Ketika NBA Memperdaya Sosialisme

Ilustrasi permainan basket NBA. Foto: NBA.com

Jika kita melihat daftar 10 orang terkaya di dunia tahun 2021 yang dikeluarkan oleh Forbes maka kita akan menemukan setidaknya 8 orang yang memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat. Nama-nama yang sudah sering terdengar macam Jeff Bezos, Elon Musk, Warren Buffet, Mark Zuckerberg, dan Bill Gates seolah menjadi pelanggan utama manusia dengan total kekayaan terbanyak di dunia. Maka dari itu tak salah kata pula apabila kita menjuluki Amerika Serikat sebagai negara kapitalis.

Menurut Ayn Rand, kapitalis merupakan sistem organisasi ekonomi yang dimiliki secara privat atas alat produksi maupun hasil dari produksi dengan tujuan mencapai laba agar membentuk skema pasar yang kompetitif, dan dari teori di atas tentu kita semua tahu AS adalah rajanya. Bill Gates dan Mark Zuckerberg yang saling senggol dalam menguasai pasar sistem operasional dan komputerisasi adalah bukti konkret bagaimana AS menafikan diri menjadi “Sang Kapitalis.” Namun, anomali muncul ketika sebuah negara dengan julukan tersebut menggerakkan seluruh aspek industri olahraganya dengan sistem sosialis.

Christopher Lasch berpendapat bahwa olahraga adalah candu konsumerisme. Menurutnya, olahraga dapat menjadi ajang pelampiasan untuk melupakan peperangan, kelaparan, dan kesusahan. Lantas bagaimana mungkin AS—dengan segala aspek olahraga yang dapat dikomersialkan—justru memberikan keleluasaan bagi sosialisme untuk merajai pasar?

Apakah memang sosialisme olahraga AS seperti NBA, NFL, dan MLB murni sosialisme? Atau memang ini hanya sebuah akal-akalan orang AS untuk memperdaya sosialisme demi mengkapitalisasi olahraga?

Olahraga dan Aspek Sosialis AS

Pembatasan gaji pemain demi meratanya kekuatan tim di sebuah liga, pembagian hak siar yang adil dan merata, dan sistem draft atau pengambilan pemain baru berdasarkan persentase kemenangan dan kekalahan adalah kunci bagaimana NBA dapat dikatakan hampir menguasai pasar olahraga dunia. Sepakbola memang masih menjadi raja, akan tetapi kehadiran NBA dengan The Finals-nya seakan menatap mangsa dari kejauhan layaknya singa lapar yang terus mengancam takhta Piala Dunia antarnegara sepakbola dalam hal broadcasting. Lantas mengapa sebuah negara kapitalis sebesar AS membiarkan sistem olahraga berideologi sosialis ini terus berjalan?

Jika kita menarik garis lurus ke belakang, sosialis sendiri merupakan sebuah sistem ekonomi yang ditandai dengan hak kepemilikan bersama. Tidak adanya privatisasi juga merupakan kunci bagaimana sistem sosialis bekerja, dalam melihat paradigma sosialis ini tentulah kita dapat menengok bagaimana NBA berjalan.

NBA dan Romantisme Sosialis

NBA (National Basketball Association) sendiri merupakan sebuah asosiasi Liga Bola Basket Amerika. Organisasi ini memiliki 30 anggota atau tim yang bersifat franchise atau hak kepemilikan yang terbagi dalam dua wilayah utama, yakni barat dan timur. Dalam menjalankan liga, ia memiliki banyak perbedaan terkait teknis dasar dengan liga-liga olahraga yang eksis di Eropa dan Asia secara garis besar. 

Para tim di Eropa dan Asia cenderung berfokus untuk membangun akademi yang terstandar demi adanya regenerasi pemain reguler sebuah tim. Namun, NBA mendobrak skema tersebut dengan sistem Draft Pick atau sebutan lain untuk perekrutan pemain muda non-liga yang diadakan setiap tahun. Pemain yang memasuki Draft Pick akan melewati berbagai proses yang telah distandarisasi oleh NBA dengan tujuan memberikan peringkat dan informasi kepada tim NBA yang akan mengambil pemain baru. Tentu saja hal menarik tidak berhenti sampai di situ. Alih-alih ketiga puluh tim dapat memilih dengan leluasa, NBA membentuk regulasi tambahan berupa tim yang memiliki rekor kalah menang, dalam arti yang paling buruk akan mendapatkan urutan paling atas dalam mengambil pemain yang telah diurutkan sebelumnya. 

Regulasi ini pun berlanjut dengan adanya sistem Salary Cap atau garis batas gaji pemain. Salary Cap sendiri merupakan sebuah regulasi dengan maksud dan tujuan agar tim yang mengikuti NBA dapat bersaing secara sehat tanpa adanya ketimpangan antara tim dengan home base di kota besar dan home base di kota yang relatif lebih kecil. Ambang batas penggajian yang dihimpun dari ketiga puluh tim peserta ini bertujuan agar tim yang secara kondisi ekonomi relatif kurang mampu untuk bersaing dapat tetap eksis di NBA.

Setelah mengetahui bagaimana NBA digulirkan, tentu timbul pertanyaan di benak kepala; sistem yang berjalan ini terlihat sangat sosialis bukan? Seluruh tim dipaksa untuk dapat bersaing demi merebut gelar juara. Tim dengan kekayaan serta tambahan modal dari investor dipaksa untuk melakukan beragam penyesuaian agar pemain yang dimiliki tetap bergaji setara namun memiliki kualitas yang lebih baik. Di sisi lain, tim dengan finansial yang kurang tetap didorong oleh NBA agar memiliki roster atau punggawa yang dapat bersaing namun dengan sistem penggajian yang lebih rendah.

Begitu pula dengan sistem Draft Pick yang relatif anomali: tim yang bermain buruk selama musim reguler berlangsung diberikan kembali asa tambahan dengan antrian pemain segar dengan skillset mumpuni lulusan kampus populer. Indah bukan sistem sosialis ala NBA ini?

Namun, apakah memang ini yang sebenarnya diharapkan oleh NBA atau jangan-jangan ini hanya misi terselubung para komisioner atau pejabat NBA dalam memperdaya sosialis demi lancarnya Kapitalisasi NBA.

Kapitalisasi NBA itu Nyata Adanya

Sistem sosialis NBA memang terlihat nyata. Namun, semakin kita menyelam lebih dalam, maka  semakin ironis pula hubungan pemilik tim dengan penggemar. Benua Eropa memang menjalankan teknis liga dengan sistem yang lebih terkapitalisasi, tetapi hubungan pemilik klub dengan penggemar jauh lebih sosialis dari yang terjadi di AS. Bundesliga atau liga utama sepakbola Jerman malah sudah terlebih dahulu menerapkan sistem 50+1 rule. Dikutip dari laman Bundesliga sistem 50+1 secara singkat adalah sistem kepemilikan yang berporos kepada penggemar, Bundesliga berusaha untuk menekan sekaligus memberikan penggemar kelengangan untuk menentukan jalan dari sebuah klub. Dengan begini investor atau sponsor yang berusaha untuk melakukan intervensi terkait struktur dan neraca keuangan klub menjadi serba terbatas.

Investor hanya diberikan porsi 49% dalam pengambilan keputusan klub. Sedangkan, penggemar memiliki 51% suara veto untuk menentukan arah dari sebuah klub. Hal ini tentu memberikan gambaran secara kasar bahwa Klub memang terbentuk dengan adanya dukungan dari penggemar. Kebijakan ini tentu jauh berbeda dengan kebijakan yang ada di kiblat basket dunia atau NBA, 19 dari 30 mayoritas saham tim dimiliki oleh hanya satu orang saja. Deretan nama beken seperti Michael Jordan, Mark Cuban, Steve Ballmer, dan Joseph Tsai, para taipan miliarder yang tidak hanya bergerak di sektor olahraga melainkan sudah menggurita di sektor bisnis lain.

Kapitalisasi NBA yang mencolok ini semakin menohok keras para penggemar ketika adanya konsesi tanah di daerah Sacramento, Sacramento Kings, yang kala itu ingin menambah kapasitas gelanggang olahraga dengan tajuk Barclays itu harus menghadapi tuntutan keras dari para masyarakat sekitar. Dikutip dari Vice “Infrastruktur yang memang mendukung jalannya keberlangsungan beragam sektor bagi rakyat memang baik. Namun, manakala infrastruktur yang dibangun harus melalui tangan-tangan para miliarder adalah sebuah bencana besar bagi sebuah masyarakat kota.” Dilaporkan terdapat lahan seluas sekitar 88 hektar harus digerus demi kepentingan pebisnis ulung. Masyarakat yang harus rela mengorbankan tanahnya ini semakin dibuat menderita manakala pemerintah Sacramento seolah tutup telinga dengan adanya penggusuran besar-besaran. 

Tak berhenti sampai di situ jika kita kembali ke tahun 2019. Daryl Morey selaku general manager Houston Rockets (sebuah tim basket di wilayah Houston) men-tweet dukungan terhadap simpatisan pro kemerdekaan Hongkong. Jagat internet pun langsung ramai, aksi dari Daryl Morey langsung memberikan beragam reaksi baik itu kecaman maupun dukungan. RRC yang kala itu tersinggung langsung memberikan langkah cepat tanggap dengan memblokir beragam aspek bisnis terhadap AS khususnya bola basket. 

Padahal seperti yang kita ketahui Tiongkok merupakan salah satu negara yang memiliki keterikatan yang erat dengan para pemain bintang NBA. Terhitung  Lebron James, Kobe Bryant, dan Klay Thompson pernah mengunjungi Tiongkok sebagai bentuk kerja sama antar negara. Khusus nama terakhir, Klay Thompson bahkan telah menjalin kerjasama dibidang sepatu bersama Anta dengan nilai kontrak 80 Juta dolar AS selama 10 tahun.

Kekacauan yang terjadi akibat tweet dari Daryl Morey pun langsung membuat NBA harus ikut serta turun gunung. NBA langsung membuat press release dengan mengeluarkan statement bahwa ada kekecewaan dari jajaran petinggi NBA dengan tweet tersebut dan NBA menegaskan bahwa sejarah panjang Tiongkok merupakan salah satu concern utama. Lalu di mana letak kebebasan berpendapat yang selama ini diagung-agungkan oleh AS?

Ketika ladang bisnisnya di Tiongkok mulai terusik, NBA langsung merespon dengan mengecam balik tindakan yang dilakukan oleh Daryl Morey. Adam Silver selaku Komisioner NBA yang sedang menjabat pernah mengeluarkan statement terkait kefokusan NBA terhadap prinsip dan nilai yang dianut oleh para elemen yang terkait dengan NBA, ia turut menambahkan adanya sikap inklusi dan keragaman namun tetap saling menghormati. Namun, semua ini justru seolah berbanding terbalik manakala NBA berusaha untuk meredam para pemain dan pejabat tim dalam menyuarakan aspirasi seperti yang dilakukan oleh Daryl Morey dan Enes Kanter manakala kritik yang disampaikan dirasa dapat menghancurkan dinasti politik NBA itu sendiri.

Sistem sosialis yang diterapkan NBA tak ayal hanya menjadi simbolik dari gurita kapitalis di belakangnya. Manakala sistem liga olahraga Eropa berfokus terhadap pengembangan sebuah tim untuk dapat bersaing secara sehat setiap tahunnya, NBA justru menghadirkan sebuah kesenangan semu terhadap penggemar dengan memberikan harapan baru di setiap awal musim dengan kedatangan pemain baru yang diharapkan dapat mendobrak dominasi tim besar yang telah dibangun jauh sebelumnya.

Alif Rama merupakan mahasiswa tingkat akhir jurusan Sejarah Kebudayaan Islam dengan ketertarikan yang besar terhadap olahraga, sosial-politik, dan ekonomi. Dapat ditemukan di Instagram dan Twitter dengan nama pengguna @mhd_alf16

Leave a Reply

Your email address will not be published.