AS Hentikan Bantuan Militer Saudi, Biden Ingin Hentikan Konflik Yaman

Ilustrasi Militer Saudi Arabia. Foto: Reuters

Amerika Serikat lagi-lagi bergerak dan melakukan perubahan dalam kebijakan luar negerinya. Sesuai dengan sentimen dan janji Joe Biden pada masa kampanye, target AS adalah mengakhiri perang-perang yang sedang terjadi. Salah satu perang tersebut adalah konflik Arab Saudi dan Yaman yang mana AS merupakan salah satu fasilitator logistik terbesar Arab Saudi.

Biden menyerukan tentang perlunya perubahan radikal untuk menghentikan perang ini dan hal itu ia jalankan melalui penghentian bantuan ini. Dihentikannya bantuan militer dari AS ke Arab Saudi diperkirakan akan melemahkan kemampuan militer Arab Saudi secara signifikan dan mengurangi korban perang. Walau begitu, belum dapat dipastikan detail jenis bantuan apa saja yang akan dipotong AS ke Arab Saudi.

Ahli keamanan dari Institusi Brookings Bruce Riedel menyatakan, “Amerika Serikat menyediakan suku cadang, amunisi, bantuan teknis, dan segala bentuk bantuan ke militer Arab Saudi untuk menunjang aktivitas ofensifnya. Oleh karena itu, jika Arab Saudi terus melakukan pemboman di Yaman, maka melalui doktrin baru ini AS akan menghentikan bantuannya.” Pemberian bantuan seperti yang dijelaskan Riedel telah dilakukan sejak tahun 2015 silam. Semenjak saat itu, telah ada ribuan kematian penduduk lokal dan bencana kemanusiaan yang mengakibatkan 13,5 juta orang berada di ambang kelaparan. Dalam jangka waktu empat tahun dari 2015-2019, jumlah impor senjata yang dilakukan Arab Saudi dari AS telah meningkat 130% sehingga kini sebesar 73% kegiatan impor persenjataan Arab Saudi adalah berasal dari AS.

Peningkatan jumlah ekspor senjata AS terbesar terjadi pada pemerintahan Trump, yang mana Trump sendiri adalah sekutu besar Arab Saudi. Penjualan senjata pada Arab Saudi pada pemerintahan Trump diperkirakan bernilai sebesar US$ 27,4 miliar. Sementara itu, pemerintahan Biden telah menangguhkan beberapa kesepakatan penjualan senjata ke Arab Saudi dengan alasan evaluasi kebijakan luar negeri. Adapun sejauh ini sudah ada dua kebijakan mengenai bom diameter kecil GBU-39 dan peluru kendali presisi yang telah dibatalkan AS. Semua ini dilakukan Biden untuk menekan kekuatan Arab Saudi—terutama dalam kapabilitas ofensifnya.

Tentunya keberadaan inisiatif penghentian bantuan dan sentimen ini adalah sesuatu yang dinilai positif bagi pihak penentang perang. Gerakan ini dinilai sebagai langkah awal yang sangat baik untuk mengurangi perang atau konflik. Namun, Hassan El-Tayyab yang merupakan pelobi kebijakan Timur Tengah di Friends Committee of National Legislation (FCNL) menyatakan bahwa aktivis masih belum bisa beristirahat. Ia berpendapat bahwa perjuangan masih panjang dan aktivis tidak boleh mengerem segala pergerakan melainkan mereka harus terus tancap gas.

Untuk sementara waktu, perjanjian ini menunjukkan akan adanya penghentian suplai militeristik AS ke Arab Saudi. Masalah yang tertinggal hanyalah detail akan bantuan apa yang akan dihentikan. Perubahan kebijakan terhadap Saudi ini kembali menegaskan kontras antara kebijakan luar negeri AS di bawah pemerintahan Biden dengan kebijakan pemerintahan Trump.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *