Berlebihan Tanggapi Efek AstraZeneca, Eropa Diskreditkan Vaksin Inggris

Ilustrasi vaksin AstraZeneca. Foto: EPA

Eropa dituding berlebihan dalam menyikapi kasus penggumpalan darah yang diduga berasal dari vaksin COVID-19 AstraZeneca buatan Inggris.

Hal tersebut muncul sehubungan dengan pernyataan WHO pada Rabu (17/03) waktu setempat yang menyebut bahwa vaksin AstraZeneca tetap aman untuk digunakan.

Organisasi kesehatan dunia itu juga menambahkan bahwa kejadian penggumpalan darah tidak otomatis berhubungan dengan vaksinasi. Meskipun demikian, WHO tetap menginvestigasi temuan tersebut dan memberitahukannya ke publik setelah investigasi selesai.

Kehebohan vaksin AstraZeneca dimulai ketika berbagai negara di Eropa menghentikan penggunaan vaksin tersebut setelah muncul sejumlah kasus penggumpalan darah.

Namun, New York Times menyebut satu hal penting di dalam penghentian massal tersebut: semua berawal dari penghentian vaksin di Jerman.

Ketika Berlin menyebutkan akan menghentikan penggunaan AstraZeneca terhadap beberapa kasus penggumpalan darah, negara-negara besar Eropa—Perancis, Italia, Spanyol—segera ikuti menghentikan penggunaannya.

Negara-negara tersebut ingin menunjukkan bahwa mereka dapat kompak dengan seluruh Benua Biru. Seperti kata Presiden Macron kepada parlemen Perancis, “Dengarkan Eropa, dengarkan Negara-negara Eropa.”

Selain itu, pemerintahnya juga ingin mencegah opini publik yang buruk apabila tetap menggunakan vaksin yang dianggap “berbahaya”.

Padahal, dari 17 juta warga Eropa yang divaksin, hanya terjadi 37 kasus penggumpalan darah per 15 Maret 2021.

Selain itu, dikutip dari BBC, koresponden kesehatan Nick Triggle menyebut bahwa tidak ada alasan yang kuat bahwa penggunaan AstraZeneca menyebabkan 37 kasus penggumpalan darah tersebut.

Namun, keputusan Eropa untuk menghentikan vaksin AstraZeneca hanya karena kepanikan dan solidaritas regional semata sangat disayangkan.

Selain itu, penghentian AstraZeneca menjadikan negara-negara Eropa semakin bergantung kepada vaksin Pfizer yang merupakan buatan AS, secara tidak langsung merendahkan kemampuan vaksin Inggris.

Menyikapi kesimpangsiuran yang ada di Eropa, Triggle menyebut bahwa keputusan Inggris untuk secara tegas menggunakan vaksin AstraZeneca berhasil menurunkan angka penyakit serius akibat COVID-19.

“Kehati-hatian yang berlebihan akan menyebabkan ‘tidak berbuat apa-apa’ sebagai cara menghindari bahaya, padahal perilaku seperti itu lebih membahayakan pada masa krisis seperti sekarang,” sebut pakar risiko Universitas Cambridge Prof. David Spiegelhalter.

Memengaruhi Indonesia

Keputusan Uni Eropa menghentikan vaksinasi AstraZeneca juga berdampak terhadap penggunaan vaksin tersebut di Indonesia.

Dikutip dari VOA Indonesia, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebut vaksinasi AstraZeneca di Indonesia masih menunggu penelitian lebih lanjut mengenai hubungannya dengan kasus penggumpalan darah.

Selain itu, kasus penggumpalan darah menyebabkan BPOM merekomendasikan untuk tidak menggunakan AstraZeneca selama proses kajian terhadap dampak vaksin tersebut.

Penundaan ini menjadikan 1,1 juta dosis vaksin yang sudah tiba di Indonesia belum dapat digunakan. Padahal, dosis vaksin tersebut akan kedaluwarsa pada bulan Mei.

Jeda dosis pertama dan kedua AstraZeneca juga cukup lama (9-12 minggu). Hal tersebut menjadikan penyuntikan dosis pertama harus dilakukan sesegera mungkin.

Dengan seluruh kekacauan dan kebingungan yang ada karena kepanikan penggumpalan darah di Eropa, tampaknya jutaan warga dunia masih harus menjalani hidup yang rentan terhadap COVID-19.

Apabila hasil penelitian menemukan tidak adanya korelasi antara penggumpalan darah dengan AstraZeneca, bisa saja Eropa melakukan kesalahan fatal yang memengaruhi warganya, Inggris, dan Indonesia. Terlebih jika penundaan yang politis tersebut menyebabkan seseorang yang seharusnya sudah divaksin harus meregang nyawa akibat COVID-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published.