Menlu Iran Tuding Garda Revolusi Campur Tangan Kebijakan Luar Negeri Iran

Ilustrasi Menlu Iran Mohammad Javad Zarif. Foto: AP

Dalam beberapa hari terakhir, Iran diguncang skandal yang menyinggung figur dan institusi berpengaruh di Iran: Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menuding Garda Revolusi Iran campur tangan dalam kebijakan luar negeri Negeri Seribu Mullah itu.

Garda Revolusi Iran memang sudah sering dituding memengaruhi keputusan politik di negara tersebut sehingga cenderung tidak profesional. Namun, tak ada yang mengira tudingan keras akan datang dari Menlu Iran yang dikenal sebagai diplomat ulung.

Dikutip dari BBC, tudingan tersebut diperoleh dari rekaman wawancara Menlu pada dua bulan lalu yang bocor pada beberapa hari yang lalu.

Figur moderat Iran awalnya itu percaya bahwa tudingannya tidak akan menyebar di kalangan publik hingga beberapa tahun ke depan sehingga berani mengomentari institusi keamanan terkuat Iran itu secara pedas.

Di dalam rekaman tersebut, Menlu Zarif menyebut bahwa Garda Revolusi sengaja mengarahkan kebijakan luar negeri dan diplomasi Iran untuk membantu kepentingan militernya di Timur Tengah.

Ia mencontohkan bahwa uji coba terhadap rudal yang bertuliskan “Israel harus hilang dari muka bumi” dan penahanan sepuluh pelaut AS pada awal 2016 merupakan usaha Garda Revolusi untuk membatalkan JCPOA, perjanjian nuklir Iran pada 2015.

Secara spesifik, Menlu Zarif bahkan menyebut nama Qasem Soleimani—komandan legendaris Garda Revolusi yang meninggal karena serangan AS pada awal 2020—turut berusaha memengaruhi kebijakan luar negeri Iran.

Intervensi Soleimani itu dilakukan dengan menggunakan pesawat sipil untuk mengirim tentara Garda Revolusi ke Suriah dan mengarahkan Iran untuk terlibat di Perang Sipil Suriah dalam rangka menuruti permintaan Rusia.

Terhadap Rusia sendiri, Menlu Zarif berkomentar bahwa Negeri Beruang Merah itu berusaha semaksimal mungkin untuk menghentikan Iran dari perjanjian nuklir JCPOA pada 2015 karena tidak ingin Iran berdamai dengan AS.

Sampai sekarang, masih belum diketahui siapa pembocor rekaman tersebut. Namun, pembocoran tersebut berlangsung di tengah atmosfer pemilihan presiden Iran yang akan berlangsung pada 18 Juni 2021 nanti.

Diduga, kelompok garis keras di Iran tidak menginginkan Menlu Zarif untuk menjadi Presiden Iran menggantikan Hassan Rouhani yang masa jabatannya berakhir tahun ini.

Pada akhirnya, apapun dinamika yang terjadi, pembocoran rekaman tersebut akan menjadikan Menlu Zarif memiliki masalah besar dengan Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang cenderung memiliki pemikiran garis keras.

Leave a Reply

Your email address will not be published.