Sikapi Perang Rusia-Ukraina, Rakyat Rusia Terpecah antara Pro dan Anti-Perang

Ilustrasi demonstrasi anti-perang oleh rakyat Rusia. Foto: AP

Menyusul serangan Rusia terhadap Ukraina pada 24 Februari lalu, rakyat Rusia telah terbelah antara faksi yang anti-perang dan pro-perang. Lepas beberapa hari pasca serangan dilangsungkan, sentimen anti-perang marak muncul di kalangan masyarakat Rusia dan mendapat respon keras dari aparat. Namun, dalam seminggu terakhir gerakan pro-perang juga sedang naik daun di media sosial dan dunia nyata.

Demonstrasi Harian sebagai Upaya untuk Menghentikan Perang

Rakyat dengan haluan anti-perang telah melancarkan demonstrasi harian untuk memrotes invasi negaranya terhadap Rusia sejak Selasa (24/2) malam dua minggu lalu. Ribuan masyarakat Rusia turun ke jalan-jalan beberapa kota besar seperti Moskow, St. Petersburg, dan Yekaterinburg sambil meneriakkan seruan “No to war!” dan “Shame on you!” yang ditujukan pada Putin dan jajaran pemerintahnya. 

Demonstrasi tersebut direspon dengan penangkapan represif para aktivis perdamaian yang dilakukan oleh aparat keamanan Kremlin yang terdiri dari Kepolisian Rusia dan unit OMON dari Garda Nasional Federasi Rusia. 

Awalnya, penangkapan tersebut dijustifikasi oleh Kementerian Dalam Negeri Rusia sebagai tindakan yang perlu dilakukan untuk membatasi penyebaran virus corona di acara-acara publik yang tidak resmi. Namun, sejak Jumat (4/3) minggu lalu, penangkapan diketahui dilakukan untuk menjatuhkan sanksi kepada para aktivis. 

Sebab, pada hari itu, Rusia telah mengesahkan dan memberlakukan dua undang-undang yang dapat mengkriminalisasi mereka yang melakukan aksi resistensi terhadap perang dan peliputan perang secara independen. Menurut Human Rights Watch, pelanggaran terhadap undang-undang tersebut dapat dijatuhi hukuman penjara hingga 15 tahun lamanya. 

Pasca disahkannya undang-undang tersebut, angka demonstran yang ditangkap meningkat tajam. Jika pada awal demonstrasi tercatat 1000-2000 massa aksi ditahan dalam sehari, pada hari Minggu (6/3) dilaporkan bahwa 4.640 pengunjuk rasa di 65 kota Rusia telah ditahan oleh aparat dalam sehari. Dilansir dari Aljazeera, hingga Minggu (6/3) total lebih dari 10.000 orang telah ditangkap oleh aparat.  

Selain itu, terdapat pula sebagian dari warga yang melarikan diri dari Rusia, utamanya menuju Helsinki, Filandia. Hal ini umumnya dilakukan atas dasar kekhawatiran akan segera ditutupnya perbatasan Rusia dengan negara lain dan efek samping dari sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat.

Propaganda Pemerintah: Penggalangan Dukungan Perang melalui Simbolisme 

Saat aktivisme anti-perang mulai dilemahkan oleh pemerintah secara koersif, belakangan ini sentimen pro-perang semakin menguat di kalangan rakyat Rusia. 

Hal ini dipengaruhi oleh propaganda pemerintah yang menginterpretasikan perang dengan Ukraina sebagai kembalinya Rusia ke masa-masa hebat dan kuatnya. Selain itu, beberapa media turut membingkai perang sebagai perang suci atas nama Gereja Ortodoks Rusia untuk meluaskan ajaran Ortodoksi.

Dukungan rakyat ini salah satunya ditunjukkan dengan maraknya disematkannya huruf “Z” di berbagai medium–kaca mobil, halte bus, papan iklan, dan kaos-kaos yang dikenakan–di Rusia. Huruf tersebut bahkan nampak di baju pertandingan yang dikenakan atlet gymnastik Russia, Ivan Kuliak, dalam sebuah perlombaan gymnastik di Qatar. 

Disinyalir, huruf “Z” tersebut merupakan simbolisme dari “zapad” yang artinya Barat, di mana Ukraina berada jika dilihat dari Russia. “Z” juga dikatakan merupakan simbol dari “Za pobedy” yang berarti untuk kemenangan dalam bahasa Rusia. 

Sejumlah pengamat kemudian menemukan bahwa mulanya, “Z” merupakan tanda umum yang disematkan pada kendaraan dan peralatan militer Rusia untuk menghindari tembakan dari sisi yang sama. Simbol tersebut selanjutnya digencarkan oleh rezim sebagai sebagai bentuk dukungan akan perang yang berlangsung melalui media milik pemerintah dan video-video tutorial penyematan simbol “Z” milik politisi pro-Kremlin seperti Maria Butina. 

Dinamika rakyat Rusia dalam menyikapi perang yang terjadi menunjukkan perpecahan dan polarisasi yang semakin menjadi. Sementara sebagian masyarakat Rusia menghadapi kesulitan hidup yang nyata dan memutuskan untuk menolak perang atau bahkan meninggalkan Rusia, sebagian lainnya justru tenggelam dalam fantasi mengembalikan kejayaan Rusia di masa lalu. Polarisasi ini menjadi semakin parah sebab Pemerintahan Putin sengaja mengobarkan api perpecahan tersebut, sehingga kelompok anti-perang menjadi semakin terepresi dari hari ke hari. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *