Rencana Iklim Baru UE: Berikan Umat Manusia Kesempatan Melawan Perubahan Iklim

Ilustrasi Ursula von der Leyen. Foto: AFP

Pada Selasa (14/7), Uni Eropa  telah mengumumkan proposal baru mengenai rencana melawan perubahan iklim yang ditujukan untuk mendorong tujuan Eropa untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050.

Rencana ini menyebabkan adanya perdebatan dalam Komisi Eropa sendiri, walau Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyetujui inisiatif proposal tersebut.

“Dengan bergerak sekarang kita dapat melakukan hal ini dengan cara lain dan memilih pilihan yang lebih baik, sehat, dan makmur untuk masa depan. Ini adalah tugas generasional kita, untuk memastikan kesejahteraan yang bukan untuk generasi kita saja, melainkan anak dan cucu kita. Eropa siap untuk memimpin pergerakan.” Sebut von der Leyen mengenai proposal ini.

Frans Timmermans, Ketua Kebijakan Iklim EU menyatakan bahwa memang rencana ini kontroversial dan pasti mendapat oposisi dari pemimpin industri, terutama penerbangan dan kendaraan bermotor, beserta juga anggota dari Timur yang bergantung dari batu bara. Timmermans menyatakan bahwa semua ini bertujuan baik dan ia ingin memberi manusia kesempatan melawan perubahan iklim.

Uni Eropa menjalankan proposal ini untuk mendorong angka penurunan emisi karbon mereka sebesar 55% pada tahun 2030. Hingga saat ini, Uni Eropa baru bisa memotong emisi sebesar 24% dari kesepakatan tahun 1990.

Beberapa proposal kunci yang diajukan meliputi:

  • Pembatasan emisi yang lebih ketat pada kendaraan bermotor yang bertujuan memberhentikan penjualan kendaraan bermotor pada tahun 2035;
  • Pajak untuk bahan bakar penerbangan, dan pembebasan pajak selama 10 tahun untuk perusahaan yang menggunakan alternatif rendah karbon;
  • Carbon Border Tariff yang mengharuskan perusahaan manufaktur di luar UE untuk membayar lebih demi mengimpor material seperti besi dan semen;
  • Target lebih ambisius dalam menyebarkan energi yang diperbarukan dalam UE;
  • Kewajiban bagi negara untuk merenovasi bangunan yang tidak efisien energi, dengan target memperbanyak bangunan ramah lingkungan sebanyak tiga kali lipat. 

Proposal tersebut dikecam beberapa pihak seperti BusinessEurope yang menyatakan bahwa rencana ini dapat membunuh segala minat investasi dalam sektor besi, semen, aluminium, pupuk, dan energi listrik.

Sementara itu, Willie Walsh, ketua International Air Transport Association menyatakan bahwa industri penerbangan telah lama berkomitmen melakukan dekarbonisasi dan merasa bahwa proposal dan insentif seperti pembebasan pajak tidak diperlukan untuk memotivasi perubahan.

Sementara itu di satu sisi, para environmentalis menyatakan bahwa proposal yang diajukan tidak sesuai dengan target yang mereka inginkan.

“Berselebrasi mengenai kebijakan ini bagaikan atlet lompat tinggi yang mendapat medali padahal baru berlari ke bawah tiang. Kebijakan ini memiliki target terlalu rendah, tidak sesuai sains, dan tidak akan mencegah kehancuran planet.” Sebut Direktur Greenpeace UE Jorgo Riss.

Uni Eropa pun telah memastikan bahwa setidaknya 30% dari bujet sebesar 1,8 triliun Euro akan digunakan untuk permasalahan iklim. Uni Eropa harus menyadari bahwa penurunan emisi sebesar 31% dalam 9 tahun menandakan kesiapan Eropa untuk perubahan yang lebih radikal. Sementara itu, pembuatan kebijakan ini pun masih akan melewati negosiasi yang amat lama. Meski begitu, dengan proposal ini UE telah menjadi contoh kawasan yang memimpin transformasi kebijakan iklim di dunia, yang akan menjadi contoh bagi negara-negara lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *