Kazakhstan Membara: Demonstran Terbunuh dan Datangnya “Bantuan” Rusia

Ilustrasi demonstrasi di Kazakhstan. Foto: Pavel Mikheyev/Reuters

Awal tahun 2022 ini diwarnai dengan ketidakpuasan yang meluas terhadap pemerintah di Kazakhstan. Ketidakpuasan ini kemudian mengristal menjadi serangkaian demonstrasi terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Situasi di Kazakhstan pada Kamis (6/1) menjadi semakin mencengangkan. Di hari kelima demonstrasi, pemerintah mulai bereaksi keras untuk mengakhiri demonstrasi dengan menggunakan kekerasan.

BBC melaporkan bahwa otoritas keamanan Kazakhstan telah menembak demonstran secara langsung yang mengakibatkan belasan orang tewas. Tindakan tersebut dilakukan untuk mencegah demonstran menguasai pos polisi di Almaty, kota terbesar di negara tersebut.

Tidak hanya otoritas Kazakhstan saja yang berupaya meredam demonstrasi, pasukan Rusia dan sejumlah negara lainnya juga membantu Kazakhstan untuk “menstabilkan situasi.” Pemerintah Kazakhstan sendiri yang meminta “bantuan” tersebut koalisis Rusia untuk masuk ke Kazakhstan.

Kejadian tersebut merupakan peristiwa yang sangat langka dalam dinamika Asia Tengah.

Berawal dari LPG

Demonstrasi di negara Asia Tengah tersebut dimulai pada tahun 2019 ketika pemerintah Kazakhstan mulai mengurangi subsidi untuk gas negara. Pengurangan subsidi yang dimaksudkan untuk mendorong transisi ekonomi Kazakhstan ke industri elektronik secara tidak langsung menaikkan harga gas LPG yang menjadi konsumsi masyarakat.

Pada tahun 2020, harga gas LPG di Zhanaozen telah mencapai 65 tenge (sekitar Rp 2.100); harga itu naik lagi pada awal 2022 menjadi 120 tenge (sekitar hampir Rp 4.000). Sebab lokasinya yang jauh, kenaikan harga LPG sebagai bahan bakar menyebabkan kenaikan semua harga barang lainnya, sehingga protes dari masyarakat setempat pun dimulai pada 2 Januari.

Protes tersebut pun meluas hingga kota-kota lain seperti Aktau, Almaty, dan ibukota Nur-Sultan. Protes di Almaty menjadi protes yang paling signifikan karena demonstran berhasil menguasai pusat pemerintahan.

Pemerintah pun tidak ingin kalah gerak dari demonstran. Pada 4 Januari, Presiden Kassym-Jomart Tokayev memberlakukan status darurat di seluruh Kazakhstan. Aparat keamanan pun bereaksi keras dengan menembaki demonstran secara membabi-buta. Belasan orang dilaporkan tewas.

Tidak berhenti sampai di situ, Tokayev juga meminta bantuan dari Collective Security Treaty Organization (CSTO) pimpinan Rusia untuk membantu pemulihan keamanan di Kazakhstan. Rusia pun menyanggupi dengan memulai pengiriman pasukan pada Kamis (6/1) bersama-sama dengan Armenia, Belarus, Kyrgyzstan, dan Tajikistan.

Lebih dari Gas: Otoriter dan Intervensi

Demonstrasi di Kazakhstan, meskipun bermula dari kenaikan harga gas, akhirnya meluas menjadi ketidakpuasan secara luas terhadap Pemerintah Kazakhstan.

Sejak kemerdekaannya pada 1991, Kazakhstan selalu didominasi oleh satu orang: Nursultan Nazarbayev. Eks-pejabat komunis di Soviet Kazakhstan itu menduduki kursi presiden dari 1991 hingga 2019 ketika ia digantikan Kassym-Jomart Tokayev. Setelah turun pun, ia tetap dianggap menjadi orang nomor satu di Kazakhstan karena menduduki Ketua Dewan Keamanan Kazakhstan.

Selama 30 tahun tersebut, otoritarianisme dan kultus individunya sangat terlihat: partainya, Nur Otan, selalu meraih suara hampir 100% di tiap pemilu yang keabsahannya diragukan pengawas internasional. Ibukota Kazakhstan sekarang pun berasal dari namanya (Nur-Sultan), menggantikan nama lama “Astana”.

Tak ayal, demonstrasi kali ini pun turut meminta penurunan dirinya dari seluruh aspek politik nasional Kazakhstan. Demonstran menyebut-nyebut slogan “Mundurlah, Pak Tua!” untuk menyinggung Nazarbayev.

Satu hal lainnya patut diperhatikan dalam demonstrasi Kazakhstan adalah keterlibatan Rusia dalam peredaman demonstrasi. Dengan intervensi ke Kazakhstan, Rusia kembali menunjukkan taji hegemoni regionalnya di wilayah eks-Soviet.

Intervensi untuk “stabilisasi keamanan” menjadi ciri khas Rusia sejak invasi Hungaria pada 1956 untuk melawan revolusi antikomunis (dan anti-Soviet) di negara tersebut. Hal yang serupa juga akan diulang kepada Cekoslowakia pada 1968, Georgia pada 2008, dan Krimea-Ukraina pada 2014. Semuanya demi melanggengkan kuasa Rusia di kawasan Eurasia.

Dengan demikian, perkembangan demonstrasi Kazakhstan menjadi hal yang patut diamati ke depannya. Unruk sekarang, belum dapat diketahui apakah demonstrasi akan berhasil menggulingkan pemerintah Kazakhstan, atau justru Rusia dapat kembali menegaskan dominasinya di halaman belakangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.