Varian Baru dan Antibodi Melemah, Vaksin Booster Semakin Diperlukan

Ilustrasi vaksin COVID-19. Foto: Geert Vanden Wijngaert/Getty Images

Sudah sekitar tujuh bulan sejak dosis vaksin COVID-19 pertama disuntikkan ke warga Inggris, negara yang pertama kali memulai program vaksinasi nasional pertama di dunia pada Desember 2020.

Dalam tujuh bulan tersebut pula, muncul pertanyaan di kalangan ilmuwan kesehatan: sampai kapan vaksin tersebut akan efektif melawan COVID-19?

Beberapa penelitian telah berusaha menyelidiki durasi efektivitas vaksin tersebut, salah satunya adalah Sinovac yang ternyata hanya memiliki keefektifan tinggi dalam enam bulan.

Dikutip dari Tempo, penelitian terhadap sampel darah orang dewasa sehat berusia 18-59 tahun di Tiongkok memperlihatkan bahwa antibodi yang dihasilkan oleh vaksin Sinovac akan turun dalam enam bulan sejak penyuntikan dosis kedua.

Berita tersebut cukup mengkhawatirkan bagi masyarakat di berbagai negara yang hanya memiliki opsi pilihan vaksin yang sedikit, termasuk Indonesia.

Kekhawatiran tersebut juga ditambah oleh munculnya berbagai varian COVID-19 baru yang lebih kuat dalam penyebarannya. Varian COVID-19 baru yang menjadi sorotan adalah varian Delta dan Lambda.

Varian Delta sudah diketahui sebagai momok terbesar COVID-19 saat ini. Dengan tingkat penyebaran yang lebih cepat dan tinggi, varian tersebut mendominasi COVID-19 di dunia dan menciptakan lonjakan COVID-19 yang drastis di Indonesia, Malaysia, AS, dan Eropa.

Sementara itu, varian Lambda adalah varian yang umum ditemui di Amerika Latin. Meskipun penyebarannya tidak secepat varian Delta, varian Lambda dikenal memiliki ketahanan yang lebih tinggi karena kemampuannya untuk menetralkan antibodi yang dihasilkan oleh vaksin.

Oleh karena itu, beberapa ahli kesehatan menyarankan agar masyarakat yang sudah divaksin dua dosis dapat menerima dosis ketiga atau vaksin booster.

Dikutip dari Aljazeera, vaksin booster adalah vaksin yang dilakukan untuk meningkatkan imun tubuh manusia kembali setelah imunitas vaksin sebelumnya berkurang dalam jangka waktu tertentu. Penggunaannya sudah lumrah dilakukan di dalam vaksin tetanus dan polio.

Sejumlah otoritas vaksin sudah mulai ancang-ancang dalam memberikan vaksin booster, salah satunya adalah Pfizer-BioNTech yang membuat rencana suntik vaksin booster dalam 6-12 bulan sejak penyuntikan dosis kedua.

Dengan demikian, vaksin booster menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan imun tubuh manusia terhadap COVID-19 yang semakin mengganas. Namun, wacana vaksin booster harus disertai dengan pengkajian lebih lanjut dan pemerataan vaksin ke seluruh dunia agar COVID-19 lebih cepat terkendali secara global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *