Wabah dan Power: Bagaimana Penguasa Mempertahankan Kekuasaannya di Tengah Pandemi

Ilustrasi Berbagai Pemimpin di Seluruh Dunia. Foto: FPCI UPH.

Konflik bersenjata, kekuatan alam yang merusak, dan tekanan dunia modern sering kali menciptakan narasi mengerikan tentang punahnya peradaban manusia. Namun, semua bencana ini tidak ada artinya dibandingkan dengan pemusnah peradaban terhebat: wabah penyakit. Ketika pandemi muncul, negara-negara mengatur ulang status quo politik dengan ajakan untuk persatuan. Namun, jelas tidak ada yang lebih mengerikan bagi manusia daripada memanfaatkan wabah penyakit sebagai alat politik. Tanggapan pemerintah memang bervariasi dari satu negara ke negara yang lain, namun semuanya tampak memiliki pemikiran yang sama untuk mengeluarkan tindakan luar biasa dalam menghadapi krisis yang disebabkan oleh pandemi.

Di Israel, Perdana Menteri Netanyahu telah memerintahkan penutupan pengadilan (yang sedang menyelidiki kasus korupsi yang diduga berkaitan dengan dirinya), memutuskan bahwa anggota parlemen Israel yang baru terpilih tidak dapat bersidang, dan melegalkan pelacakan data masyarakat sebagai langkah pendataan penyebaran infeksi Covid-19. Para pemimpin oposisi Israel mengecam keputusan itu, sembari menuduh Perdana Menteri menggunakan pandemi untuk menghindari persidangan. Di Yordania, Raja Abdullah memberikan wewenang bagi Perdana Menteri Razzaz untuk mengerahkan tentara di tengah kota sembari menerapkan jam malam. Filipina telah menyetujui Rancangan Undang-Undang Keadaan Darurat Nasional, yang efektif memberikan Presiden Duterte kekuatan darurat dan tambahan USD 5,4 miliar untuk memerangi pandemi. Presiden Duterte berjanji untuk menindak warga yang menyebarkan “informasi yang salah”. Di Hungaria, Perdana Menteri Orban telah mengeluarkan undang-undang yang membuat ia mampu menghindari parlemen sekaligus menangguhkan hukum (khususnya hukum yang berkaitan dengan kebebasan berbicara dan perintah karantina). Kekhawatiran utama yang dihadapi adalah bahwa kekuatan-kekuatan darurat ini tidak akan dicabut pasca pandemi berakhir.

Seolah ingin menggiring opini, Harian Global Times Cina mengeluarkan pendapat yang mendukung keyakinan bahwa asal usul COVID-19 dimulai dengan eksperimen Angkatan Darat Amerika Serikat. Negara-negara otokratis tidak menciptakan situasi lebih baik, seperti halnya Iran yang telah menanggung kerugian manusia yang signifikan, melampaui tiga ribu angka kematian yang sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi. Sebagaimana negara terus berjuang secara politis, COVID-19 akan terus menyerang seluruh penjuru dunia tanpa peduli negara tersebut bersifat otokrasi atau demokrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *