Satu Negara, Dua Pak Tua

Ilustrasi Joe Biden. Foto: FPCI UPH.

Joe Biden baru saja secara tak resmi terpilih sebagai calon Partai Demokrat untuk Pemilihan Umum 2020, setelah Bernie Sanders menangguhkan kampanyenya, Rabu (8/4). Penangguhan kampanye oleh Sanders merupakan sebuah kejutan bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang berpendapat bahwa ia merupakan calon terbaik Partai Demokrat yang dapat memenangkan Pemilu mendatang. Mengutip Politico, Sanders mengakui bahwa ia menyadari dirinya tak akan mampu mengalahkan popularitas Joe Biden sebagai calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Sanders pun memberi selamat kepada Biden dan mengatakan bahwa ia akan membantu Biden, demi memastikan gerakan progresif yang ia kembangkan di Partai Demokrat tidak lenyap begitu saja. “Saya mengucapkan selamat kepada Joe Biden, seorang pria yang sangat baik, yang akan saya ajak bekerja sama untuk memperjuangkan gagasan progresif.”

Biden, dengan potensi langkah selanjutnya adalah menunjuk seorang wanita sebagai pasangan wakil presidennya, sekarang sedang berusaha mengumpulkan dukungan seluas mungkin dari partainya sendiri. Ia dianggap berada di spektrum kiri moderat, dengan dukungan kuat terhadap kapitalisme dan neoliberalisme. Meskipun ia mendukung kebijakan inti politik sayap kiri, seperti pajak progresif dan imigrasi terbuka, ia masih perlu memenangkan hati sayap sosialis Partai Demokrat. Terlepas dari dukungan Sanders, banyak pendukung Sanders yang masih meragukan kemampuan Biden dalam mengubah ide progresif milik mereka menjadi sebuah kebijakan publik. Tuduhan pelecehan yang pernah dilakukan Biden dalam beberapa kesempatan juga memperburuk perjuangannya di depan pendukung Sanders.

Selain dukungan dari partainya sendiri, Biden juga perlu menghadapi Donald Trump. Ya, Trump mungkin mendapat dukungan dari kapitalis dan neoliberalis Partai Republikan, tetapi pendukung intinya adalah kelompok-kelompok kanan populis yang mendukung agenda proteksionisme. Trump sekali lagi akan mendapatkan keuntungan dari kelompok populis ini, karena, mengutip Politico, platform utama Biden berseberangan dengan Trump, yakni gerakan “anti-populis”.

Joe Biden juga berencana untuk memulihkan kembali kepemimpinan Amerika Serikat di tingkat global. Mengutip situs web kampanye resminya, Biden menyatakan bahwa “Amerika akan kembali menjadi pemimpin global, dengan memimpin penyelesaian tantangan bersama dunia, mulai dari perubahan iklim … hingga migrasi massal.” Kebijakan ini jelas amat berbeda dengan langkah yang diambil Trump saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *