Derek Chauvin Divonis Bersalah Atas Pembunuhan George Floyd

Ilustrasi keluarga dan tim hukum Floyd atas hasil vonis peradilan. Foto: Kerem Yücel/Agence France-Presse/Getty Images

Perkembangan kasus pembunuhan George Floyd akhirnya mencapai babak akhir. Kedua belas dewan juri yang hadir pada peradilan Derek Chauvin atas tuduhan pembunuhan terhadap George Floyd sepakat untuk memvonis Derek Chauvin sebagai bersalah.

Derek Chauvin adalah pria berumur 45 tahun mantan polisi Minneapolis yang dituduh membunuh George Floyd dengan cara mencekiknya dengan lutut dalam rekaman yang beredar.

Derek Chauvin dinyatakan bersalah atas dakwaan pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan tak disengaja. Keputusan yang menciptakan sorak sorai bahagia di luar pengadilan, dengan pengacara keluarga Floyd, Ben Crump, menyatakan bahwa ini adalah titik balik sejarah rasisme di AS.

Federasi Polisi Minneapolis menyatakan rasa terima kasih kepada dewan juri atas usaha mereka menanggung “beban yang berat”.

“Kami ingin berbicara ke komunitas dan menyampaikan penyesalan kami terhadap penderitaan yang mereka alami, karena kami juga merasakan rasa itu. Tidak ada pemenang dalam kasus ini dan kami menerima seluruh keputusan juri.”, dinyatakan oleh Federasi Polisi Minneapolis.

Peradilan memuat 45 kesaksian dan pemutaran ulang rekaman kejadian. Testimoni penting muncul dari saksi mata yang mereka ulang dan menonton kejadian yang ditampilkan. Beberapa dilaporkan sampai menangis ketika menyampaikan kesaksiannya.

Pacar George Floyd, Courteney Ross, juga menjadi saksi yang menyampaikan latar belakang korban.

Derek Chauvin sendiri menolak untuk berbicara dengan alasan tidak ingin memperberat dakwaan yang ditimpakan padanya.

Kasus ini cukup menjadi kasus yang bersejarah karena jarang sekali anggota kepolisian di AS dikenai status bersalah atas dakwaan dan memunculkan kemungkinan adanya penggunaan cara yang sama untuk kasus di masa depan.

Kasus ini sendiri masih belum dapat dikatakan selesai secara penuh, hal itu karena Derek Chauvin masih memiliki hak mengajukan banding pada pengadilan dan membuka kesempatan peradilan baru lagi.

Derek Chauvin diperkirakan akan mengajukan banding atas dasar eksposur media yang terlalu besar yang mungkin memengaruhi keputusan dewan juri dan hakim dalam kasus ini. Selain itu, ada kemungkinan juga mengkaji pernyataan Pejabat Demokrat Maxine Waters yang meminta massa untuk tetap “berada di jalan” dan “tingkatkan konfrontasi” yang dianggap menciptakan kekacauan dan kemungkinan keputusan bias.

Pada akhirnya, putusan bersalah ini adalah suatu hal yang monumental dalam sejarah AS dalam menghadapi rasisme yang terinstitusi. Meski tidak menghapuskan rasisme yang terinsititusi secara seluruhnya, tetapi setidaknya ini menunjukkan bahwa kehakiman bisa memberikan putusan yang tidak bias pada aparat keamanan, yang menjadi tanda baik bagi pengentasan rasisme di AS. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *