Mata Uang Lira Turki Tidak Tertolong, Erdogan Kunjungi UEA Cari Bantuan

Ilustrasi Presiden Erdogan dengan Putra Mahkota UEA. Foto: @trpresidency/Twitter

Februari ini, mata uang lira Turki terus terdepresiasi hingga menyentuh 14 lira terhadap satu dolar AS pada pertengahan Desember 2021. Turki tengah dilanda krisis moneter dan depresiasi mata uang sejak akhir 2021 lalu. Akibatnya, tingkat inflasi di Turki melonjak tinggi, bahkan menjadi yang terparah sejak 19 tahun terakhir.

Pemerintah Turki mengatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya krisis ekonomi ini adalah kebijakan Presiden Recep Tayyip Erdogan yang kontroversial. Erdogan melakukan pemotongan suku bunga yang berlawanan dengan teori tradisional ekonomi. 

Erdogan melakukan berbagai cara dan manuver untuk menangani krisis ekonomi ini. Salah satunya adalah dengan melakukan perjanjian pertukaran mata uang dengan beberapa negara. Tidak luput dari sasaran, Uni Emirat Arab turut menjadi negara yang dituju Erdogan dalam rangka menstabilkan mata uang lira. 

Erdogan melakukan kunjungan ke Uni Emirat Arab pada Senin (14/2) lalu. Kunjungan Erdogan ini merupakan yang pertama kalinya dalam 9 tahun terakhir. Kedatangan Erdogan disambut oleh pemimpin de facto UEA, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Erdogan melakukan kunjungan balasan setelah sebelumnya Sheikh Mohammed melakukan kunjungan ke Ankara pada November tahun lalu. Kunjungan ke Ankara ini merupakan kunjungan pembuka yang menandakan babak baru dalam hubungan kedua negara. 

Hubungan yang Kurang Baik

Sebelumnya, Ankara dan Abu Dhabi tidak memiliki hubungan yang cukup baik dalam hampir satu dekade ke belakang. Keduanya terlibat persaingan kekuasaan seiring dengan timbulnya gelombang protes yang terjadi di negara-negara Arab. Baik Turki maupun UEA mendukung kubu yang berbeda dalam perang sipil dan protes yang terjadi di Libya, Suriah, maupun Mesir. 

Turki menuduh UEA sebagai salah satu penyebab kekacauan yang terjadi di Timur Tengah, karena intervensi mereka di Libya dan Yaman. Sementara itu, pihak UEA mengkhawatirkan aktivitas militer Turki di Libya. Abu Dhabi juga mengutuk aktivitas militer Turki di utara Suriah, yang dinilai bertindak diluar kedaulatan Suriah. 

Upaya Erdogan Menstabilkan Ekonomi

Melalui kunjungan Erdogan ke UEA, Bank Sentral kedua negara sepakat melakukan pertukaran mata uang lokal sebesar hampir US$ 5 miliar. Kesepakatan pertukaran mata uang ini bukan yang pertama kali dilakukan oleh Turki, mereka juga melakukan kesepakatan serupa dengan Tiongkok, Qatar, dan Korea Selatan. 

Kesepakatan pertukaran mata uang dengan UEA ini dianggap cukup penting dalam rangka memperbaiki ekonomi Turki. Meski begitu, para peneliti mengatakan bahwa kebijakan luar negeri Erdogan ini tidak sepenuhnya ampuh dalam mengembalikan nilai lira yang telah hancur. 

Tidak hanya kesepakatan pertukaran mata uang, sejumlah kesepakatan terkait dengan komitmen investasi dan peningkatan kerja sama kedua negara juga tercapai. Dana sebesar US$ 10 miliar dikucurkan oleh UEA untuk mendorong keran investasi mereka di bidang teknologi, logistik, kesehatan, dan energi. Kerja sama juga difokuskan dalam hal keamanan regional dan kesepakatan pertukaran mata uang.

Dari dalam negeri, Erdogan menghadapi krisis ini dengan mengganti Menteri Keuangan Turki dan memecat kepala badan statistik negara, setelah sebelumnya memecat tiga gubernur Bank Sentral Turki sejak tahun 2019 lalu.

Erdogan serta Bank Sentral Turki juga membuat kebijakan untuk memberikan insentif bagi warganya yang menyimpan simpanan emas, untuk ditukarkan ke dalam rekening deposito berjangka lira Turki.

Keputusan Erdogan untuk menormalisasikan hubungan dengan UEA sangat berkaitan dengan kebutuhan Turki dalam memperbaiki ekonominya. Melalui urgensi tersebut, kedua negara sepakat dalam mengenyampingkan perselisihan yang terjadi, dan mulai membahas peningkatan kerja sama kedepannya.

Upaya kerja sama luar negeri Turki tampaknya akan terus gencar dilakukan oleh Erdogan dalam rangka menstabilkan lira, bahkan dengan UEA yang dulu merupakan rivalnya. Meski begitu, tentu kunjungan ini akan memiliki implikasi lebih dari ekonomi semata, dan dilakukan seiring dengan menurunnya berbagai ketegangan di Timur Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.