Diam-diam Perbolehkan Yahudi Masuki Al Aqsa, Israel Ancam Kerukunan di Yerusalem

Ilustrasi rakrat Palestina mengunjungi kompleks Al-Aqsa. Foto: Jamal Awad/Flash90

Israel kembali membuat tindakan yang mengancam stabilitas di Yerusalem setelah otoritas setempat dilaporkan memperbolehkan umat Yahudi berdoa di dalam komplek Masjid Al Aqsa.

Laporan New York Times yang dikutip oleh Aljazeera tersebut memperlihatkan bahwa Rabbi Yehudah Glick, rabbi Yahudi sayap kanan AS, mengadakan live-streaming dirinya  yang sedang berdoa di dalam komplek Al Aqsa.

Tindakan tersebut bahkan berusaha dijustifikasi oleh Glick sendiri. Ia menyebut bahwa apa yang ia lakukan di komplek Al Aqsa adalah “bagian dari kebebasan beragama.”

Glick bahkan menyebut bahwa polisi Israel melonggarkan larangan kepadanya untuk berdoa di dalam komplek sejak lima tahun lalu. Selain itu, ia juga mengklaim bahwa angka umat Yahudi yang dapat berdoa di dalam Al Aqsa juga bertambah secara diam-diam untuk menghindari amarah publik.

Hal tersebut menggulirkan kekhawatiran bahwa Israel akan melanggar persetujuan yang pernah dibuat dengan Yordania hampir 55 tahun lalu. Pada 1967, kedua negara sepakat bahwa wilayah di dalam komplek Al Aqsa akan ditangani oleh badan wakaf dan Israel hanya akan mengontrol keamanan di luar komplek.

Kedua negara juga sepakat bahwa non-muslim tetap diizinkan untuk mengunjungi Al Aqsa pada jam tertentu, tetapi tidak diizinkan untuk berdoa di dalamnya.

Ironisnya, meskipun Israel hampir tidak pernah mencampuri urusan di dalam komplek, negara itu menggunakan kemampuannya sebagai “penjaga keamanan luar komplek” untuk mencegah umat muslim—terutama dari Palestina—masuk ke dalam Al Aqsa, seperti membuat pos-pos keamanan dan izin masuk ke dalam komplek.

Tindakan Israel yang memperbolehkan umat Yahudi untuk berdoa di dalam Al Aqsa pun dikhawatirkan akan memicu konflik lainnya dengan Palestina, terutama mengingat berbagai konflik besar sebelumnya yang dipicu ulah Israel di Al Aqsa.

Pada tahun 2000, Israel memperbolehkan calon Perdana Menteri Israel saat itu Ariel Sharon untuk mengunjungi Al Aqsa sehingga memicu amarah warga Palestina dan memicu Intifada kedua. Mei tahun ini juga, otoritas Israel juga menyerbu Masjid Al Aqsa sehingga memicu konflik 11 hari yang menarik perhatian dunia.

Sayangnya, Israel tampaknya tidak jera untuk melakukan tindakan provokatif yang mengancam kerukunan antar umat beragama di Yerusalem. Dengan eskalasi yang juga memanas beberapa minggu ini, bukan tidak mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.