Pemilu Jerman: SDP Menang Tipis, CDU/CSU Anjlok, Greens Sukses

Ilustrasi kemenangan SDP di Pemilu Jerman. Foto: Getty Images

Pemilu Jerman yang dilakukan untuk membentuk pemerintahan federal Jerman pasca-Merkel telah selesai dilaksanakan pada 26 September 2021. Dalam waktu yang singkat pula, hasil pemilu sudah dapat dilihat oleh publik luas.

Social Democratic Party (SPD) berhasil keluar sebagai pemenang dalam pemilu kali ini dengan perolehan 25,7% suara dan 206 kursi di Bundestag (parlemen Jerman). Partai Merkel, Christian Democratic Union/Christian Social Union (CDU/CSU) harus turun ke peringkat dua dengan perolehan 24,1% atau 196 kursi saja.

Sementara itu, Partai Grüne (Greens) bak ditimpa durian runtuh karena berhasil memperoleh 14,8% suara, naik dua kali lipat dari pemilu sebelumnya pada tahun 2017. Free Democratic Party (FDP) juga mendapatkan hasil yang positif berupa 11,5% suara.

Dua partai berhaluan radikal, Alternative for Germany atau AfD (sayap kanan) dan Die Linke (sayap kiri) harus menelan pil pahit kekalahan. Suara AfD dan Die Linke masing-masing harus turun menjadi 10,3% dan 4,9%. Die Linke bahkan sempat terancam tidak mendapatkan kursi parlemen karena persentase pemilih yang ada di bawah ambang batas 5%.

Bagaimana SPD Menang dan CDU/CSU Kalah

SPD, partai pemenang Pemilu 2021, memiliki performa yang positif. Perolehan suaranya naik 5% dari Pemilu 2017 ketika partai tersebut hanya mampu meraih 20,5% suara. Partai pimpinan Olaf Scholz ini pun berjanji bahwa ia akan membentuk “pemerintahan Jerman yang baik dan pragmatis.”

Dibandingkan CDU/CSU, SPD memiliki program-program yang lebih progresif. Penghapusan batasan imigrasi, pemotongan emisi karbon pada 2030, pemberian jaminan pensiun, penyediaan perumahan, dan pemberian bantuan pembangunan kepada negara berkembang menjadi sejumlah program utama SPD yang ikut menarik suara bagi partai tersebut.

Namun, salah satu faktor utama kemenangan SPD adalah pemimpin CDU/CSU, Armin Laschet. Laschet memenangi rivalitas internal partainya melawan Markus Soder, tetapi elektabilitasnya masih rendah secara nasional. Ia juga melakukan beberapa blunder, seperti terlihat sedang tertawa di lokasi bencana banjir. Meskipun Laschet sudah meminta maaf atas hal tersebut, peristiwa tersebut menurunkan popularitas CDU/CSU secara signifikan.

Peristiwa tersebut juga menjadi sumber anjloknya suara CDU/CSU pada Pemilu 2021. Dengan hanya mengantongi 24,1% suara, CDU/CSU memperoleh hasil terburuk sepanjang eksistensinya. Sebagai gambaran, raihan suara terburuk CDU/CSU sebelum pemilu tahun ini adalah 31% pada Pemilu 1949—pemilu pertama Jerman Barat 72 tahun lalu.

Meskipun sudah memenangkan pemilu, SPD masih harus membentuk koalisi dalam rangka memperoleh 50% kursi parlemen sehingga pemerintahan dapat terbentuk. CDU/CSU pun berkesempatan untuk kembali berkuasa jika partai tersebut mampu mendapatkan 50% kursi parlemen terlebih dahulu melalui pembentukan koalisi.

Di sinilah dua partai lainnya menempati posisi penting dalam pembentukan pemerintahan Jerman baru: Greens dan FDP.

Kingmakers: Greens dan FDP

Partai Greens menjadi partai dengan performa terbaik pada pemilu tahun ini karena persentase suara yang didapatkannya meningkat hampir dua kali lipat, dari 8,9% pada Pemilu 2017 menjadi 14,8% pada Pemilu 2021. Peningkatan drastis tersebut disebabkan tingginya perhatian terhadap isu perubahan iklim di Jerman akhir-akhir ini. Sebagai partai dengan fokus pencegahan perubahan iklim, Greens pun mampu meraup suara tinggi dalam pemilu.

Sementara itu, FDP menjadi partai terakhir dengan performa positif dalam pemilu tahun ini. Meskipun suaranya hanya naik 0,8% dari tahun 2017, kenaikan tersebut berhasil menempatkan FDP di peringkat keempat, menggeser AfD ke posisi kelima. Partai yang berorientasi liberal dan pro-ekonomi klasik ini berhasil menggaet suara dari kaum muda dan kelas atas Jerman.

Posisi ketiga dan keempat di Pemilu 2021 menempatkan Greens dan FDP sebagai “kingmaker”, yaitu posisi penentu pemerintahan Jerman. Partai terbesar, baik SPD maupun CDU/CSU, yang mampu berkoalisi dengan keduanya akan keluar sebagai pemegang kekuasaan Jerman hingga pemilu selanjutnya pada 2025.

Tantangan Kedepan

Siapapun partai yang keluar sebagai pemegang kekuasaan Jerman nantinya, pemerintahan Jerman harus segera menghadapi berbagai isu penting, baik nasional maupun internasional.

Pemerintahan baru Jerman harus segera menyelesaikan isu perubahan iklim. Banjir bandang Jerman pada pertengahan tahun 2021 lalu memperlihatkan bahwa negara maju seperti Jerman pun tidak akan lepas dari kerugian akibat perubahan iklim. Pemerintahan baru, dengan demikian, harus mampu menyukseskan program-program pro-iklim, seperti memotong gas emisi dan mendorong energi terbarukan.

Selain itu, pemerintahan baru Jerman juga harus mempertahankan citra dan wibawa Jerman yang ikut melekat pada Angela Merkel. Selama 16 tahun kekuasaannya, Merkel benar-benar menjadi representasi dari Jerman itu sendiri yang kuat menghadapi krisis finansial, krisis pengungsi, hingga kemunduran AS pada era Trump. Pemerintahan baru pun harus bekerja keras agar citra positif tersebut tidak hilang setelah Merkel turun jabatan.

Masih terdapat isu-isu lain yang harus diselesaikan oleh pemerintahan baru Jerman nantinya, dari pengungsi hingga COVID-19. Yang pasti, jalan politik Jerman ke depan diprediksi tidak akan semudah sebelumnya, terutama karena tidak adanya partai dominan di Bundestag saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *