Sanksi Bersambut, Barat dan Rusia Saling Lakukan Embargo Migas

Foto: Financial Times/Bloomberg

Dalam perkembangan terbaru mengenai invasi Rusia terhadap Ukraina, Amerika Serikat, dan Eropa mengembargo minyak dan gas (migas) dari Rusia. Hal tersebut dilakukan setelah Rusia mengancam akan memutus aliran gas ke Jerman jika AS dan Eropa melakukan embargo migas Rusia.

Pada Selasa (8/3) waktu setempat, Presiden AS Joe Biden mengumumkan embargo migas Rusia untuk memutus “nadi ekonomi Rusia.”

“(Embargo migas) berarti minyak Rusia tidak akan diterima di AS dan masyarakat AS akan memberikan hantaman lain kepada Putin,” ujar Biden.

Pengumuman serupa juga disampaikan oleh Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang mengumumkan penghentian impor minyak Rusia pada 2022.

“Jangan lupakan bahwa dampak ekonomi dari sanksi yang dipimpin Inggris selama ini itu ekstrem,” ujar Johnson, menambahkan pernyataan penghentian impor tersebut.

Sementara itu, Uni Eropa—yang bergantung terhadap gas Rusia—tidak langsung melakukan penghentian impor migas, tetapi mengumumkan akan mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk menyetop ketergantungan kepada migas Rusia “paling lambat 2030.”

Pernyataan pemimpin-pemimpin barat tersebut seakan menjadi respons tegas terhadap ancaman pemutusan suplai migas dari Rusia.

Rusia Akan Balas Embargo Migas

Beberapa jam sebelum pernyataan Biden, Deputi Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyebut bahwa Rusia berpotensi untuk menutup pipa gas utamanya ke Jerman jika negara-negara barat mengembargo migas Rusia.

“Penolakan terhadap minyak Rusia akan menciptakan bencana bagi pasar global,” ujar Novak sembari memperingatkan adanya potensi peningkatan harga minyak dua kali lipat ke angka $300 per barel.

Novak juga memperingatkan bahwa negara-negara barat akan “sulit mencari pengganti suplai minyak dari Rusia.”

“Perlu bertahun-tahun (mencari pengganti suplai minyak), dan itu tetap lebih mahal. Pada akhirnya, masyarakat Eropa akan terkena imbas terburuknya,” ujarnya.

“Perang embargo” antara barat dengan Rusia saling memanfaatkan kelemahan masing-masing terhadap ketergantungan migas. Faktanya, 40% gas dan 30% minyak Eropa berasal dari Rusia, sementara 15-20% pendapatan nasional Rusia berasal dari sektor migas.

Dampak Lebih Luas Saling Embargo

Melihat ketergantungan tersebut, embargo Rusia diperkirakan dapat menciptakan krisis migas di Eropa, sementara embargo barat diperkirakan akan memotong seperlima pendapatan nasional Rusia. Namun sejauh ini, negara-negara Uni Eropa tampaknya tidak ikut menerapkan sanksi ini.

Meskipun demikian, “perang embargo” tersebut dapat berdampak luas secara global. Harga minyak per barel sudah meningkat menjadi $130 per barel pada Selasa (8/3).

Indonesia pun tidak luput dari dampak saling sanksi dalam bidang migas ini. Pemerintah mulai waswas akan kenaikan harga tersebut yang dapat memengaruhi kemampuan pemerintah. Dalam waktu dekat sudah banyak pihak yang was-was akan kenaikan BBM yang masif digunakan rakyat, seperti Pertalite dan Pertamax.

Fenomena saling memberikan sanksi ini menjadi satu lagi kejadian baru dalam Perang Ukraina-Rusia ini. Sebab Rusia merupakan negara yang besar, maka Putin juga memiliki kesempatan untuk membalas sanksi negara-negara Barat. Sanksi ekonomi memang pada hakikatnya akan menyakiti kedua belah pihak, atau bahkan seluruh dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.