Wacana European Super League dan Elitisme Sepak Bola

Florentino Pérez, bersama Presiden FIFA Gianni Infantino. Foto: Mahmoud Khaled/EPA

Pada Minggu (18/4), dilansir dari New York Times bahwa 12 klub besar Eropa yang terdiri dari klub Inggris, Italia dan Spanyol telah setuju untuk membentuk European Super League (Superliga Eropa).

Dilaporkan bahwa insentif bergabung ke dalam ESL adalah suntikan dana sebesar US$ 400 juta. ESL akan menjadi liga terpisah yang tidak bergabung pada entitas sepak bola Eropa terbesar saat ini yang adalah UEFA.

Florentino Perez, pemilik klub Real Madrid sekaligus Presiden ESL, menyatakan bahwa pembentukan ESL adalah bentuk kebutuhan klub atas keuntungan dan usaha pemenuhan keinginan fans.

“Kami akan membantu sepak bola di setiap level dan membawanya ke tempat yang selayaknya di dunia. Sepak bola adalah satu-satunya olahraga global di dunia dengan lebih dari empat miliar penggemar dan tanggung jawab kami sebagai klub besar adalah menanggapi keinginan mereka.” sebut Perez mengenai tujuan pembentukan ESL.

Pada masa pandemi COVID-19, klub Eropa memang mengalami kerugian besar karena hilangnya keuntungan penjualan tiket sementara keuntungan penyiaran televisi dipegang dan didistribusikan UEFA pada akhir tahun. Hal ini tidak didukung adanya permintaan tambahan pertandingan di tengah musim pandemi yang akan memakan banyak biaya.

Fans sepak bola Eropa memang memiliki keinginan tinggi akan kompetisi antarklub top Eropa dari berbagai negara. Hal itulah yang membuat diadakannya UEFA Champions League, ajang yang mempertemukan klub besar tersebut dalam kompetisi regional.

UEFA Champions League dianggap lebih adil dibanding European Super League karena bersifat lebih inklusif dan meritokrasi. Klub besar memiliki kemungkinan tidak bermain di UCL jika memiliki musim buruk, seperti Arsenal pada musim 2019-2020 misalnya. 

European Super League menilai bahwa ketiadaan klub “sumber keuntungan” tersebut menyebabkan kerugian, maka dari itu dalam ESL akan diterapkan sistem yang membuat klub tertentu untuk selalu hadir tanpa perlu adanya kualifikasi.

Hal tersebut memang menjamin adanya duel tim berkelas Eropa setiap tahun, tetapi meminimalisir kompetisi dan prestise dari duel tersebut. Fans internasional telah menyatakan bahwa pertandingan ikonik seperti El Clasico (Real Madrid vs. Barcelona) nyatanya sangat berkesan di setiap tahun karena hanya terjadi satu, dua, atau tiga kali. 

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson juga menyatakan ketidaksetujuan mereka atas rencana ini, dengan menyatakan bahwa kebijakan ini justru akan merusak sepak bola secara mendasar.

Para fans sendiri telah menyerukan bahwa sepak bola adalah permainan milik mereka yang miskin dan mereka melihat gerakan ini sebagai usaha orang kaya mengkapitalisasi permainan yang mereka cintai. Elitisme yang ditunjukkan klub kaya Eropa ini dikhawatirkan akan membunuh kompetisi yang menjadi daya tarik permainan sepak bola itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *