Percaya Khasiat Vaksin, PM Boris Angkat Restriksi Pandemi di Inggris Hari Ini

Ilustrasi PM Boris Johnson. Foto: Stefan Rousseau/AFP

Per Senin hari ini (19/7), keputusan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk meringankan restriksi COVID-19 mulai efektif berlaku, membuka kesempatan untuk warga Inggris berinteraksi secara normal.

Pemerintah Inggris telah mencabut batasan jumlah orang yang hadir dalam sebuah acara, pembukaan ulang kelab malam, diperbolehkannya sistem restoran prasmanan, dan pengangkatan hampir semua restriksi lainnya. Perubahan ini juga disertai ketidakwajiban menggunakan masker di ruang publik.

Boris Johnson menyatakan bahwa Inggris telah memasuki masa kesiapan untuk melalui langkah terakhir sebelum menyelesaikan kondisi lockdown. Meski begitu, Boris tetap mengimbau masyarakat Inggris agar tetap waspada. 

“Jika kita tidak melakukannya sekarang kita harus bertanya pada diri kita sendiri, kapan kita akan melakukannya? Tetapi tentu saja kita tetap perlu berhati-hati. Kita perlu mengingat bahwa virus ini masih di luar sana. Jumlah kasus pun masih meningkat dengan keganasan varian Delta.” ucap Boris dalam sebuah rekaman video yang ia rilis melalui kanal Twitter-nya.

Ironisnya adalah, Boris Johnson dan Menteri Keuangan Rishi Sunak harus menjalani isolasi mandiri di hari mereka mengumumkan peringanan batasan ini karena mereka melakukan kontak dengan Menteri Kesehatan Sajid Javid yang dinyatakan positif COVID-19 pada hari Sabtu yang lalu. 

Banyak ahli yang menyatakan bahwa keputusan yang diambil oleh Boris merupakan keputusan yang berdampak besar. Keputusan yang didasari atas fakta 68% warga Inggris yang telah divaksinasi dua kali tersebut adalah pertaruhan besar yang diambil oleh Boris Johnson. 

Kepercayaan Boris pada vaksin dinilai sebagai langkah yang gegabah oleh Simon Clarke, profesor mikrobiologi seluler Universitas Reading. Menurutnya walau hal ini dapat menjadi taruhan yang berhasil dengan kembalinya Inggris ke normalitas, jauh lebih banyak risiko yang mungkin terjadi lagi. 

Ia menyatakan bahwa peningkatan tingkat infeksi akan berujung pada kemungkinan terbukanya gelombang ketiga COVID-19. Ia menyatakan bahwa persentase vaksinasi rakyat Inggris itu tidak penting karena mereka masih dapat terpapar COVID-19 jika tidak berjaga diri.

Menurutnya, menambah kemungkinan jumlah pasien akan menambah beban NHS dan membuat mereka semakin keteteran. Adapula risiko virus yang menjadi semakin ganas seiring mereka terus menginfeksi dan bermutasi yang akan menyebabkan masalah di masa depan nanti. 

Inggris harus dapat memastikan bahwa keputusan “gegabah” ini dihadapi dengan kesiapan tenaga medis dan rencana cadangan seandainya pertaruhan ini gagal. Jika tidak, alih-alih kembali ke masa normal, Inggris kemungkinan besar akan menjadi penghasil varian baru COVID-19.

Boris Johnson sendiri mengakui bahwa memang ada risiko yang cukup besar dalam implementasi kebijakan ini, namun ia menyatakan bahwa risiko tersebut telah diperhitungkan sebelum membuat keputusan. Terlihat dari pernyataannya ini, bahwa ini adalah satu lagi pertaruhan sang perdana menteri.

Keputusan Inggris yang berani ini adalah sebuah pertaruhan yang menjadi tanggungjawab Boris Johnson sepenuhnya. Membatalkan kebijakan ini tentu menjadi pilihan yang tidak populer bagi Pemerintahan Boris, sehingga seperti yang sudah diutarakan, Inggris akan tetap melaju dengan kebijakan ini apapun risikonya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *