Tsai Ing-Wen di Taiwan: Wujud Kepemimpinan Perempuan dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

Ilustrasi Tsai Ing-Wen. Foto: Reuters

Di tengah situasi pandemi COVID-19 ini, para pemimpin negara di dunia masih harus berkutat dengan perjuangan serta langkah antisipatif dalam menangani hal tersebut. Terdapat anggapan yang meyakini bahwa pada negara yang dipimpin oleh seorang perempuan, negara tersebut cenderung jauh lebih baik dalam penanganan serta pencegahan penyebaran COVID-19. Tiga contoh negara yang dinilai antisipatif dalam menghadapi penyebaran COVID-19 yakni Jerman, Selandia Baru, dan Taiwan, yang mana ketiganya dipimpin oleh seorang perempuan. Untuk kali ini, penulis akan membahas kepemimpinan Tsai Ing-Wen sebagai Presiden Taiwan, yang mana dibawah kepemimpinannya dinilai terbukti dalam menangani pandemi COVID-19 di negaranya. 

Tsai Ing-Wen merupakan contoh dari pemimpin negara yang bertindak preventif dan juga bertanggung jawab penuh kepada nasib rakyatnya ketika pandemi COVID-19 merebak di negara Taiwan. Beliau dinilai telah mengambil langkah antisipatif yang baik untuk menekan angka penyebaran COVID-19. Beliau juga sangat bertanggung jawab dan juga sangat merasa bersalah apabila ada kasus kematian pada warga negaranya yang diakibatkan oleh COVID-19. Saat tercatat 411 kematian akibat lonjakan virus corona di Taiwan pada Mei 2021, Tsai Ing-Wen meminta maaf kepada semua rakyatnya yang terkena dampak wabah tersebut melalui akun twitter pribadinya (Kompas, 2021).

Tercatat bahwa pemimpin negara yang pertama mengambil tindakan pencegahan atas SARS-CoV-2 adalah Tsai Ing-Wen. Pada laporan media pertama atas kejanggalan munculnya virus baru di Tiongkok, beliau langsung memerintahkan pemeriksaan kesehatan untuk semua penerbangan dari Wuhan mulai 31 Desember 2019 dan pada Januari memobilisasi Pusat Komando Epidemi Pusat untuk mengkoordinasikan respons (Looi, 2020, 2). Jauh sebelum WHO menaikkan status COVID-19 sebagai pandemi global, Taiwan telah mengerahkan serangkaian strategi respons. Misalnya, untuk mencegah panic buying terhadap kebutuhan masker, Kementerian Perekonomian mengerahkan perusahaan untuk meningkatkan produksi masker dalam jangka waktu singkat (Chen, 2021, 1). Pemerintah Tsai Ing-Wen bahkan dapat memproduksi masker mandiri, bermitra dengan perusahaan swasta di negara Taiwan untuk menjaga stok tetap surplus dan harga terjangkau untuk rumah sakit dan publik, dan bahkan Taiwan dapat menyumbangkan 10 juta stok masker ke negara lain pada saat terjadinya krisis global dan perpecahan internasional akibat pandemi (Looi, 2020, 2). 

Selain itu, di bawah struktur organisasi Central Epidemic Command Center (CECC), Kementerian Perhubungan dan Komunikasi, Badan Imigrasi Nasional, Dewan Urusan Daratan dan Kementerian Luar Negeri bekerja sama untuk segera menerapkan dan memodifikasi tindakan pengendalian perbatasan dalam menanggapi tren epidemi global. Tsai Ing-Wen juga langsung memberlakukan pembatasan perjalanan, mulai dari pengkarantinaan pelancong yang berisiko tinggi terpapar corona hingga melakukan pembatasan aktivitas umum tatap muka. Tidak hanya itu, semua pemerintah daerah mendirikan pusat perawatan dan dukungan bagi individu yang dikarantina untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari seperti pengiriman makanan, perawatan medis, dan layanan konsultasi (Chen, 2021, 1). 

Di tengah situasi politik global yang memanas akibat perseteruan Tiongkok-Taiwan, Tsai Ing-Wen mengesampingkan hal tersebut. Ketika negara-negara yang ada di dunia gencar mengkritik serta menyalahkan Tiongkok akibat lalainya negara tersebut dalam mencegah munculnya pandemi COVID-19, Tsai Ing-Wen tetap menaruh simpati terhadap Tiongkok dan menyayangkan pihak-pihak yang berpandangan buruk terhadap situasi Tiongkok sebagai dalang dari COVID-19 itu sendiri (Pendery, 2021, 169).

Melihat langkah serta tindakan yang dilakukan oleh Tsai Ing-Wen dalam menangani pandemi COVID-19 di negaranya dapat menjadi satu diskursus baru bagi kita dalam melihat prospek tampuk kepemimpinan ketika dipimpin oleh seorang perempuan. Mayoritas kepala-kepala negara yang ada di dunia dipimpin oleh seorang figur laki-laki (175 negara) sementara sedikit negara yang dipimpin oleh seorang perempuan (19 negara). 

Pada perkembangan media massa selama pandemi menyelidiki bahwa apakah terdapat perbedaan yang signifikan dan sistematis dalam hasil penanganan COVID-19 dari negara-negara yang dipimpin laki-laki dan perempuan pada kuartal pertama pandemi (Purkayastha et al, 2020, 1). Terdapat banyak penelitian yang melaporkan bahwa mengendalikan berbagai faktor sosio-demografis, negara-negara yang dipimpin perempuan berkinerja jauh lebih baik daripada negara-negara yang dipimpin laki-laki (Purkayastha et al, 2020, 2). Melihat penjelasan tadi, kita dapat bertanya mengenai fakta apakah yang melatarbelakangi hal tersebut? Bagaimana pengaruh stereotip gender kepemimpinan ketika melihat fenomena baru yang sedang dihadapi oleh global?

Stereotip gender dalam ranah perpolitikan di satu sisi melahirkan pandangan bahwa politisi laki-laki digambarkan sebagai pemimpin kuat yang akan melindungi warga negaranya dari ancaman internal dan eksternal sembari menjanjikan jaminan ekonomi; hal tersebut yang mengkonsepsikan suatu pandangan maskulinitas. Sebaliknya, perempuan dianggap memiliki feminitas protektif—yang menurut Johnson (2020, 24-27) mengacu pada bentuk-bentuk protektif, sering kali menggabungkan kepedulian dan empati dan dikaitkan dengan peran perempuan dalam keluarga, untuk menunjukkan bahwa politisi perempuan memiliki karakteristik feminim yang akan memfasilitasi warga negara mereka (Johnson & Williams, 2020, 944). 

Ada faktor khusus yang menyebabkan konsepsi perspektif keperempuanan menjadi relevan ketika membahas penanganan pandemi COVID-19 oleh seorang kepala negara perempuan. Pandemi COVID-19 telah memberikan peluang yang tidak biasa bagi para pemimpin perempuan untuk menampilkan bentuk-bentuk feminitas yang protektif (Johnson & Williams, 2020, 945). Para pemimpin perempuan juga telah mampu memanfaatkan konsepsi tradisional tentang peran perempuan. Akibatnya, berbagai pemimpin perempuan telah menunjukkan kekuatan dalam mengurung warga di rumah sekaligus menunjukkan perasaan keibuan, empati, dan kasih sayang (Johnson & Williams, 2020, 945). 

Dengan sikap maturity serta motherhood, para pemimpin negara yang dikepalai oleh perempuan menunjukkan suatu rasionalitas dan juga efektif dalam melindungi warga negaranya. Sehubungan dengan ini, para pemimpin politik ini telah menunjukkan nilai karakteristik pelindung feminim, yaitu kepedulian, empati, kasih sayang, dan kreativitas, sebagai bagian dari perangkat kepemimpinan mereka yang lebih luas (Mayer & May, 2021, 10). Karena mindset perempuan yang berusaha melindungi warga negaranya, berbeda dengan laki-laki yang mementingkan sisi ekonomi apabila ingin memproteksi sepenuhnya dalam penanganan pandemi COVID-19. 

Referensi

Chen, SC. (2021). Taiwan’s experience in fighting COVID-19. Nature Immunology, 22, 393–394. https://doi.org/10.1038/s41590-021-00908-2

Iswara, A. J. “Covid-19 di Taiwan Memburuk, Presiden Tsai Ing-Wen Minta Maaf.” https://www.kompas.com/global/read/2021/06/14/181010470/covid-19-di-taiwan-memburuk-presiden-tsai-ing-wen-minta-maaf?page=all (Diakses pada 14 November 2021).

Johnson, C., & Williams, B. (2020). Gender and Political Leadership in a Time of COVID. Politics & Gender, 16, 943–950. https://doi.org/10.1017/S1743923X2000029X

Looi, M. K. (2020). The COVID-19 Yearbook: World Leaders Edition. bmj, 371. 1–2. http://dx.doi.org/10.1136/bmj.m4728

Mayer, CH., & May, M.S. (2021). Women Leaders Transcending the Demands of Covid-19: A Positive Psychology 2.0 Perspective. Frontiers in Psychology, 12(647658), 1–12. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2021.647658/full.

Pendery, D. (2021). Taiwan⁠—A Light in the East: A Personal and Analytical Taiwan Study. Singapore: Palgrave Macmillan.

Purkayastha, S., Salvatore, M., & Mukherjee, B. (2020). Are Women Leaders Significantly Better at Controlling the Contagion During the COVID-19 Pandemic?. J Health Soc Sci, 5(2), 231–240. 

Yonathan Anugerah El Pohan adalah mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @yonathananugerah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *