Kalahkan Morrison, Albanese Dilantik Menjadi PM Australia dan Langsung Hadiri Pertemuan Quad

Ilustrasi PM baru Australia Anthony Albanese. Foto: AP Photo/Rick Rycroft

Senin (23/05), Anthony “Albo” Albanese, kandidat perdana menteri dari Partai Buruh, disumpah dan resmi menjadi Perdana Menteri Australia. Ia mengalahkan Scott Morrison pada pemilu yang dilakukan pada hari Sabtu lalu. Albanese akan langsung menjalankan tugas perdana menteri secara efektif, termasuk menghadiri pertemuan Quad di Jepang.

Kemenangan ini menjadi kemenangan pertama partai buruh dalam kurang lebih satu dekade. Sejauh ini, mereka dipastikan telah memegang 72 kursi di dewan perwakilan, dengan potensi mendapatkan 76 kursi pasca perhitungan. 

Masih belum disebutkan mengenai bentuk kabinet yang akan dibentuk oleh Albanese, akan tetapi ia telah menetapkan beberapa personil kunci dalam kabinetnya. Jabatan wakil perdana menteri akan diisi oleh Richard Marles, Penny Wong akan menjadi menteri luar negeri, Jim Chalmers akan menjadi bendahara negara, dan Katy Gallagher menjadi jaksa agung serta menteri keuangan.

Albanese, kerap disapa Albo, adalah pemimpin Partai Buruh Australia sejak tahun 2019 yang pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri di tahun 2013. Ia mendeskripsikan pandangan politiknya sebagai progresif dan dia berhaluan kiri. Walau begitu, Albo sendiri mulai mengadopsi kebijakan-kebijakan sentris sehingga pemikirannya tidak dapat dikatakan sebagai kiri radikal.

Albo dan Isu Krusial di Australia

Albanese memulai pidato kemenangannya dengan menyatakan “Malam ini, Australia memilih perubahan.” Sebuah kalimat yang sangat menunjukkan bagaimana Albanese dan Partai Buruh dapat mencapai kemenangan historis di hari ini. Albanese dan partainya berhasil memanfaatkan kejenuhan rakyat Australia terhadap konservatisme pemerintahan dan kegagalan pemerintahan Scott Morrison dalam menangani isu-isu krusial pada masa pemerintahannya lalu.

Morrison dinilai tidak berhasil menangani permasalahan yang dialami Australia dengan baik misalnya permasalahan kebakaran hutan, kekerasan seksual, dan bahkan operasional pandemi. Bukannya berusaha menanggapi hal tersebut, Morrison dinilai bersifat acuh tak acuh. Hal ini terbukti dari bagaimana kampanye Scott Morrison tidak berusaha menyentuh secara mendalam isu-isu yang dialami kelompok marjinal tersebut dan lebih menonjolkan poin konservatisme yang “tidak kontroversial.”

Albanese, di satu sisi, menyatakan bahwa kebijakan seperti kebijakan lingkungan tidak perlu disebut “kontroversial.” Ia berkomitmen untuk memberikan kebebasan kepada kelompok marjinal seperti para LGBT dan pengungsi yang diterima Australia. Ia juga menyatakan rencananya untuk meminimalisir emisi yang dibuang Australia sebesar 43% pada tahun 2030, persentase yang jauh lebih besar dari 26-28% yang dibawakan oleh Scott Morrison.

Pertemuan Quad

Albanese tidak memiliki banyak waktu untuk merayakan kemenangannya karena harus segera mewakili Australia di pertemuan Quad. Pertemuan ini dilakukan atas respons Tiongkok yang menandatangani perjanjian keamanan dengan Pulau Solomon. Hal tersebut dianggap mengancam adanya kebebasan laut di daerah Asia Pasifik dengan kemungkinan Tiongkok membangun basis angkatan laut.

Albanese sendiri melihat bahwa keseimbangan keamanan di Asia-Pasifik adalah suatu hal yang krusial. Ia melihat bahwa hubungan Australia dan Tiongkok akan menjadi sebuah hubungan yang cukup “berbelit” dalam keterlibatannya di pertemuan yang akan mempertemukannya dengan Jepang, India, dan AS tersebut.

Tantangan keamanan Australia sendiri bukanlah berbasis pada minimnya peralatan militer untuk menggentarkan Tiongkok. Hal ini karena melalui kesepakatan AUKUS, Australia sekarang telah dilengkapi dengan kapal selam bertenaga nuklir. Akan tetapi, Quad harus menyadari pelajaran dari konflik Ukraina bahwa diplomasi dan pembentukan hubungan dengan Tiongkok akan sangat krusial untuk meminimalisir konflik. Albanese harus mempersiapkan skenario untuk peperangan, juga untuk melaksanakan apapun demi menghindari peperangan.

Albanese akan amat bergantung pada pengalaman panjang Menteri Luar Negeri Penny Wong dan Wakil PM Richard Marles untuk menavigasi hubungan yang sulit dengan Tiongkok. Albanese menyatakan keinginannya untuk membentuk kembali hubungan diplomatis yang baik dengan negara-negara di Samudera Pasifik, salah satu pemerintahan kunci yang menjadi targetnya adalah Indonesia. Ia ingin meningkatkan investasi finansial, politik, dan sosial dari Asia dalam rangka membentuk perdamaian Asia-Pasifik yang lebih stabil.

Albanese menyatakan bahwa ia tidak ingin rakyat Australia terbagi-bagi dan berjanji bahwa ia akan menghormati seluruh warga Australia setiap harinya. Tidak ada cara yang lebih baik untuk menjalankan janji tersebut selain merealisasikan semua janji dan rencananya. Jika Albanese menjanjikan perubahan radikal, dapat diprediksi Australia yang lebih terlibat dalam isu dunia internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *