunya, sulit untuk menghadirkan yang lainnya.

Di dalam tulisan ini, saya memang menggunakan cinta dalam maknanya yang renggang. Cinta yang saya maksud di sini jelas tak eksklusif sebagai cinta antara dua manusia. Cinta dalam tulisan ini hadir dalam berbagai bentuk dan rupa. Cinta bisa hadir sebagai upaya pemenuhan diri sendiri, yang ternyata dapat berujung pada pemenuhan kekuasaan dan dapat berakhir buruk. Cinta juga dapat hadir untuk membentuk identitas kolektif ‘us, yang ternyata mempermudah kita mengamati gerak-gerik sebuah negara. Cinta juga bisa hadir dalam ruang dan waktu yang tak terduga, oleh dua kelompok yang tadinya terpisah batas negara dan tak pernah bertemu sebelumnya.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kalian semua merayakan cinta, dalam segala bentuk dan rupanya.

Hafizh Mulia adalah CEO dari Kontekstual. Dapat ditemui di Twitter dan Instagram dengan username @moelija.

Leave a Reply

Your email address will not be published.