Barisan Nasional Rebut Kemenangan di Pemilu Johor, Akhiri Momentum Pakatan Harapan

Ilustrasi kemenangan Barisan Nasional. Foto: CNA/Amir Yusof

Sabtu (12/3), Pemilu Johor menyaksikan koalisi Barisan Nasional yang dipimpin partai United Malays National Organization (UMNO) meraih kemenangan definitif sebanyak 40 dari 56 kursi.

Kemenangan Barisan Nasional (BN) seolah membuka kembali masa kejayaannya yang sempat kandas akibat skandal korupsi 1MDB hingga miliaran ringgit yang menimpa Najib Razak, mantan Perdana Menteri Malaysia yang telah menjabat sejak 2009. Menyusul skandal tersebut, Johor yang telah lama dianggap sebagai basis dukungan bagi BN justru dimenangkan oleh koalisi oposisi Pakatan Harapan (PH) pada pemilu tahun 2018 lalu, pertama kalinya dalam sejarah politik Malaysia. 

Johor merupakan negara bagian dengan populasi 3.5 juta jiwa sehingga menjadi negara bagian paling penting di perpolitikan Malaysia. Kemenangan di Johor seringkali menjadi indikator bagi perpolitikan di tingkat nasional.

Kini, hasil Pemilu Johor bahkan melebihi ekspektasi sebesar dua per tiga mayoritas yang BN anggap sudah cukup untuk menstabilkan posisinya di negara bagian terbesar Malaysia tersebut. “Kemenangan ini adalah hadiah untuk boss-ku,” kata ketua BN Ahmad Zahid Hamidi, merujuk pada Najib Razak dengan sebutannya yang populer.

Koalisi lainnya tentu tak memenangkan banyak kursi, dengan Pakatan Harapan (PH) memperoleh dua belas kursi, Perikatan Nasional (PN) tiga kursi, dan partai baru Malaysian United Democratic Alliance (MUDA) hanya satu kursi.

Ketua PH, Aminul Huda Hasan, menyebutkan bahwa dia menerima hasilnya, tetapi tetap merefleksikan kesalahan serta kelemahan strategi koalisinya. “Kami pernah menjadi pemerintah, juga sudah terbiasa menjadi oposisi,” sebutnya, “kami akan terus berjuang untuk memenangkan mandat rakyat.”

Kembali ke Dominasi BN dalam Perpolitikan Malaysia

Sejak 2019, secara gradual BN memulihkan kekuatannya lewat kemenangan pemilu di Cameron Highlands, Semenyih, Rantau, dan Tanjung Piai. Selain itu, kontrol juga diambil kembali terhadap negara bagian Johor, Malaka, dan Perak.

Dilansir dari Channel News Asia, Profesor James Chin dari University of Tasmania menyatakan bahwa strategi koheren jangka panjang untuk mendekati masyarakat telah dilakukan BN dan UMNO jauh sebelum periode pemilu. Karenanya, selain memperoleh suara di wilayah mayoritas pendukungnya, BN juga mengamankan suara di wilayah selatan Johor yang sebelumnya dimenangkan oleh PH di Pemilu 2018.

Terlebih lagi, kemenangan di Johor akan memotivasi BN untuk semakin menekan PM Ismail Sabri Yaakob agar segera melangsungkan pemilu nasional dan membubarkan parlemen saat ini. Parlemen ke-14 memang telah disepakati untuk secara sah dan otomatis dibubarkan selambat-lambatnya pada Juni 2023, tetapi tekanan BN pada perdana menteri sebagai pemegang mandat pemilu dapat menjadi faktor pemercepat pembubaran ini.

Selain itu, momentum kemenangan ini akan mengizinkan BN berkoalisi dengan lebih erat sekaligus meraup imej baik dari publik secara lebih masif lagi. Bahkan, citra mantan PM Najib Razak yang sebelumnya tercoreng pun dipastikan semakin membaik.

Di saat yang bersamaan, koalisi PH justru kesulitan untuk mengatur koordinasi internalnya masing-masing. Analis politik Dr. Serina Rahman menyebut bahwa komponen politik di dalam PH menggunakan logo yang berbeda-beda dalam pemilu, suatu hal yang akan menyulitkan pemilih untuk mengingat mereka. 

Dengan demikian, kemenangan BN di Johor telah menjadi indikasi kuat kembalinya dominasi BN dalam perpolitikan nasional Malaysia. Jika koalisi lainnya tak kunjung membangun kekuatan, bukan tidak mungkin BN akan kembali menguasai dinamika perpolitikan Malaysia untuk waktu lama, terlebih lagi dengan prospek dipanggilnya pemilu dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.