Xi Tegas Tolak Penggunaan Senjata Nuklir, Rusia Semakin Terkucilkan

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan). Foto: Sergey Bobylev/Reuters

Pekan lalu, pernyataan tidak terduga diberikan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping terhadap Rusia. Dengan tegas, Xi mengecam ancaman Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menggunakan senjata nuklir dalam perangnya melawan Ukraina.

“Komunitas internasional seharusnya bersama-sama menolak penggunaan ancaman senjata nuklir,” ujar Xi. “Dunia seharusnya mengadvokasikan bahwa senjata nuklir tidak boleh digunakan agar mencegah krisis nuklir di Eropa dan Asia,” tambahnya. Ia juga meminta “peningkatan kondisi kemanusiaan” di area perang, terutama saat musim dingin.

Peringatan yang diberikan Sekjen Partai Komunis Tiongkok tersebut menjadi menarik, mengingat Tiongkok yang sejak awal memosisikan diri sebagai sekutu Rusia dengan persahabatan “tanpa batas”. Namun, seiring berjalannya perang yang kini semakin berlarut-larut, semakin jelas terdapat batas-batas tertentu antara kedua negara tersebut.

Pernyataan tersebut diberikan bersama dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz yang berkunjung ke Beijing, yang juga jelas menolak penggunaan nuklir. Scholz dan Xi sepakat untuk “memainkan peran penting dalam mengupayakan perdamaian dan memfasilitasi negosiasi.”

Meskipun demikian, Xi masih belum meminta Rusia untuk “segera mengakhiri perang” apalagi “mundur dari Ukraina”. Ia juga tidak menyebut masalah penolakan Putin terhadap resolusi PBB yang meminta fasilitasi ekspor gandum Ukraina. Tiongkok juga masih kerap abstain dalam resolusi terkait Perang Rusia-Ukraina. Dengan demikian, pernyataan ini menjadi langkah besar pertama Xi yang berlawanan dengan Putin. 

Xi dan Scholz Ingin Berbisnis

Latar kunjungan Scholz sebelumnya dinilai memiliki latar bisnis yang kuat. Hal ini disebabkan hubungan ekonomi Jerman-Tiongkok yang erat, proyek pelabuhan Hamburg, dan Scholz yang turut serta membawa pemimpin-pemimpin bisnis blue chip Jerman dalam kunjungannya. Akibat motif awal ini, Scholz banyak dikritisi oleh banyak negara Barat lainnya yang mulai melakukan strategic decoupling atau mengurangi dependensi ekonominya terhadap Tiongkok.

Namun, pernyataan bersama Xi dan Scholz menunjukkan dimensi keamanan dari kunjungan tersebut, meski juga masih berhubungan dengan bisnis. Oposisi jelas Tiongkok ini dapat diklaim oleh Scholz sebagai kemenangan diplomatiknya, yang juga menguntungkan tidak hanya bagi negara Barat, tetapi bagi dunia.

Dari sisi Tiongkok, pernyataan ini juga menguntungkan sebab menegaskan kembali postur keamanan Tiongkok yang tidak agresif dan keinginannya untuk melakukan bisnis. Diluar masalah Taiwan—meski isu Taiwan juga penting—Tiongkok menunjukkan keinginannya terhadap perdamaian dan stabilitas. Gestur ini membantu menetralisir persepsi terhadap kebijakan luar negeri Tiongkok yang dianggap semakin agresif dalam beberapa tahun belakangan ini. 

Second commander-in-chief Tiongkok, Perdana Menteri Li Keqiang bahkan memberikan pernyataan yang lebih lembut lagi. Ia menyebut bahwa, “kami tidak bisa menyanggupi eskalasi (konflik Ukraina) lebih jauh lagi.” Di sebelah Scholz, ia mengatakan, “Kami berharap krisis segera berakhir.”

Dengan persepsi atas ancaman Tiongkok yang sedikit ternetralisir dengan oposisinya terhadap penggunaan nuklir Rusia, Xi juga menegaskan keinginannya untuk berbisnis. Oleh karena itu, sekarang negara-negara lain dapat melihat berbisnis dengan Tiongkok dengan risiko moral dan keamanan yang berkurang, meski tidak berarti kecil atau tidak ada sama sekali. Di tengah ekonomi domestik yang terseok-seok, Tiongkok harus dapat meningkatkan perdagangan internasionalnya. Dalam hal ini, hubungan dagang Tiongkok yang signifikan tidak hanya dengan Jerman, tetapi juga Uni Eropa, membuat peran Jerman sentral dalam merevitalisasi hubungan ekonomi diantara keduanya.

Risiko Rusia Menjadi Pariah State

Sikap Tiongkok yang kini berdiri di sisi yang sama dengan negara Barat lainnya dalam perihal ancaman penggunaan nuklir oleh Putin membuat Rusia berada dalam posisi yang semakin terkucilkan.

Akibat dari perang nuklir terhadap ekonomi global adalah disrupsi terhadap perdagangan dunia secara signifikan. Perdagangan dengan pihak-pihak yang dianggap “mengancam” bahkan dapat terhenti sama sekali. Dengan kata lain, jika perang nuklir sudah pecah, besar  kemungkinan akan terjadi point of no return dalam dinamika global. Hal tersebut tentu merupakan kerugian yang tidak diinginkan sama sekali oleh Tiongkok, apalagi dengan posisinya yang masih dianggap mendukung Rusia sejauh ini.

Sebagai satu-satunya major ally Rusia (itupun secara informal), posisi Tiongkok ini tentunya akan sangat dipertimbangkan oleh Putin. Jika Rusia terus melakukan tindakan yang merugikan kepentingan Tiongkok, bukan tidak mungkin Tiongkok justru akan berbalik terhadap Rusia dan terang-terangan menolak invasi terhadap Ukraina.

Dampaknya adalah Rusia akan kehilangan satu-satunya mitra utamanya sehingga benar-benar menjadi pariah state yang dijauhi hampir semua negara di dunia. Sekutu Rusia tinggal Suriah, Eritrea, Korut, dan pariah state lainnya. Tekanan ekonomi terhadapnya akan makin berat. Narasi peperangan pun akan benar-benar berubah menjadi Russia vs the World.

Dengan demikian, eskalasi perang akan menjadi risiko bagi Rusia sendiri. Adventurisme dengan senjata nuklir akan berbalik menjadi “senjata makan tuan” yang menjadikannya terkucil dari dunia. Tentu, masih terdapat kepentingan bersama Tiongkok dan Rusia sehingga pemutusan hubungan total menjadi sulit terjadi, tetapi sikap Tiongkok yang ada sekarang memperlihatkan bahwa mereka tidak perlu beban berat untuk mengkritik partnernya sendiri. Bukan tidak mungkin Sino-Soviet split kembali terulang di abad ke-21 ini.

Dari dinamika respon terhadap ancaman penggunaan nuklir oleh Putin, terlihat bahwa doktrin nuklir hanya untuk deterrence dan tidak untuk digunakan masih bergema kuat di dunia. Memang, first use nuklir selalu menjadi pilihan yang hampir tidak dapat dijustifikasi secara moral maupun secara keamanan. Setelah Hiroshima dan Nagasaki, semoga dunia tidak pernah lagi melihat senjata nuklir digunakan terhadap umat manusia.

M. Risyad Sadzikri merupakan mahasiswa Universitas Indonesia. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @risyadsadzikri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *