Belarus Peralat Pengungsi sebagai Senjata Diplomasi Terhadap Uni Eropa

Ilustrasi tentara Lituania memasang pagar kawat. Foto Janis Laizans/REUTERS

Belarus mendapatkan kecaman besar-besaran dari Uni Eropa setelah adanya insiden pemaksaan pengungsi Timur Tengah untuk menyeberang ke Lituania oleh otoritas Belarus.

Dikutip dari BBC, insiden tersebut dilaporkan oleh otoritas penjaga perbatasan Lituania. Mereka melampirkan video yang memperlihatkan 12 personel aparat keamanan Belarus berpakaian anti huru-hara telah mendorong kelompok pengungsi untuk melintasi perbatasan Belarus-Lituania pada Selasa (17/8).

Uni Eropa pun segera melakukan rapat darurat pada Rabu (18/8) berkaitan dengan insiden pengungsi tersebut. Di dalam rapat tersebut, organisasi Benua Biru itu menyatakan solidaritas terhadap Lituania, Latvia, dan Polandia yang ikut terdampak serbuan pengungsi dari negeri rezim Lukashenko itu.

Tidak hanya itu, Uni Eropa juga mengecam Belarus yang dianggap “menggunakan manusia sebagai alat politik.”

Presiden Parlemen Eropa David Sassoli pun menyebut bahwa Belarus berpotensi mendapatkan sanksi yang lebih keras lagi setelah insiden di perbatasan Belarus-Lithuania.

Seluruh kecaman dan tuduhan tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, tren masuknya pengungsi ke Uni Eropa dari Belarus mengalami peningkatan secara signifikan setelah bulan Juni 2021.

Bulan Juni adalah bulan ketika Uni Eropa memberlakukan sanksi keras untuk Belarus setelah negara tersebut memaksa pesawat Ryanair mendarat di Minsk untuk menahan jurnalis oposisi Roman Protasevich pada akhir Mei 2021.

Dengan demikian, besar kemungkinan bahwa peningkatan arus pengungsi dari Belarus merupakan upaya balasan dari Belarus atas sanksi yang dijatuhkan kepada negara tersebut.

Setelah insiden di perbatasan Belarus-Lituania yang diduga bermotif politik tersebut, negara-negara tetangga Belarus pun segera melakukan tindakan antisipasi.

Polandia mengerahkan 900 prajuritnya ke perbatasan Belarus-Polandia untuk menghentikan laju pengungsi. Sementara itu, Parlemen Lituania menyetujui rencana pembuatan pagar di perbatasan Belarus-Lituania.

Tidak hanya itu, hubungan di antara Lituania dengan Belarus yang sudah tidak baik pun juga semakin merenggang.

Akibat insiden ini, reputasi Belarus di kancah internasional pun semakin tercoreng. Insiden negara yang memperalat pengungsi ini bukanlah kejadian yang pertama, terutama diantara negara-negara yang berbatas dengan Uni Eropa. Pada akhirnya, insiden ini kembali membuktikan bahwa pengungsi sangatlah rentan terhadap eksploitasi dan diperalat oleh pihak-pihak tertentu, tidak terkecuali negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *