Balada Delta: Dari Pembatasan Olimpiade Tokyo Hingga Indonesia Peringkat Dua Kasus Harian

Ilustrasi seorang perempuan berkabung di Pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Foto: P.J. Leo/JP

Varian delta dari COVID-19 seakan sedang menjadi momok yang paling berbahaya di dunia saat ini. Dilansir dari CNN, Varian COVID-19 yang berasal dari India tersebut disinyalir dua kali lipat lebih menular dibandingkan varian lainnya.

“Kita harus melihat varian Delta tersebut sebagai COVID-19 yang seakan sudah disuntik steroid,” ujar Andy Slavitt, mantan penasihat senior COVID Response Team Amerika Serikat.

Slavitt menambahkan bahwa varian tersebut masih dapat diredam oleh vaksin. Meskipun demikian, varian tersebut telah menciptakan peningkatan jumlah kasus COVID-19 yang masif di berbagai negara, hingga mengacaukan pagelaran olahraga akbar dunia.

Olimpiade Tokyo

Penyebaran varian delta COVID-19 memberikan dampak besar bagi pelaksanaan Olimpiade Tokyo 2020. Otoritas Jepang dan dan International Olympiad Committee (IOC) akhirnya memutuskan bahwa Olimpiade tahun ini tidak akan dihadiri oleh penonton.

Atlet dan staf olahraga dari negara kontingen juga harus menjalani tes COVID-19 setiba dan sepulangnya dari negara tersebut.

Dikutip dari BBC, pemberlakuan ketat tersebut mengingat adanya lonjakan kasus Covid-19 yang masif di Jepang sejak April 2021. Per 8 Juli, terdapat 812.089 kasus dan 14.848 kematian akibat COVID-19 di Jepang. Keadaan darurat bahkan telah diberlakukan di Tokyo sejak 8 Juli hingga 22 Agustus nanti.

Berdasarkan survei dari koran Asahi Shimbun, 80% penduduk Jepang menginginkan Olimpiade kembali ditunda atau bahkan dibatalkan. Namun, Olimpiade Tokyo tetap berjalan atas kesepakatan antara IOC dan Pemerintah Jepang.

Kolapsnya Layanan Kesehatan di Indonesia akibat Varian Delta

Amukan varian delta juga menyebabkan gelombang baru dan peningkatan kasus harian COVID-19 di Indonesia.

Dilansir dari Nikkei Asia, kasus baru harian di Indonesia per 8 Juli 2021 telah mencapai 38.391 kasus. Bahkan, untuk pertama kalinya kasus kematian harian akibat COVID-19 juga telah menembus 1.000 kematian dalam sehari, tepatnya 1.040 kematian akibat COVID-19.

Lonjakan kasus yang masif tersebut menyebabkan penuhnya rumah sakit di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa yang bed occupancy rate (BOR)-nya sudah mencapai lebih dari 80%. Suplai oksigen juga menjadi sangat terbatas.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah Indonesia memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat selama 3-20 Juli. PPKM Darurat ini terutama menjadi mekanisme yang paling ketat dari jenis-jenis PPKM sebelumnya, yang kini hampir menyerupai lockdown. Meski begitu, banyak ahli menyayangkan keterlambatan PPKM Darurat dan kealpaan pemerintah lainnya.

Amukan varian delta COVID-19 tersebut pada akhirnya memperlihatkan keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing negara. Gelombang baru menjadi tantangan pemerintahan dan masyarakat di dunia untuk kembali melakukan penyesuaian dan menghentikan penyebarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *