Analisis Pola Kompleks Keamanan Regional dalam Modernisasi Angkatan Laut Pakistan

Ilustrasi Kapal AL Pakistan. Foto: Pakistan Navy

Angkatan Laut (AL) Pakistan sedang melakukan modernisasi besar-besaran mulai tahun 2018. Dikutip dari Defense News (2020), Kepala Staf AL Pakistan 2017–2020, Laksamana Zafar Mahmood Abbasi menegaskan bahwa modernisasi AL tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ofensif dan kapasitas pertempuran. Pihaknya juga membenarkan bahwa AL Pakistan tengah merencanakan program angkatan laut berkelas global atau blue water navy dengan kemampuan untuk memproyeksikan kekuatan maritim di luar batas teritorialnya. Tentunya, modernisasi ini bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat Pakistan sendiri tengah terlibat rivalitas dengan India dan memiliki lokasi maritim yang strategis (Hervi, 2019).

AL Pakistan menargetkan terpenuhinya sejumlah aspek dalam proses modernisasi ini, seperti target jumlah dan jenis kapal serta persenjataan. Di antaranya adalah 50 kapal permukaan baru yakni 20 kapal perang; delapan kapal selam kelas Hangor yang akan menggantikan kapal selam kelas Agosta; dan pengembangan rudal hipersonik, seperti rudal P282. Pada 2025, ditargetkan paling sedikit 75% alat utama sistem pertahanan (alutsista) di atas terpenuhi. Rencana ini menunjukkan adanya kemajuan tersendiri dalam militer Pakistan, yang mana awalnya militer Pakistan secara umum bersifat “darat-sentris”, namun lambat laun pengembangan dan modernisasinya semakin berimbang dengan turut memprioritaskan sektor keamanan maritim (Hervi, 2019).

Sejumlah besar kapal yang dibidik AL Pakistan berasal dari dua negara, yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Turki. Dari RRT, Pakistan mengincar fregat anti-serangan udara Tipe 054AP serta kapal patroli lepas pantai kelas Kashmir dan Hingol berikut dengan transfer teknologinya (Dominguez, 2021). Rencananya, dua hingga tiga kapal akan dibangun di RRT sementara sisanya akan dilanjutkan oleh Pakistan secara mandiri. Sementara kepada Turki, Pakistan memesan fregat serbaguna kelas Jinnah dan korvet kelas Ada (Raza, 2019). Dilatarbelakangi dengan kompleksnya situasi regional, artikel ini akan menganalisis alasan utama pendekatan Pakistan terhadap dua negara di atas sebagai mitra modernisasi angkatan lautnya. Pendekatan yang digunakan adalah sintesis antara konsep perimbangan kekuatan (balance of power), situasi geopolitik regional, dan konstruksi keamanan kawasan yang kerap kali disebut sebagai Regional Security Complex Theory (RSCT).

Konsep Dasar RSCT sebagai Teorisasi Keamanan Regional dan Sekuritisasi

Barry Buzan dan Ole Wæver dalam Regions and Powers: The Structure of International Security (2003) menyatakan bahwa RSCT berupaya untuk memberikan penjelasan yang komprehensif tentang bagaimana pola tindakan suatu negara untuk “mengamankan dirinya” dengan sejumlah faktor, menjadi pengembangan lanjutan dari konsep adu kekuatan antarnegara (struggle for power), perimbangan kekuatan (balance of power), dan perimbangan ancaman (balance of threat) yang seringkali menjadi acuan para ilmuwan studi keamanan internasional klasik yang beraliran realisme. Konsep ini berupaya untuk mengisi “kekosongan” terkait reduksi realisme dalam menjelaskan konteks bagaimana suatu negara menghadapi ancaman regional dengan membangun persepsi terhadap negara lain, mengingat analisis keamanan regional yang kerap didasarkan pada konflik kekuatan semata nyatanya kurang komprehensif dan reduksionis. 

RSCT sendiri mengasumsikan bahwa keamanan suatu negara terkait erat dengan situasi geopolitik di kawasannya, sehingga proses sekuritisasi (tindakan pengamanan) akan bergantung dengan kompleks geopolitik regional tersebut. Terdapat dua pola yang menjadi ciri utama dari kompleks geopolitik regional menurut teori ini; pertama adalah pola persekutuan (amity), yaitu ketika suatu negara akan bermitra atau mendekati negara lain demi tindakan sekuritisasinya; dan kedua, adalah pola permusuhan (enmity), yakni ketika negara memiliki lawan yang harus diatasi demi berhasilnya kebijakan sekuritisasi.

Sekalipun konsep-konsep terkait kekuatan antarnegara juga dilibatkan, konsep ini cenderung menjelaskan kaitan antara kompleks keamanan regional dan persepsi antara satu aktor terhadap aktor lainnya dengan landasan geografis regional, sejarah, kultur, dan agama. Asumsinya, bahwa dua negara atau lebih yang memiliki kedekatan dalam faktor-faktor di atas akan cenderung membangun pola amity di antara sesamanya dalam mewujudkan sekuritisasi dan melakukan perimbangan kekuatan demi keamanan dan kedaulatannya dalam politik regional. Sebaliknya, dengan faktor-faktor yang sama, dua atau lebih negara dapat saling bermusuhan dan membangun konflik geopolitik secara regional (enmity). Sebagai contoh, Demurtas (2014) menyebutkan bahwa pembentukan komunitas keamanan guna menghadapi gerakan terorisme dalam lingkup Uni Eropa menjadi pola amity yang berlandaskan kedekatan regional dan kesatuan Uni Eropa sebagai satu kompleks wilayah. Selain itu, kesamaan nilai-nilai antarnegara anggota menjadi landasan kuat dalam konteks komunitas keamanan di Uni Eropa.

Analisis RSCT: Dasar Relasi Strategis Pakistan-RRT dalam Modernisasi AL Pakistan

Sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya, RSCT berupaya untuk menjelaskan konteks regional yang melatarbelakangi tindakan suatu negara melakukan sekuritisasi. Alasan utama akan modernisasi angkatan laut bagi pemerintah Pakistan adalah ancaman keamanan regional yang disebabkan oleh keberadaan India. Kedua negara masih berkonflik memperebutkan kawasan Kashmir, yang mana keberadaan tentara India di kawasan tersebut dipandang Pakistan sebagai pengancam kedaulatan yang dapat sewaktu-waktu merebut Kashmir. Apalagi, kedua negara pernah bertemu dalam sejumlah perang konvensional, di antaranya terjadi pada tahun 1948, 1965, 1971, dan terakhir 1999. Situasi panas tersebut juga diperparah dengan aneka inflitrasi militer India ke luar Garis Kontrol Aktual yang secara de facto memisahkan kedua wilayah Kashmir. Selain itu, ancaman dari India lainnya bagi Pakistan adalah Angkatan Laut India yang semakin ekspansif. Menurut International Institute of Strategic Studies dalam Military Balance (2021), India tengah mengembangkan armada kapal selam balistik nuklir kelas Arihant, kapal induk Vikrant, dan kapal-kapal perusak kelas Visakhapatnam yang seluruhnya diperkirakan beroperasi mulai pertengahan 2020-an. Situasi yang kompleks ini mengharuskan Pakistan untuk melakukan perimbangan kekuatan demi mengamankan kedaulatannya di kawasan, salah satunya dengan memodernisasi angkatan lautnya.

Dalam konteks modernisasi AL Pakistan, terdapat sejumlah alasan yang mendasari konstruksi kedekatan Pakistan dengan RRT. Selain kedekatan geografis yang mana kedua negara saling berbatasan dan memiliki akses transportasi langsung, konstruksi pola amity antara Pakistan dan RRT memiliki landasan sejarah yang cukup kompleks. Relasi strategis keduanya dimulai pasca-Perang RRT-India pada 1962, yang mana disadari bahwa keduanya tengah menghadapi lawan (enmity) yang sama. Pakistan menghadapi relasi yang konfliktual dengan India sejak puluhan tahun sebelumnya, sementara RRT pula harus menghadapi permasalahan perbatasan dengan India yang berlarut menjadi perang (Afridi & Bajoria, 2010). 

Selain India, Uni Soviet pula menjadi lawan bagi kedua negara; yakni Pakistan menganggap Uni Soviet menyebarkan pengaruh komunisme di kawasan yang menjadi ancaman tersendiri bagi Pakistan, sementara bagi RRT, Uni Soviet adalah pesaing utama bagi kekuatan komunisme (Gerson, 2010, hlm. 7–8). Pada sumber yang sama, dinyatakan pula bahwa relasi RRT-Uni Soviet memanas sejak 1950-an, di mana Mao Zedong menilai bahwa Soviet telah meninggalkan prinsip-prinsip komunisme dan dikhawatirkan menjadi ancaman bagi RRT.

Pada saat yang bersamaan, suplai alutsista RRT ke Pakistan meningkat. RRT menjadi mitra utama bagi Pakistan dalam kebijakan sekuritisasinya demi menangkal ancaman strategis dari India yang kian menguat seiring waktu. Tidak hanya menjadi penyuplai rutin alutsista ringan Pakistan sejak 1960-an, RRT juga mendukung — baik secara diplomatik maupun material — program senjata nuklir Pakistan dengan mengirimkan tenaga ahli dan teknologi sejak akhir 1980-an (Gulrez, 2015, hlm. 8). Keduanya juga menyepakati sejumlah transfer teknologi militer konvensional dalam berbagai sektor, terutama sejak era pemerintahan Nawaz Sharif pertama (1990-an) hingga akhir 2010-an. Berdasarkan argumen Sahu (2019) di antara yang paling signifikan adalah (1) tank MBT 2000 yang diproduksi di Pakistan dengan nama Al Khalid; (2) pesawat tempur JF-17 Thunder; (3) jet latih K-8 Karakorum; dan (4) kapal perang kelas Zulfiquar. Belum lagi, kedua negara juga bekerja sama dalam pengembangan pesawat tanpa awak (UAV) belakangan ini.

Belakangan, relasi ekonomi antara Pakistan dengan RRT juga mengalami kemajuan pesat dan menjadi landasan lainnya bagi relasi yang bersifat strategis. RRT menjadi negara mitra utama Pakistan dalam berbagai sektor, terutama ekonomi, pembangunan, dan perdagangan. Di antaranya adalah pembangunan koridor ekonomi RRT-Pakistan (CPEC) yang beroperasi sejak 2016 (Muhammad dkk., 2019). Koridor yang dibangun dalam kerangka Belt and Road Initiative (BRI) tersebut tidak hanya memastikan kelancaran transportasi antara RRT dan Pakistan, namun juga membuka jalur perdagangan bebas ke dan dari Pakistan dengan dibangunnya Pelabuhan Gwadar dan diperluasnya Pelabuhan Karachi. Selain itu, jalan-jalan darat yang dibangun di sepanjang koridor ini menjadi penghubung antara pelabuhan tersebut dengan sejumlah kawasan ekonomi khusus seperti Kashgar

Peningkatan ekspor persenjataan RRT ke Pakistan tergolong sangat signifikan, di mana antara 2009 hingga 2018, jumlah alutsista Pakistan yang berasal dari RRT mencapai 69,12% — naik drastis dari periode antara 2000 hingga 2009 yang hanya 51,3%. (Sahu, 2019). Pada periode yang sama, Pakistan menjadi negara utama sasaran ekspor alutsista RRT yang teratas, yang mana lebih dari 40% alutsista buatan RRT mendarat di sana (Sahu, 2019). Di sisi lain, penerimaan senjata dari AS terus menurun, yang mana pada 2018, hanya 4% dari ekspor senjata AS yang ditujukan untuk Pakistan. Penurunan itu pula ditandai dengan dibatalkannya bantuan kerja sama pertahanan AS-Pakistan senilai US$ 300 juta pada September 2018 (Stewart & Ali, 2018) karena kegagalan Pakistan dalam menekan kelompok ekstremis Islam. Padahal, Pakistan sendiri telah puluhan tahun menjadi sekutu utama non-NATO AS.

Meskipun bukan hal baru, kemitraan RRT-Pakistan dalam modernisasi AL Pakistan memang tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan modernisasi AD dan AU. Makin masifnya akuisisi dan transfer teknologi kapal perang belakangan, tentunya menjadi sejarah baru bagi keterlibatan RRT dalam modernisasi AL Pakistan. Kapal fregat Tipe 054AP yang dibeli oleh Pakistan dengan skema transfer teknologi misalnya, merupakan salah satu kapal perang tercanggih yang pernah diekspor oleh RRT. Kesepakatan pembelian empat kapal ini tercapai pada 1 Juni 2018 dan kapal tersebut langsung masuk lini produksi setahun kemudian (Navy Recognition, 2019). Menurut Naval News dan Jane, kapal pertama Pakistan dari kelas ini telah diluncurkan pada Agustus 2020 dan akan masuk dinas pada 2021, sementara kapal kedua telah diluncurkan pada 29 Januari 2021 lalu (Vavasseur, 2020 dalam Dominguez, 2021). Kapal sepanjang 134 meter ini memiliki bobot 4.000 ton dengan aneka persenjataan mutakhir, seperti 32 sel peluncur rudal antipesawat HQ-16; delapan rudal antikapal C-803 seri terbaru; dan sejumlah senjata lainnya, baik konvensional maupun elektronik.

Analisis RSCT: Dasar Relasi Strategis Pakistan-Turki dalam Modernisasi AL Pakistan

Di sisi lain, pembentukan pola persepsi amity antara Pakistan dengan Turki tidak terlalu dipengaruhi oleh kedekatan geografis—sebagaimana kedekatan antara RRT dan Pakistan—namun  cenderung dikonstruksikan melalui kedekatan kultur, sejarah, dan agama yang telah berlangsung selama berabad-abad. Praktis, relasi di antara masyarakat kedua negara telah berlangsung secara intensif. Pakistan menerima pengaruh kultur Turki yang cukup kuat, terutama pada bahasa Urdu yang menjadi bahasa nasional Pakistan (Garcia & Yapici, 2015). Interrelasi keduanya juga semakin erat berkat pengaruh Mazhab Hanafi yang menjadi standar hukum Islam di kedua negara sejak zaman Kekaisaran Mughal dan Ottoman, berikut pula tradisi sufisme yang menjadi corak Islam di kedua negara (Ewing & Corbett, 2020). 

Pola strategis Regional Security Complex sesuai dengan konsep yang dinyatakan Buzan dan Wæver semakin tampak pada era modern, tepatnya ketika Perang Dingin. Pada era ini, kerja sama keduanya dibangun di atas pondasi strategis. Ketika partisi Hindu-Muslim tahun 1947 di Asia Selatan yang berujung pada kemerdekaan India dan Pakistan, Turki menjadi salah satu negara pertama yang langsung mengakui kedaulatan Pakistan. Seiring waktu, kedekatan Pakistan dan Turki semakin erat dalam membendung pengaruh komunisme secara regional dalam payung Central Treaty Organization (CENTO) sejak April 1954, di mana ekspansi Uni Soviet sebagai kekuatan utama komunisme saat itu mendorong kedua negara untuk mempersepsikan Uni Soviet sebagai musuh bersama (enmity)

Lebih lanjut, Turki pula kerap beritikad baik mendukung posisi Pakistan dalam Konflik Kashmir, sementara Pakistan selalu mendukung Turki dalam percaturan geopolitik regional, terutama terkait Sengketa Siprus dan Invasi Soviet ke Afghanistan (Khan, 2020). Serupa dengan relasi strategis Pakistan-RRT, relasi strategis Pakistan-Turki juga disokong oleh aneka kesepakatan kerja sama dalam berbagai sektor. Pada 2015, keduanya menyepakati perjanjian perdagangan bebas dan berambisi memproyeksikan perdagangan bilateral hingga US$ 10 miliar pada 2022 (The News, 2016). Tidak hanya itu, pola amity semakin tampak dengan bentuk relasi kedua negara sebagai “poros kekuatan tengah” dan “poros kekuatan Islam” di Asia (Rafliq, 2021). Hal tersebut tidak mengherankan, mengingat karakteristik kekuatan dan daya tawar keduanya yang tergolong sebagai kekuatan menengah, baik secara regional maupun global. Terbentuknya poros kekuatan Islam di kawasan Asia diharapkan oleh Pakistan dapat mendukung kedaulatan negara tersebut dalam menghadapi pengaruh kekuatan lainnya, seperti India (Khan, 2020).

Sementara dalam konteks kerja sama keamanan regional yang diwujudkan dengan transfer alutsista, Turki yang tengah intensif mengembangkan industri militernya menyasar Pakistan sebagai salah satu importir alutsista utama. Dikutip dari Defense News (2018), pada 2014, kedua negara menyepakati transaksi 30 unit helikopter tempur T-129 Atak dengan nilai kontrak diperkirakan hingga US$ 1,5 miliar dan secara resmi masuk dinas militer Pakistan pada 2018. Turki pula menjadi mitra utama Pakistan dalam pembaruan jajaran pesawat tempur F-16 sejak 2018, seiring dengan menurunnya relasi antara Pakistan dan AS (negara asal F-16). Sebaliknya, Pakistan menyuplai Turki dengan pesawat latih Super Mushshak pada kesepakatan kontrak yang ditandatangani pada 2016 (Defenceturkey, 2017).

Situasi di atas tentunya menjadi landasan yang kuat bagi pendekatan pemerintah Pakistan terhadap Turki dalam rangka memodernisasi angkatan lautnya belakangan ini. Selain mempererat kerja sama strategis, pembelian kapal perang dari Turki juga meningkatkan kapabilitas industri angkatan laut Pakistan. Dalam kontrak yang disebut-sebut menjadi yang terbesar dalam sejarah ekspor alutsista Turki itu, Pakistan memesan empat kapal korvet kelas Ada — salah satu di antaranya akan dibuat di Pakistan. Selain itu, Pakistan terlibat dalam proyek MILGEM yang merupakan proyek ambisius dengan output berupa kapal-kapal korvet dan fregat mutakhir, di mana transfer teknologi dalam proyek ini akan diwujudkan dalam pembuatan kapal fregat kelas Jinnah (Hamit & Duz, 2019).

Prospek Keamanan Laut Pakistan dan Dinamika Geopolitik Kawasan

Modernisasi AL Pakistan praktis akan memperbarui kekuatan maritim Pakistan secara regional. Tindakan tersebut bermakna strategis, seiring dengan India, lawan geopolitik Pakistan pula tengah gencar memperkuat angkatan lautnya. Sebelumnya, AL Pakistan seringkali berada di bawah bayang-bayang AL India, apalagi dengan kemampuan AL India untuk memproyeksikan kekuatan secara lebih luas berkat kepemilikan kapal induk sementara AL Pakistan terkesan “semenjana” dengan kapal dan rudal yang menua. Dengan modernisasi ini, Pemerintah Pakistan meyakini bahwa kendati belum mampu benar-benar mengimbangi kekuatan India, namun AL Pakistan setidaknya semakin mampu berbicara banyak di kawasan Asia Selatan (Hervi, 2019).

Selain itu, bagi kedua negara mitra, pembaruan AL Pakistan mengartikan semakin terlindunginya kepentingan masing-masing dalam konteks relasi dengan Pakistan. Situasi ini jelas akan menjadi warna tersendiri bagi dinamika keamanan regional. RRT misalnya, dapat “memanfaatkan” situasi ini untuk membendung pengaruh India yang berpotensi kuat menyaingi RRT secara militer. Transfer teknologi dari RRT kepada Pakistan terkait teknologi keamanan laut juga berarti meluasnya pengaruh negara tersebut ke Asia Selatan dan menjadi disrupsi bagi hegemoni India di kawasan ini. Di sisi lain, bagi Turki, kerja sama pertahanan ini dapat menjadi landasan pembentukan poros strategis antara dua kekuatan Islam di Asia yang sekaligus menjadi ajang pengembangan teknologi militer. 

Terakhir, analisis ini menggambarkan bahwa kompleks keamanan regional jelas memengaruhi persepsi suatu negara dalam melakukan tindakan sekuritisasi sehingga tidak bersumber dari kalkulasi kekuatan semata. Pola-pola yang terbentuk dari kerangka RSCT terlihat jelas dari bagaimana Pakistan mempersepsikan RRT dan Turki sebagai mitra dan sekutu strategis demi memodernisasi angkatan lautnya demi mengatasi ancaman keamanan regional. Kemitraan antara Pakistan dengan dua negara tersebut bukan sekadar dilandasi oleh musuh strategis bersama atau persoalan perimbangan kekuatan belaka, melainkan terdapat latar belakang kedekatan sejarah, kultur, dan bahkan agama

REFERENSI

Afridi, J., & Bajoria, J. (2010, July 20). China-Pakistan Relations—Council on Foreign Relations. Retrieved March 9, 2021, from https://web.archive.org/web/20100720031849/http://www.cfr.org/publication/10070/chinapakistan_relations.html

Ahmar, M. (2021). Strategic Meaning of the China-Pakistan Economic Corridor. 16.

Ansari, U. (2020, October 14). Outgoing Pakistan Navy chief reveals details of modernization programs. Retrieved March 9, 2021, from Defense News website: https://www.defensenews.com/naval/2020/10/14/outgoing-pakistan-navy-chief-reveals-details-of-modernization-programs/

Bekdil, B. E. (2018, May 29). Turkey, Pakistan reach their largest-ever defense contract. Retrieved March 11, 2021, from Defense News website: https://www.defensenews.com/global/mideast-africa/2018/05/29/turkey-pakistan-reach-their-largest-ever-defense-contract/

Buzan, B., & Waever, O. (2003). Regions and Powers: The Structure of International Security. Cambridge: Cambridge University Press.

Byman, D., & Cliff, R. (1999). Explaining China’s Arms Transfer. In China’s Arms Sales: Motivations and Implications (pp. 7–28). Santa Monica, California: RAND Corporation.

Dominguez, G. (2021, January 29). China launches second Type 054A/P-class frigate for Pakistan Navy. Retrieved March 10, 2021, from Janes.com website: https://www.janes.com/defence-news/news-detail/china-launches-second-type-054ap-class-frigate-for-pakistan-navy

Ewing, K. P., & Corbett, R. (2020). Modern Sufis and the State: The Politics of Islam in South Asia and Beyond. New York City: Columbia University Press. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/10.7312/ewin19574

Gerson, M. (2010). The Sino-Soviet Border Conflict: Deterrence, Escalation, and the Threat of Nuclear War in 1969 (No. ASCO 2010 027; p. 74). Center for Naval Analyses. Retrieved from Center for Naval Analyses website: https://www.cna.org/cna_files/pdf/d0022974.a2.pdf

Gogna, S., & Khatoon, N. (2020). The China-Pakistan Nuclear Nexus: How Can India Respond? Retrieved March 9, 2021, from https://thediplomat.com/2020/03/the-china-pakistan-nuclear-nexus-how-can-india-respond/

Gulrez, A. (2015). Pakistan-China Strategic Relations (pp. 1–15). Strategic Studies Institute, US Army War College. Retrieved from Strategic Studies Institute, US Army War College website: http://www.jstor.org/stable/resrep11941.3

Hamit, D., & Duz, Z. N. (2019, September 29). Ship enters navy, Pak-bound ship being built. Retrieved March 11, 2021, from Anadolu News Agency website: https://www.aa.com.tr/en/turkey/ship-enters-navy-pak-bound-ship-being-built/1597298

Hervi, M. A. (2019). Pakistan Naval Upgrading in South Asia: A Form of Bandwagoning. 14.

Ibrar, M., Mi, J., Rafiq, M., & Ali, L. (2019). China-Pakistan Economic Corridor: Ensuring Pakistan’s Economic Benefits. Khazar Journal of Humanities and Social Sciences, 22(1), 38–51. doi: 10.5782/2223-2621.2019.22.1.38

Khan, S. (2020). Dynamics of Pakistan-Turkey Relations. Pakistan Review of Social Sciences, 1(2).

Navy Recognition. (2019, November). Steel cutting ceremony for two Type 054A/P frigates in China built for Pakistan Navy. Retrieved March 11, 2021, from Navy Recognition website: https://www.navyrecognition.com/index.php/news/defence-news/2019/november/7644-steel-cutting-ceremony-for-two-type-054a-p-in-pakistan-built-for-pakistan-navy.html

Rafiq. (2021, January 29). The Turkey-Pakistan entente: Muslim middle powers align in Eurasia. Retrieved March 16, 2021, from Middle East Institute website: https://www.mei.edu/publications/turkey-pakistan-entente-muslim-middle-powers-align-eurasia

Sahu, A. (2019, June 14). Analysing the trends in China-Pakistan arms transfer. Retrieved March 10, 2021, from Observer Research Foundation website: https://www.orfonline.org/expert-speak/analysing-trends-arms-transfer-china-pakistan/

The International Institute for Strategic Studies. (2021). The Military Balance 2021. London: Routledge, Taylor & Francis Group.

Turnbull, G. (2014, April 1). Turkey’s formidable defence industry – rising star or NATO’s unruly ally? Retrieved March 11, 2021, from Army Technology website: https://www.army-technology.com/features/featureturkeys-formidable-defence-industry-rising-star-or-natos-unruly-ally-4207115/

Alfin Febrian Basundoro merupakan mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada. Dapat ditemui di Instagram dengan nama pengguna @alfinfbasundoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *