Winter Olympics Beijing Penuh Ketegangan: Antara Pandemi, Boikot Diplomatik, dan Ancaman Perang

Ilustrasi pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2022. Foto: VCG

Jumat (4/2), Olympic Games Beijing 2022 resmi dibuka, dengan polemik dan respons tak bersahabat yang melekat pada ajang olahraga internasional ini. Berlangsung hingga 20 Februari nanti, ajang olahraga yang biasa disebut dengan Winter Olympics ini akan mengumpulkan lebih dari 3000 atlet dari 109 cabang olahraga berbeda. 

Terkait kebijakan ‘Zero Tolerance’ Tiongkok, Winter Olympics berlangsung di atas kebijakan larangan bepergian masuk dan ke luar Tiongkok yang ketat sejak pandemi dimulai. Atlet dan pihak berkepentingan yang hadir untuk pertandingan harus datang dengan penerbangan yang dicarter dan terus menetap dalam area ‘bubble’ hingga tanggal kepulangan mereka.

Meskipun begitu, secara nasional Beijing tetap mencatat lonjakan kasus tertinggi dalam 18 bulan terakhir, lima hari sebelum pembukaan pertandingan hari ini. Di ibu kota terdeteksi 20 kasus baru, sementara di dalam bubble sendiri 34 kasus ditemukan, 13 di antaranya adalah atlet atau petugas Olimpiade yang datang dari luar negeri. 

Aksi ‘Boycott Beijing 2022’ dan Potensi Aliansi Tiongkok-Rusia

Sebelum dimulai, Olimpiade ini sudah diwarnai ketegangan akibat boikot diplomatik oleh Amerika Serikat, yang kemudian diikuti Inggris, Australia, Kanada, dan Jepang. Boikot ini dilakukan atas dasar pelanggaran HAM di Xinjiang terhadap populasi Muslim Uyghur. “Kita tidak bisa menyerahkan legitimasi pada rezim bengis Tiongkok,” sebut anggota parlemen Inggris Duncan Smith.

Atas tudingan ini, pemerintah Tiongkok membantah adanya kejahatan kemanusiaan di Xinjiang. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mengatakan bahwa AS, pemboikotnya yang paling vokal, telah ‘menyalahi semangat Olimpiade’ dan akan ‘membayar harga setimpal akan perbuatannya’.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin justru dijanjikan akan hadir pada pembukaan Winter Olympics, menunjukkan kedekatan kedua negara.

Namun di sisi lain, prospek invasi Rusia terhadap Ukraina menghadirkan potensi bahaya bagi Olimpiade Beijing. Resolusi Olympic Truce PBB menyebutkan bahwa negara pengampu dilarang terlibat dalam serangan militer apapun sejak tujuh hari sebelum Olympic Games hingga tujuh hari setelah Paralympic Games. Selain itu, pecahnya konflik hampir dapat dipastikan berarti disrupsi terhadap pelaksanaan Olimpiade.

Sementara itu, para pengamat menyebutkan bahwa invasi di masa akhir musim dingin bulan Maret akan terlalu terlambat dan menyulitkan Rusia jika benar-benar dijalankan. Jika perang pecah, banyak pihak memperkirakan akan terjadinya di bulan ini.

Pada Menlu Anthony Blinken, Menlu Wang Yi mengatakan lewat panggilan telepon bahwa kekhawatiran Moskow terkait keamanan di Ukraina perlu ditangani dengan serius. 

Hal ini disebut-sebut sebagai ekspresi dukungan Tiongkok terhadap kepentingan Rusia di Eropa Timur. “Sebelum ini, Tiongkok selalu menghindar untuk memperlihatkan posisi apapun,” kata seorang pengamat politik Tiongkok. Namun, perdamaian memang dibutuhkan oleh Tiongkok, setidaknya dalam waktu yang sangat dekat ini.

Dengan berbagai hal yang terjadi, Winter Olympics Beijing 2022 akan membawakan lebih dari olahraga saja kepada dunia. Perhelatan ini telah memiliki bobot politik yang cukup berat, dan mungkin masih akan bertambah kedepannya. Hari ini Olimpiade baru dimulai, dunia harus bersiap-siap untuk berita-berita selanjutnya dari Beijing.

Leave a Reply

Your email address will not be published.