Belanja Alutsista, Indonesia Borong 78 Pesawat Tempur Prancis dan AS

Ilustrasi jet tempur Dassault Rafale. Foto: Dassault Aviation – A. Pecchi

Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto baru saja menerima kunjungan Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly pada Kamis (10/2) di Jakarta. Kedua pihak mengadakan pertemuan yang membahas mengenai kerja sama pertahanan bagi kedua negara. Pertemuan ini kemudian menghasilkan kesepakatan berupa pengadaan alutsista, dimana Indonesia secara resmi membeli 42 pesawat tempur Dassault Rafale generasi 4.5 dari Prancis.

Pada tahap pertama, Indonesia telah menerima enam unit pesawat tempur Rafale, yang merupakan buatan perusahaan dirgantara Prancis Dassault Aviation. “Mulai hari ini, terdapat kontrak pertama untuk enam pesawat yang akan disusul dalam waktu dekat untuk 36 pesawat lainnya dengan dukungan latihan persenjataan dan simulator yang dibutuhkan,” ujar Prabowo.

Sebagai pesawat tempur termahal keempat di dunia, Rafale memiliki spesifikasi unggulan yang cukup bergengsi di kelasnya. Dengan mesin ganda M88-2 bentukan SNECMA, pesawat ini mampu melaju secepat 1.389 km/jam. Pesawat ini juga dilengkapi dengan berbagai persenjataan yang canggih.

Selain dari Prancis, kemungkinan pembelian pesawat tempur baru juga datang dari Amerika Serikat. Rencana penjualan 36 pesawat tempur F-15 kepada Indonesia baru saja disetujui oleh Departemen Luar Negeri AS. 

Pembelian pesawat tempur serta peralatan utama sistem pertahanan dari AS ini ditaksir mencapai harga sebesar US$ 14 miliar (Rp 200,8 triliun). 

Tidak Hanya Pesawat Tempur

Selain pesawat tempur, Indonesia juga akan membeli dua kapal selam kelas Scorpene dari Prancis. Perusahaan kapal Indonesia PT PAL akan bekerja sama dalam hal penelitian dan pengembangan kapal selam dengan perusahaan kapal asal Prancis Naval Group.

Berbagai nota kesepahaman (MoU) juga dihasilkan untuk mempererat kerja sama pertahanan kedua negara. Diantaranya adalah, kerja sama PT DI dan Dassault dalam hal pemeliharaan pesawat tempur, kerja sama perusahaan elektronik Indonesia PT LEN dan Thales Group dari Prancis dalam hal telekomunikasi, serta kerja sama PT Pindad dengan perusahaan manufaktur amunisi Prancis Nexter Munition, dalam hal pembuatan amunisi kaliber besar.

Proyek pengadaan alutsista bernilai fantastis ini tentu tidak terlepas dari ambisi pemerintah Indonesia terkait modernisasi bidang pertahanan dan keamanan.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menerbitkan rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pemenuhan Kebutuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) Kementerian Pertahanan dan TNI tahun 2020-2024. 

Untuk pembelian ini, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar US$ 124.995.000.000 atau setara Rp 1,7 kuadriliun. Rencananya, sebagian besar dana ini didapatkan melalui serangkaian pinjaman asing. Besarnya angka belanja pertahanan ini tak ayal lagi memunculkan banyak pertanyaan dari publik.

Pemerintah Indonesia sendiri tidak menyangkal mahalnya biaya yang diperlukan. Namun Prabowo menegaskan, kedaulatan negara haruslah diutamakan, sehingga harga mahal tersebut memang harus dibayarkan.

Pembelian pesawat tempur baru untuk modernisasi alutsista Indonesia memang menjadi sesuatu yang rutin dilakukan. Akan tetapi, belanja alutsista kali ini yang luar biasa dalam ukuran jumlah dan nilai sangat jarang terjadi. Terhadap pembelian yang sedang dan akan dilakukan, diperlukan pengawasan yang ketat agar tidak terjadi penyelewengan uang negara yang sangat besar tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.