Mengungkap Kolombia: Kemiskinan, Ketimpangan, dan Brutalitas Polisi

Ilustrasi dari FPCI UPH

Ribuan orang mengikuti pawai di jalan-jalan Bogota pada 31 Mei menuntut diakhirinya protes yang telah dimulai sebulan sebelumnya. Kerumunan berpakaian putih berparade di jalanan ibu kota Kolombia untuk mendukung pemerintah dan polisi yang telah mendapat sorotan publik karena penanganan protes mereka serta berbagai contoh kebrutalan polisi yang tertangkap kamera.

Protes ini dimulai pada awal Mei karena adanya ketidakpuasan dengan reformasi pajak baru yang akan meningkatkan pendapatan pajak negara namun dengan mengorbankan populasi kelas menengah yang sudah berjuang selama krisis ekonomi. Meskipun reformasi pajak telah ditarik hanya empat hari setelah protes massa dimulai, kekacauan pun masih terjadi. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh aksi protes baru yang merupakan perpanjangan dari protes sebelumnya pada tahun 2019, yang mencerminkan keluhan lama yang lazim di masyarakat Kolombia. Beberapa tuntutan pengunjuk rasa Kolombia meliputi pendapatan universal dasar, pengadaan lebih banyak kesempatan bagi kaum muda, dan pembubaran kerusuhan polisi.

Pemerintah negara itu tampaknya telah mengambil narasi yang menunjukkan tuntutan reformasi sosial sebagai konspirasi sayap kiri untuk menggulingkan pemerintah. Akibatnya, pemerintah mengerahkan pasukan keamanan dan militer untuk menindak pengunjuk rasa dengan cara apapun—bahkan yang akan mengarah pada kekerasan dan fitnah. Selain itu, organisasi seperti PBB dan Amnesty International telah mengutuk penggunaan respon militer dan represi polisi terhadap demonstran.

Beberapa outlet berita telah menyatakan bahwa protes ini tidak mungkin gagal, sementara banyak lainnya menyamakan situasi di Kolombia dengan negara tetangga Venezuela. Kebenaran dari masalah ini adalah tidak ada yang bisa menghentikan deskripsi tersebut untuk menjadi kenyataan kecuali negosiasi dapat berjalan dan diselesaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *